StatCounter

View My Stats

Sabtu, 13 Maret 2010

Konsep dan Perencanaan dalam Automasi Perpustakaan

Konsep dan Perencanaan dalam Automasi Perpustakaan
Oleh :
Ikhwan Arif *
Pub : Darwanto S Sos
Makalah Seminar dan Workshop Sehari “ Membangun Jaringan Perpustakaan Digital dan Otomasi Perpustakaan menuju Masyarakat Berbasis Pengetahuan “ UMM 4 Oktober 2003

Pendahuluan
Penerapan Teknologi Informasi (TI) saat ini telah menyebar hampir di semua bidang tidak terkecuali di perpustakaan. Perpustakaan sebagai institusi pengelola informasi merupakan salah satu bidang penerapan teknologi informasi yang berkembang dengan pesat. Perkembangan dari penerapan teknologi informasi bisa kita lihat dari perkembangan jenis perpustakaan yang selalu berkaitan dengan dengan teknologi informasi, diawali dari perpustakaan manual, perpustakaan terautomasi, perpustakaan digital atau cyber library. Ukuran perkembangan jenis perpustakaan banyak diukur dari penerapan teknologi informasi yang digunakan dan bukan dari skala ukuran lain seperti besar gedung yang digunakan, jumlah koleksi yang tersedia maupun jumlah penggunanya. Kebutuhan akan TI sangat berhubungan dengan peran dari perpustakaan sebagai kekuatan dalam pelestarian dan penyebaran informasi ilmu pengetahuan dan kebudayaan yang berkembang seiring dengan menulis, mencetak, mendidik dan kebutuhan manusia akan informasi. Perpustakaan membagi rata informasi dengan cara mengidentifikasi, mengumpulkan, mengelola dan menyediakanya untuk umum.
Penerapan teknologi informasi di perpustakaan dapat difungsikan dalam berbagai bentuk, antara lain:
1. Penerapan teknologi informasi digunakan sebagai Sistem Informasi Manajemen Perpustakaan. Bidang pekerjaan yang dapat diintegrasikan dengan sistem informasi perpustakaan adalah pengadaan, inventarisasi, katalogisasi, sirkulasi bahan pustaka, pengelolaan anggota, statistik dan lain sebagainya. Fungsi ini sering diistilahkan sebagai bentuk Automasi Perpustakaan.
2. Penerapan teknologi informasi sebagai sarana untuk menyimpan, mendapatkan dan menyebarluaskan informasi ilmu pengetahuan dalam format digital. Bentuk penerapan TI dalam perpustakaan ini sering dikenal dengan Perpustakaan Digital.
Kedua fungsi penerapan teknologi informasi ini dapat terpisah maupun terintegrasi dalam suatu sistem informasi tergantung dari kemampuan software yang digunakan, sumber daya manusia dan infrastruktur peralatan teknologi informasi yang mendukung keduanya. Dalam makalah ini selanjutnya akan membahas tentang automasi perpustakaan.

Faktor Penggerak
• Kemudahan mendapatkan produk TI
• Harga semakin terjangkau untuk memperoleh produk TI
• Kemampuan dari teknologi informasi
• Tuntutan layanan masyarakat serba “klick”

Alasan lain
• Mengefisiensikan dan mempermudah pekerjaan dalam perpustakaan
• Memberikan layanan yang lebih baik kepada pengguna perpustakaan
• Meningkatkan citra perpustakaan
• Pengembangan infrastruktur nasional, regional dan global.

Peranan Katalog dalam Automasi Perpustakaan
Katalog adalah keterangan singkat atau wakil dari suatu dokumen. Katalog perpustakaan elektronik adalah jantung dari sebuah sistem perpustakaan yang terautomasi. Sub sistem lain seperti OPAC dan sirkulasi berinteraksi dengannya dalam menyediakan layanan automasi. Sebuah sistem katalog yang dirancang dengan baik merupakan faktor kunci keberhasilan penerapan automasi perpustakaan.



Cakupan dari Automasi Perpustakaan
• Pengadaan koleksi
• Katalogisasi, inventarisasi
• Sirkulasi, reserve, inter-library loan
• Pengelolaan penerbitan berkala
• Penyediaan katalog (OPAC)
• Pengelolaan anggota

Bagaimana mengenai Layanan Referens ?
Layanan referens tidak termasuk dalam bagian yang terintegrasi dari suatu sistem automasi perpustakaan, namun yang lebih penting adalah penyediaan teknologi informasi yang digunakan dalam layanan referens. Layanan informasi referens dikembangkan dengan menyediakan koleksi dalam bentuk digital yang dikemas dalam CD-ROM dan akses informasi ke jaringan luar (LAN, WAN, Internet)

Peran CD-ROM
• Mempercepat akses informasi multi media baik itu berupa abstrak, indeks, bahan full text, dalam bentuk digital tanpa mengadakan hubungan ke jaringan komputer.
• Media back-up / cadangan data perpustakaan dan sarana koleksi referens bagi perpustakaan lain.

Peran Internet
• Untuk mengakses infrormasi multimedia dalam resource internet.
• Sarana telekomunikasi dan distribusi informasi.
• Untuk membuat homepage, penyebarluasan katalog dan informasi.

Keperluan Pengguna
Pustakawan harus dapat melayani keperluan pengguna seperti permintaan akan akses yang lebih cepat ke informasi yang diperlukan dari dalam maupun luar perpustakaan. Dengan begitu diharapkan agar para pustakawan mahir dalam penggunaan teknologi informasi sehingga mereka dapat membantu pengguna perpustakaan dalam menemukan informasi yang diperlukan.
Apa yang harus diketahui dan dikerjakan oleh pustakawan dalam mengautomasikan perpustakaannya :
• Faham akan maksud dan ruang lingkup dan unsur dari AP
• Faham dan bisa mengapresiasi pentingnya melaksanakan analisis sistem yang menyeluruh sebelum merencanakan desain sistem
• Faham akan dan bisa mengapresiasi manfaat analisis sistem dan desain, implementasi, evaluasi dan maintenance.
• Faham akan proses evaluasi software sejalan dengan proposal sebelum menentukan sebuah sistem
• Faham akan dan bisa mengapresiasi pentingnya pelatihan untuk staf dan keterlibatan mereka dalam seluruh proses kerja

Unsu-unsur Automasi Perpustakaan
Dalam sebuah sistem automasi perpustakaan terdapat beberapa unsur atau syarat yang saling mendukung dan terkait satu dengan lainnya, unsur-unsur atau syarat tersebut adalah :

1. Pengguna (users)
Pengguna merupakan unsur utama dalam sebuah sistem automasi perpustakan. Dalam pembangunan sistem perpustakaan hendaknya selalu dikembangkan melalui konsultasi dengan pengguna-penggunanya yang meliputi pustakawan, staf yang nantinya sebagai operator atau teknisi serta para anggota perpustakaan. Apa misi organisasi tersebut? Apa kebutuhan informasi mereka ? Seberapa melek komputerkah mereka? Bagaimana sikap mereka ? Apakah pelatihan dibutuhkan? Itu adalah beberapa pertanyaan yang harus dijawab dalam mengembangkan sebuah sistem automasi perpustakaan. Automasi Perpustakaan baru bisa dikatakan baik bila memenuhi kebutuhan pengguna baik staf maupun anggota perpustakaan. Tujuan daripada sistem automasi perpustakaan adalah untuk memberikan manfaat kepada pengguna.
Konsultasikan dengan pengguna untuk menentukan kebutuhan-kebutuhan mereka. Namun perlu hati-hati terhadap penilaian keliru yang dilakukan oleh pengguna mengenai kebutuhan dan persepsi tentang apa yang bisa dan tidak bisa dilakukan oleh suatu sistem komputer . Kebutuhan dapat dirincikan terlalu banyak atau terlalu sedikit dan kadang-kadang persepsi bisa juga keliru.
Staf yang bersangkutan harus dilibatkan mulai dari tahap perencanaan dan pelaksanaan sistem. Masukan dari masing-masing staf harus dikumpulkan untuk menjamin kerjasama mereka. Tenaga-tenaga inti yang dilatih untuk menjadi operator, teknisi dan adminsitrator sistem harus diidentifikasikan dan dilatih sesuai bidang yang akan dioperasikan.

2. Perangkat Keras (Hardware)
Komputer adalah sebuah mesin yang dapat menerima dan mengolah data menjadi informasi secara cepat dan tepat. Pendapat lain mengatakan bahwa komputer hanya sebuah komponen fisik dari sebuah sistem komputer yang memerlukan program untuk menjalankannya.
Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa komputer adalah sebuah alat dimana kemampuanya sangat tergantung pada manusia yang mengoperasikan dan software yang digunakan.
Kecenderungan perkembangan komputer :
• Ukuran fisik mengecil dengan kemampuan yang lebih besar
• Harga terjangkau (murah)
• Kemampuan penyimpanan data berkapasitas tinggi
• Transfer pengiriman data yang lebih cepat dengan adanya jaringan

Dalam memilih perangkat keras yang pertama adalah menentukan staf yang bertanggung jawab atas pemilihan dan evaluasi hardware sebelum transaksi pembelian. Adanya staf yang bertanggung jawab adalah untuk mengurangi ketergantungan terhadap pihak lain dan menghindari dampak buruk yang mungkin timbul. Hal lain adalah adanya dukungan teknis serta garansi produk dari vendor penyedia komputer.
3. Perangkat Lunak (Software)
Perangkat lunak diartikan sebagai metode atau prosedur untuk mengoperasikan komputer agar sesuai dengan permintaan pemakai. Kecenderungan dari perangkat lunak sekarang mampu diaplikasikan dalam berbagai sistem operasi, mampu menjalankan lebih dari satu program dalam waktu bersamaan (multi-tasking), kemampuan mengelola data yang lebih handal, dapat dioperasikan secara bersama-sama (multi-user).
Untuk mendapatkan software kini sudah banyak tersedia baik dari luar maupun dalam negeri dengan berbagai keunggulan yang ditawarkan dan harga yang bervariasi. Di perpustakaan software yang dikenal antara lain CDS/ISIS, WINISIS yang mudah didapat dan gratis freeware dari Unesco atau dari beberapa perguruan tinggi sekarang telah banyak membuat dan mengembangakan sistem perpustakaannya sendiri seperti SIPUS 2000 di UGM, Sipisis di IPB. Masih banyak lagi perguruan tinggi dan institusi pengembang software yang mengembangkan SIP dengan kemampuan yang tidak kalah sip. Sistem Informasi Perpustakaan ini difungsikan untuk pekerjaan operasional perpustakaan, mulai dari pengadaan, katalogisasi, inventarisasi, keanggotaan, OPAC, pengelolaan terbitan berkala, sirkulasi, dan pekerjaan lain dalam lingkup operasi perpustakaan.

Kriteria Penilaian Software
Suatu software dikembangkan melalui suatu pengamatan dari suatu sistem kerja yang berjalan, untuk menilia suatu software tentu saja banyak kriteria yang harus diperhatikan. Beberapa criteria untuk menilia software adalah sebagai berikut :
• Kegunaan : fasilitas dan laporan yang ada sesuai dengan kebutuhan dan menghasilkan informasi tepat pada waktu (realtime) dan relevan untuk proses pengambilan keputusan.
• Ekonomis : biaya yang dikeluarkan sebanding untuk mengaplikasikan software sesuai dengan hasil yang didapatkan.
• Keandalan : mampu menangani operasi pekerjaan dengan frekuensi besar dan terus-menerus.
• Kapasitas : mampu menyimpan data dengan jumlah besar dengan kemampuan temu kembali yang cepat.
• Sederhana : menu-menu yang disediakan dapat dijalankan dengan mudah dan interaktif dengan pengguna
• Fleksibel : dapat diaplikasikan di beberapa jenis sistem operasi dan institusi serta maupun memiliki potensi untuk dikembangkan lebih lanjut.

Menentukan Software
• Membangun sendiri
• Mengontrakan keluar
• Membeli software jadi yang ada di pasaran
Pilihan apapun yang dijatuhkan, software harus
• Sesuai dengan keperluan
• Memiliki ijin pemakaian
• Ada dukungan teknis, pelatihan , dokumentasi yang relevan serta pemeliharaan.
• Menentukan staf yang bertanggungjawab atas pemilihan dan evaluasi software.
Memilih dan membeli perangkat lunak merupakan suatu proses tersedianya dukungan pemakai, karena diperlukan banyak pelatihan dan pemecahan masalah sebelum sistem tersebut dapat berjalan dengan baik. Salah satu cara untuk memastikan dukungan pelanggan adalah memilih perangkat lunak yang digunakan oleh sejumlah perpustakaan. Sekelompok besar pengguna biasanya menjustifikasikan layanan dukungan pelanggan sebagai hal yang subtansial. Selain itu, pengguna dapat saling membantu dalam pemecahan masalah.
Spesifikasi perangkat keras harus memenuhi kebutuhan-kebutuhan minimum operasi perangkat lunak.

4. Network / Jaringan
Jaringan komputer telah menjadi bagian dari automasi perpustakaan karena perkembangan yang terjadi di dalam teknologi informasi sendiri serta adanya kebutuhan akan pemanfaatan sumber daya bersama melalui teknologi.
Komponen perangkat keras jaringan antara lain : komputer sebagai server dan klien, Network Interface Card ( LAN Card terminal kabel (Hub), jaringan telepon atau radio, modem.
Hal yang harus diperhatikan dalam membangun jaringan komputer adalah :
• Jumlah komputer serta lingkup dari jaringan (LAN, WAN)
• Lokasi dari hardware : komputer, kabel, panel distribusi, dan sejenisnya
• Protokol komunikasi yang digunakan
• Menentukan staf yang bertanggun jawab dalam pembangunan jaringan.

5. Data
Data merupakan bahan baku informasi, dapat didefinisikan sebagai kelompok teratur simbol-simbol yang mewakili kuantitas, fakta, tindakan, benda, dan sebagainya. Data terbentuk dari karakter, dapat berupa alfabet, angka, maupun simbol khusus seperti *, $ dan /. Data disusun mulai dari bits, bytes, fields, records, file dan database.
Sistem informasi menerima masukan data dan instruksi, mengolah data tersebut sesuai instruksi, dan mengeluarkan hasilnya. Fungsi pengolahan informasi sering membutuhkan data yang telah dikumpulkan dan diolah dalam periode waktu sebelumnya, karena itu ditambahkan sebuah penyimpanan data file (data file storage) ke dalam model sistem informasi; dengan begitu, kegiatan pengolahan tersedia baik bagi data baru maupun data yang telah dikumpulkan dan disimpan sebelumnya.
Gambar 1. Model dasar sistem informasi

Data Pengolahan Informasi
Gambar 2. Model Pengembangan Sistem Informasi

Penyimpanan


Masukan Pengolahan Keluaran
Standar basis data katalog
Kerjasama antar perpustakaan secara elektronik telah berkembang seiring dengan perkembangan teknologi yang telah memungkinkan untuk itu dan didasari adanya kebutuhan untuk menggunakan sumber daya bersama. Bentuk tukar-menukar maupun penggabungan data katalog koleksi adalah suatu hal yang sudah biasa terjadi dalam perpustakaan, kerjasama dapat dilakukan jika masing-masing perpustakaan itu memiliki kesamaan dalam format penulisan data katalog data. Persoalan yang sering dihadapi dalam kerjasama tukar-menukar atau penggabungan data adalah banyaknya data yang ditulis dengan suka-suka yaitu tidak memperhatikan standar yang ada. Pekerjaan konversi data merupakan hal yang membosankan dan memakan banyak waktu. Sering data katalog dalam perpustakaan tidak menggunakan standar, hal ini banyak terjadi karena kurangnya pemahaman akan manfaat standar penulisan data. Pertemuan-pertemuan mungkin perlu sering diadakan diantara anggota-anggota jaringan perpustakaan untuk menentukan standar-standar dan prosedur-prosedur yang digunakan bersama.
Persoalan lain dalam standardisasi format penulisan data katalog adalah bahasa. Kebanyakan perpustakaan mengkoleksi materi yang menggunakan bahasa pengantar berbeda-beda. Bagaimana dengan bahasa pengantar cantuman katalog itu sendiri? Informasi judul jelas harus diisi sesuai dengan judul koleksi yang bersangkutan. Bagaimana dengan kolom subjek dan kata kunci? Haruskah diisi dengan bahasa nasional (Bahasa Indonesia untuk perpustakaan di Indonesia) atau dengan bahasa internasional (Bahasa Inggris)? Lebih jauh lagi, bagaimana kita memberi nama pada kolom-kolom isian, dengan Bahasa Indonesia (judul, pengarang, penerbit, dsb.) atau bahasa Inggris (title, author, publisher etc.)? Bagaimana dengan koleksi yang berpengantar bahasa-bahasa lain seperti Arab, China atau Korea ?

Metadata
Metada merupakan istilah baru dan bukan merupakan konsep baru di dunia pengelola informasi. Perpustakaan sudah lama menciptakan metada dalam bentuk pengkatalokan koleksi .
Definisi metadata sangat beragam ada yang mengatakan “data tentang data” atau “informasi tentang informasi”, pengertian dari beberapa definisi tersebut bahwa metadata adalah sebagai bentuk pengindentifikasian, penjelasan suatu data, atau diartikan sebagai struktur dari sebuah data. Dicontohkan metadata dari katalog buku terdiri dari : judul, pengarang, penerbit, subyek dan sebagainya. Metada yang biasa digunakan di perpustakaan adalah Marc dan Dublin Core.

INDOMARC
Machine Readable Cataloging (MARC) merupakan salah satu hasil dan juga sekaligus salah satu syarat penulisan katalog koleksi bahan pustaka perpustakaan. Standar metadata katalog perpustakaan ini dikembangkan pertama kali oleh Library of Congress, format LC MARC ternyata sangat besar manfaatnya bagi penyebaran data katalogisasi bahan pustaka ke berbagai perpustakaan di Amerika Serikat. Keberhasilan ini membuat negara lain turut mengembangkan format MARC sejenis bagi kepentingan nasionalnya masing-masing.
Format INDOMARC merupakan implementasi dari International Standard Organization (ISO) Format ISO 2719 untuk Indonesia, sebuah format untuk tukar-menukar informasi bibliografi melalui format digital atau media yang terbacakan mesin (machine-readable) lainnya. Informasi bibliografi biasanya mencakup pengarang, judul, subyek, catatan, data penerbitan dan deskripsi fisik.
Indomarc menguraikan format cantuman bibliografi yang sangat lengkap terdiri dari 700 elemen dan dapat mendeskripsikan dengan baik kebanyakan objek fisik sumber pengetahuan, seperti jenis monograf (BK), manuskrip (AM), dan terbitan berseri (SE) termasuk; Buku Pamflet, Lembar tercetak, Atlas, Skripsi, tesis dan disertasi (baik diterbitkan ataupun tidak), dan Jurnal Buku Langka.

Dublin Core
Dublin Core merupakan salah satu skema metadata yang digunakan untuk web resource description and discovery. Gagasan membuat standar baru agaknya dipengaruhi oleh rasa kurang puas dengan standar MARC yang dianggap terlalu banyak unsurnya dan beberapa istilah yang hanya dimengerti oleh pustakawan serta kurang bisa digunakan untuk sumber informasi dalam web. Elemen Dublin Core dan MARC intinya bisa saling dikonversi.
Metadata Dublin Core memiliki beberapa kekhususan sebagai berikut:
a. Memiliki deskripsi yang sangat sederhana
b. Semantik atau arti kata yang mudah dikenali secara umum.
c. Expandable memiliki potensi untuk dikembangkan lebih lanjut.

Dublin Core terdiri dari 15 unsur yaitu :
1. Title : judul dari sumber informasi
2. Creator : pencipta sumber informasi
3. Subject : pokok bahasan sumber informasi, biasanya dinyatakan dalam bentuk kata kunci atau nomor klasifikasi
4. Description : keterangan suatu isi dari sumber informasi, misalnya berupa abstrak, daftar isi atau uraian
5. Publisher : orang atau badan yang mempublikasikan sumber informasi
6. Contributor : orang atau badan yang ikut menciptakan sumber informasi
7. Date : tanggal penciptaan sumber informasi
8. Type : jenis sumber informasi, nover, laporan, peta dan sebagainya
9. Format : bentuk fisik sumber informasi, format, ukuran, durasi, sumber informasi
10. Identifier : nomor atau serangkaian angka dan huruf yang mengidentifikasian sumber informasi. Contoh URL, alamat situs
11. Source : rujukan ke sumber asal suatu sumber informasi
12. Language : bahasa yang intelektual yang digunakan sumber informasi
13. Relation : hubungan antara satu sumber informasi dengan sumber informasi lainnya.
14. Coverage : cakupan isi ditinjau dari segi geografis atau periode waktu
15. Rights : pemilik hak cipta sumber informasi

6. Manual
Manual atau biasa disebut prosedur adalah penjelasan bagaimana memasang, menyesuaikan, menjalankan suatu perangkat keras atau perangkat lunak. Prosedur merupakan aturan-aturan yang harus diikuti bilamana menggunakan perangkat keras dan perangkat lunak. Banyak peripheral perangkat keras maupun sistem tidak berjalan dengan optimal karena dokumentasi yang tidak memadai atau pengguna tidak mengerti manual yang disediakan. Manual harus dibaca dan dimengerti walau serumit apapun. Manual adalah kunci bagi kelancaran sistem.
Manual / prosedur dapat juga mencakup kebijakan-kebijakan khususnya dalam lingkungan jaringan dimana pemasukan dan pengeluaran data membutuhkan format komunikasi bersama. Pertemuan-pertemuan mungkin perlu sering diadakan diantara anggota-anggota jaringan untuk menentukan standar-standar dan prosedur-prosedur.



Tahapan Membangun Sistem AP



Tahap Hasil
Persiapan • Definisi masalah
• Maksud dan tujuan
• Kerangka kerja
• Perkiraan waktu dan biaya
Survei • Analisa kond. sumber daya
• Analisa kebutuhan
• Analisa sistem berjalan
Disain • Menyusun logika kerja sistem
• Disain data, table, database, relasi.
• Disain input, proses dan output
• Spes. peralatan yang diperlukan
Pembangunan • Pembuatan program aplikasi.
• Instalasi software, jaringan klien server
• Dokumentasi
Uji coba • Tes sistem keseluruhan
• Evaluasi, perbaikan
Training • Training : staf,operator, teknisi, administrator
• Sosialisasi
Operasional • Sistem siap digunakan.
• Bantuan teknis
• Pengembangan lebih lanjut



Kesimpulan
Unsur dan syarat automasi perpustakaan ada banyak. Biasanya, pustakawan berharap terlalu banyak dari sistem ini dan oleh karenannya merasa kecewa bilamana sistem tersebut tidak bekerja seperti yang diharapkan. Untuk memastikan adanya keberhasilan dalam automasi perpustakaan dibutuhkan kerjasama yang optimal dan berkelanjutan diantara pengguna sehingga tercipta kepuasan diantara pengguna, suatu penilain mendalam mengenai kebutuhan-kebutuhan pengguna harus dilakukan sebelum rencana detail untuk automasi dilakukan. Perlu tersedianya staf (pustakawan, operator, teknisi/administrator) yang terlatih. Seluruh anggota staf harus mengerti tentang sistem automasi perpustakaan.

Daftar Pustaka
1. Materi TOT Technologi Information & Communication oleh Unesco dan Pusnas RI di Yogyakarta 1999
2. Konsep, Desain dan Implementasi Perpustakaan Elektronik : Integrasi Perpustakaan Terotomasi dan Perpustakaan Digital Untuk Perpustakaan Nasional di Indonesia Oleh: Ismail Fahmi
3. Model Implementasi Protokol OAI dalam IndonesiaDLN dan Hubungannya dengan Digital Library di Luar Negeri oleh Rurie Muharto

----------------------------------------------------
Ikhwan Arif
iwan@lib.ugm.ac.id
Koordinator TI Perpustakaan UGM
----------------------------------------------------

Minggu, 03 Januari 2010

Ramalan Edan Dari Tahun-Ke Tahun

Ramalan Jucelino Nobrega da Luz



Jucelino Nobrega da Luz adalah orang Brasil, lahir tahun 1960, profesinya saat ini ialah guru sekolah, dan dengan istri serta kedua anaknya menjalani hidup yang sederhana, ia adalah penduduk kota yang sangat biasa.

Peristiwa yang ia ramalkan disertai tanggal, bulan, tahun kejadian bencana besar dan dilengkapi dengan petunjuk yang jelas, selain itu agar di kemudian hari jikalau terdapat pihak ketiga yang meragukan kesahihan ramalannya, Jucelino selalu mempublikasikan ramalan dengan tanggal dan peristiwa kejadian, meminta untuk disahkan biro notaris atau jawatan pos negara, sehingga memudahkan pihak lain melakukan pemeriksaan.

Ramalan Jucelino secara beruntun terbukti

Jucelino Nobrega da Luz

Apabila orang atau makna yang ditemuinya di dalam mimpi termasuk urusan pribadi, ia hanya memberitahukan kepada yang bersangkutan, tetapi jika yang bersangkutan adalah seorang kepala negara atau tokoh terkenal dan berkuasa di dalam masyarakat, selain akan berefek besar terhadap masyarakat, maka ia juga akan memberitahu pers dan media massa di negara tersebut. Perbedaan Jucelino dengan ahli ramal lainnya ialah, firasat yang ditemui dalam mimpinya akan disampaikannya secara utuh dan tanpa diseleksi, langsung kepada yang bersangkutan. Selain itu seperti yang disampaikan di atas, ia juga memberitahu kepada yang bersangkutan tentang pendokumentasian perihal ramalannya di biro notaris pemerintah, atau memperoleh bukti pengiriman dari jawatan pos negara, adakalanya ia mengirim surat yang dilampiri resi tentang suratnya atau mengirim berita singkat kepada yang bersangkutan. Oleh karena itu ia setiap hari membutuhkan biaya cukup besar untuk keperluan korespondensi firasat mimpinya. Biaya-biaya tersebut harus berasal dari penghasilan minim seorang guru yang kehidupan sehari-harinya dilakukan dengan berhemat.

Ada yang bertanya kepadanya pada umur berapa ia mulai bermimpi firasat mimpi, ia menjawab sejak usia sembilan tahun, dimulai pada tahun 1969, sehari ia terkadang bermimpi 3 hal, juga pernah bermimpi sembilan hal, setiap hari jumlah yang ia mimpikan tidak sama. Ia berkata, firasat mimpi yang ditemuinya selalu muncul dengan alami di dalam situasi mimpinya, sama sekali bukan ia sendiri yang memilihkannya. Jucelino dikala berusia 19 tahun, berjumpa dengan orang suci peramal terkenal di Brasil, Franciscoshabiz, sesudah itu bencana dan peristiwa berskala dunia secara berangsur bertambah di dalam firasat mimpi. Franciscoshabiz pernah dua kali dinominasikan sebagai peraih hadiah Nobel perdamaian, ia adalah ahli supra natural tersohor, juga adalah seorang dermawan. Oleh karena hubungan sebab akibat ini, kejadian yang diramal Jucelino sudah melebihi 80.000 kasus, mari kita simak dari firasat mimpinya beberapa ramalan pilihan bersif at internasional dan bencana berskala besar yang sudah terjadi, agar kita bersama-sama kilas balik dengan peristiwa di bawah ini:

Peristiwa terbunuhnya Putri Diana

Tanggal 4 Maret 1997, surat peringatan yang dikirim via pos kepada Lady Diana, “Saya menerima info dari Tuhan, ada orang berniat jahat merencanakan skenario kecelakaan mobil terhadap anda, jiwa anda juga bisa mengalami bahaya, tujuh malaikat mengatakannya demikian kepada saya. Kemungkinan anda akan tewas di dalam kecelakaan mobil kali ini, namun para pakar barangkali bisa menganggapnya sebagai human error saat berkendara dan mengurusinya sebagai kejadian kecelakaan, akan tetapi mereka salah sama sekali. Pembunuhnya ada di dekat anda?..peristiwa pembunuhan ini kemungkinan terjadi sebelum tibanya tahun 2000.”

Jucelino juga pernah mengirimkan surat peringatan tersebut per pos kepada tiga media cetak besar Inggris yakni Times, Daily Telegraph dan Guardian, tetapi hingga hari ini tidak pernah diberitakan. Peristiwa kecelakaan mobil terjadi setelah lima bulan sejak terkirimnya surat peringatan yakni tanggal 31 Agustus 1997, persis seperti uraian ramalan bahwa pada akhirnya diselesaikan dengan sembrono sebagai human error dalam berkendara.

Di dalam ramalan dicatat bahwa peristiwa itu bisa terjadi sebelum tahun 2000, meskipun tidak terdapat tanggal, bulan dan tahun yang pasti, tetapi dua tahun sebelum ramalan, di dalam surat yang dikirim Jucelino kepada presiden Brasil ketika itu Fernando Henrique Silva Cardoso, disebutkan (surat ini dibubuhi stempel biro notaris) bahwa, “Tahun 1997 sampai 1998 Lady Diana bisa tewas?.”

Dua kali serangan terhadap WTC, kali kedua adalah kejadian teror 911

Tahun 1989, sebuah surat peringatan dikirim kepada presiden Amerika dan kedutaan Inggris, surat tersebut tertanggal 26 Oktober 1989 per pos dan tercatat di kantor notaris Klicheeba di kota Palana.

Di dalam surat tersebut juga diramalkan bahwa tahun 1993 untuk kali pertama WTC bakal diserang, meskipun tidak dinujum tanggal serangan, namun serangan kedua kalinya dengan sangat jelas disebutkan pada tanggal 11 September 2001. Mengenai hasil dari surat peringatan tersebut, telah anda ketahui. Serangan pertama WTC terjadi tiga setengah tahun sesudah surat peringatan diterima yakni tanggal 26 Februari 1993, suatu kasus peledakan areal parkir yang menimbulkan korban tewas dan terluka, sedangkan serangan kedua terjadi pada 12 tahun kemudian yakni 11 September 2001, ” Kasus serangan 911 dilakukan serentak oleh banyak teroris” yang tela h menggemparkan dunia.

Yang membuat orang terkejut dan terheran-heran ialah di dalam surat peringatan/ramalann ya itu juga tercatat: sesudah serangan kedua terhadap WTC, meletus perang Afghanistan dan Irak, setelah Irak terkalahkan, presiden Saddam Hussein melarikan diri dan bersembunyi di wilayah Irak tengah di kota Ad Dawr dan lain sebagainya, juga diramal dengan terperinci, peristiwa yang para pembaca sudah ketahui semua, di dalam surat ramalan tersebut kejadian yang diramalkan satu per satu telah terjadi.

Surat peringatan itu juga dikirim per pos kepada ayah presiden sekarang George Bush, kala itu si Bush tua, surat peringatan ramalan per tahun 1989 tersebut ditulis 9 tahun kemudian pada tanggal 28 Oktober tahun 1998 dan dikirim ulang kepada presiden Clinton, di dalam surat tersebut disampaikan: “Jucelino sangat mengkawatirkan bencana yang dulu telah dilihatnya di dalam mimpi, itu adalah kaum teroris melancarkan serangan terhadap pulau Manhattan, gedung jangkung dikepung oleh api raksasa yang datang dari langit. Mungkin saja ada orang mengira bahwa ini sedang berkelakar dan tidak menganggapnya serius, akan tetapi mutlak bukan lelucon, oleh karena itu saya mengirim surat kepada media utama Amerika, berharap mereka bisa mempublikasikan surat peringatan ramalan saya.”

Seperti dijelaskan di depan, peristiwa besar semacam itu bisa berdampak kepada masyarakat, Jucelino biasanya mempublikasikannya sebelum kejadian, ia tida k saja menghubungi yang bersangkutan, bahkan isi yang sama, ia kirim bersamaan ke media massa dan sebagainya. Namun sampai dengan sekarang, nyaris tak ada perusahaan media massa yang mau menerima permintaannya untuk menyiarkan kepada khalayak. Demikian pula agen berita Miami Herald yang persis menerima surat peringatan itu membalas surat singkat kepada Jucelino dengan isi :

“Di dalam surat anda yang dikirim kepada kami per tanggal 26 Oktober 1989, diramalkan bahwa gedung WTC pada tanggal 11 September 2001 akan mengalami serangan kaum teroris, terhadap ramalan ini agen berita kami memberikan apresiasi. Selain itu anda juga di dalam surat tersebut meramalkan Amerika bisa terjadi 2 kali perang, akhirnya bisa bertempur melawan Irak, juga Saddam melarikan diri, serta tentang ia lari dan bersembunyi di Ad Dawr, Irak tengah dan lain berita detail lainnya telah dengan rinci diramalkan. Sayang sekali kami tidak bisa mempublikasikan isi berita seperti itu, karena kami khawatir bisa menimbulkan kepanikan di kalangan masyarakat?”

Mengenai lokasi persembunyian Saddam, sesudah peristiwa terjadi pada tanggal 13 September 2001, pos yang disampaikan kepada presiden Amerika George Bush dengan sangat detail diceritakan tentang “lokasi persembunyian Saddam, di sebelah luarnya terdapat sebuah poster tentang bahtera nabi Nuh, di tepi sungai Tigris terdapat sebuah lobang, di atasnya ditutupi dengan papan kayu dan karpet imitasi, aksesnya dikamuflasekan dengan batu bata, tanah dan sampah.”

Kemudian sesudah membaca berita baru mengetahui bahwa ramalan Jucelino betul-betul sangat tepat, ramalan yang pada realitanya membuat orang sangat tercengang itu masih terus berkelanjutan. Tentang Saddam pasca penangkapan dari pemberitaan pers kita ketahui bahwa sesudah dinyatakan bersalah dan divonis hukuman mati dan dieksekusi pada tanggal 30 Desember 2006 lalu. Sesudah itu terjadi pertentangan sengit antar kelompok Sunni dan Syiah di negeri Irak, bisa sewaktu-waktu mengakibatkan situasi perang saudara, setiap pagi dan malam hari banyak korban tewas warga sipil tak berdosa telah berjatuhan.

Namun vonis mati Saddam seperti ini dan Irak pasca Saddam dipenuhi kekalutan di dalam negeri, berkaita n dengan ramalan Jucelino ini, tanggal 29 Mei 2006 lalu telah dikirim kali ketiga kepada Radio Pass FM Indonesia yang berada di Jakarta, isi seluruhnya cocok, sebagai berikut :

“Menurut pengadilan Irak, Saddam di vonis bersalah, dan kemungkinan dieksekusi mati pada tanggal 30 Desember 2006. Dengan demikian seluruh negeri Irak akan terjadi pertikaian, dan akan terjadi banyak korban jiwa.” Selain itu, sering kali firasat mimpi tepat ditunjukkan kepada Jucelino, membiarkan dia di dalam alam mimpi melihat tokoh dari musibah dan bencana dunia, dari sini bisa diketahui bahwasanya ia bukan “manusia biasa”, ia pasti memiliki kekuatan meneropong masa depan dan kemampuan meramal yang menakjubkan.

Gempa besar di laut Sumatera

Surat peringatan terawal yang dikirim ialah 8 tahun sebelum terjadi Tsunami di Aceh tahun 2004, tepatnya pada tanggal 16 September 1996 lalu, dikirim per pos kepada duta besar India di Brasilia, ibu kota Brasil. Di dalam surat tersebut diramalkan bahwa tanggal 26 Desember 2004 pagi hari di propinsi Aceh, Indonesia bakal terjadi gempa bumi 8,9 skala Richter, Indonesia dan India diterjang Tsunami setinggi 10 meter itu. Surat peringatan kepada presiden Indonesia Soeharto dikirim per tanggal 30 April 1997, isi surat tersebut: “Saya di dalam mimpi melihat tanggal 26 Desember 2004 pagi hari jam 7, Asia Selatan bakal diguncang oleh 8.9 skala richter gempa besar, bersamaan dengan itu juga bisa terjadi tsunami setinggi 10 meter, area penyebarannya dimulai dari propinsi Aceh, Indonesia, India, Malaysia, Sri Langka, Thailand, Maldivas, Bangladesh dan sebagainya bahkan mencapai hingga Mauritius. Dan bakal ada 100.000 jiwa terenggut?”

Alhasil, gempa bumi sesuai ramalan di dalam surat peringatan tersebut terjadi pada pagi hari jam 7.58 tanggal 26 Desember 2004, angka tewas melebihi 200. 000 orang, gelombang tsunami tertinggi mencapai 30 meter, ada banyak sekali orang raib ditelan tsunami yang menerjang pantai. Para kedubes seperti Indonesia , Filipina , Thailand dan lain-lain, juga telah menerima surat yang sama, surat resmi ters ebut semuanya terlampiri stempel jawatan pos terkait. Selain itu Jucelino juga menerima surat ucapan terima kasih dari berbagai kedubes atau pejabat sekretariat kepresidenan negara bersangkutan.

Surat ucapan terima kasih dari kantor kepresidenan berisi keluhan sebagai berikut: “Mengenai gempa bumi dan tsunami jikalau sampai terjadi pada tahun 2004, demi menghindari terjadinya bencana yang mengerikan ini, ada banyak hal terpaksa harus kami lakukan, namun kami juga merasa tak berdaya.” Selain itu, isi surat balasan sederhana berasal kedubes Indonesia : “?.kami ak an menyampaikan isi surat anda kepada negara kami, apabila ada berita lain yang hendak disusulkan, jangan ragu-ragu menyampaikan. “

Dari situ bisa diketahui, 8 tahun sebelum bencana terjadi, Jucelino sudah meramalkan bakal ada gempa bumi super-besar dan tsunami besar melanda kawasan Asia Selatan dengan korban tewas melebihi 100.000 orang, dari dalam surat peringatan tersebut dengan rinci kami dapat mengetahui bahwa Jucelino juga secara parsial mengirim surat resmi pemberitahuan dengan detail tentang tahun, bulan, tanggal dan waktu kejadian, kepada negara-negara yang bakal tertimpa bencana, namun pada kenyataannya tiada langkah-langkah pencegahan efektif apapun yang dilakukan.

Peramal jitu Jucelino Nobrega da Luz adalah orang Brasil, pada 2 edisi terdahulu telah membabarkan ketepatan ramalannya . Minggu ini kita akan menyajikan ramalan masa depan.

Tahun 2008

* Obat penangkal penyakit AIDS dan Dengue berhasil ditemukan.
* Tanggal 18 Juli bakal terjadi gempa bumi besar di Filipina, akan terdapat ribuan korban tewas.
* Empire State Building , New York , pada bulan September bakal mengalami peristiwa teror.
* Pada tanggal 13 September akan terjadi gempa besar 9,1 skala richter di Tiongkok, sumber gempa di Nanning dan pulau Hainan, bersamaan itu bakal terjadi tsunami besar setinggi 30 meter lebih, menimbulkan jutaan korban tewas. Tsunami tersebut sangat mungkin menyapu Jepang pula.

Tahun 2009

* Tanggal 25 Januari bakal terjadi gempa bumi besar ber-skala richter 8,9 menyerang Osaka dan Kobe , Jepang, dikuatirkan korban tewas mencapai beberapa puluh ribu orang.
* Bulan November di Jepang terjadi lagi gempa bumi besar, bakal ada ribuan orang tewas.
* Pemerintah Brazil dikarenakan krisis ekonomi dan tidak mampu menerbitkan dana asu-ransi dan pensiun, sehingga rakyat di ibu kota dan penjara memberontak.
* Tanggal 24 Agustus Istambul, Turki, bakal terjadi gempa bumi besar berskala Richter 8,9, jalanan banyak yang retak dan patah.
* Tanggal 16 Desember di wilayah timur Sumatra , Indonesia , bakal terjadi 7,8 skala Richter gempa bumi, ribuan orang tewas.

Tahun 2010

* Temperatur beberapa negara Afrika kemungkinan besar meningkat hingga 58? Celcius, bersamaan itu terjadi kekurangan air bersih yang parah.
* Tanggal 15 Juni pasar saham di New York bakal runtuh, ekonomi dunia akan memasuki kondisi krisis
* Suhu di Afrika bisa mencapai 58? Celcius, angka yang pada awal mendengar seolah-olah sulit dipercaya, namun pada kenyata-annya pada awal bulan Mei 2007, menurut info para pelancong yang pergi ke sekitar wilayah Afrika, temperatur di Yunani dan Turki sudah mencapai 39? hingga 40? Celcius, sedangkan ibu kota utama Irak dan jazirah Arab temperatur tingginya berta-han di suhu 45? ? 46? Celcius, pada musim panas suhu tertinggi dimungkinkan terjadi. Suhu awal Mei saja sudah sedemikian tinggi, bisa dibayangkan pada tahun 2010 kelak pemanasan global bakal semakin parah, temperatur di banyak negara Afrika sangat dimungkinkan mencetak rekor tertinggi yang susah dibayangkan.

Tahun 2011

* Penelitian metode penyembuhan penyakit kanker berhasil dengan sukses, akan tetapi jenis penyakit baru lainnya bakal muncul.
* Wabah beracun yang mematikan bakal muncul, dinamakan ALS (red.: terjemahan harfiah, belum tentu akurat) yang menyebabkan kehilangan kekebalan tubuh, apabila terjangkit penyakit tersebut dalam tempo 4 jam bakal meninggal.
* Flu burung jenis H5NI mulai resmi menyerang umat manusia, hingga tahun 2013 terdapat sekitar 73.000.000 orang tewas karena virus ini.

Ciri khas ramalan Jucelino tidak saja meramalkan penyakit menular dan terjadinya gempa, bahkan penyakit yang belum terjadi dan nama dari gempapun bisa diramal, misalnya judul buku karangan Al Gore, mantan wakil presiden AS, berjudul An Inconvenient Truth, angin puting beliung menyapu ibu kota Brazil, Rio de Janeiro menimbulkan ri-buan korban tewas, ALS sebutan untuk penyakit menular yang muncul pada tahun 2011, gempa bumi besar dari San Francisco, AS, tahun 2006 dinamakan The Big One dan lain-lain contoh tipikal.

Tahun 2012

* Oleh karena perluasan area kebakaran ladang sewaktu musim kekeringan, gurunisasi dimulai, antara tahun 2015 – 2020 rimba belantara Amazon bakal lenyap.
* Mulai 6 Desember langit berubah memasuki jaman awan hitam, disebut sebagai kabut pekat karena cuaca.
* Oleh karena tersebar luasnya penyakit menular umat manusia mulai punah.

Tahun 2013

* Penelitian untuk metode penyembuhan penyakit kanker selain tumor otak dinyatakan berhasil.
* Pulau Bahama dari kepulauan Hindia barat (gugus kepulauan dekat Karibia), antara tanggal 1 -25 November dikarenakan letus-an gunung berapi terjadi gempa bumi, sesudah itu juga bakal terjadi tsunami super raksasa seting-gi 150 meter, gelombang tsunami setinggi kira-kira 80 meter akan menyapu lautan Karibia, daratan AS, Brazil dan lain-lain juga bakal diterjang masuk jauh ke daratan hingga 15 – 20 km. Sebelum tsunami terjadi, air laut akan surut sedalam 6 meter, sejumlah besar penyu juga akan mulai bergerak.

Diramalkan oleh Jucelino di saat anjing dan kucing mengetahui akan ada bencana besar menimpa, mereka tentu akan melarikan diri dari tempat tinggalnya, 24 jam sebelum meninggalkan lokasi mereka akan menunjukkan tanda-tanda gerakan tak lazim, maka itu kita bisa berdasarkan hal tersebut menjadikannya sebagai standar pengamatan.

Tahun 2014

Planet kecil perlahan-lahan mendekati bumi dan ada kemungkinan bertubrukan dengan bumi, eksistensi planet kecil ini mempengaruhi permasalahan tentang timbul tenggelamnya umat manusia di bumi.

Tahun 2015

Pertengahan November suhu rata-rata dunia kemungkinan mencapai 59? Celcius, ada banyak orang mati kepanasan, dengan demikian kekalutan besar dunia semakin parah saja.

Tahun 2016

* Pertengahan bulan April terjadi serangan taifun, ada ibu kota di Tiongkok mengalami kerusakan, sekitar 1.000 orang tewas.
* Presiden AS saat ini George W. Bush bakal masuk ruang gawat darurat RS, jiwanya di ambang kematian.

Tahun 2018

Mengenai masalah pendekatan planet kecil ke bumi, para pemimpin berbagai pemerintah-an dunia berkumpul mengadakan rapat penanggulangannya. Juce-lino pada tahun 2000 sudah me-ramalkan, selain itu juga memberitahu keberadaan planet kecil itu kepada NASA, pada tanggal 31 Juni 2002 sebagian kecil petinggi NASA menamakan planet kecil tersebut “2002NZT7″.

Tahun 2019

* Kemungkinan besar solusi dari hasil penelitian bakal menggunakan kekuatan ilmiah, akan tetapi apabila bumi bertabrakan dengannya, maka bisa mengakibatkan 1/3 penduduk dunia musnah. Jucelino meramalkan kemungkinan planet kecil menubruk bumi sebesar 60%.
* Wilayah laut timur Jepang bakal terjadi gempa bumi super besar yang masih lebih hebat daripada gempa bumi besar yang pernah terjadi di lautan Sumatera , Indonesia .

Tahun 2025

* Para pakar klimatologi menemukan kembali planet kecil, ternyata sangat mungkin berta-brakan kembali dengan bumi, kemungkinan bertubrukan mencapai 80%.

Tahun 2026

* Terjadi gempa super besar di San Francisco pada bulan Juni, disebut sebagai “The Big One”, patahan besar San Andreas Fault bisa rusak, negara bagian California bisa hancur, banyak kawah gunung berapi bakal terbuka kembali, ketinggian tsunami juga bisa melebihi 150 meter.

Dari ramalan peringatan untuk masa depan, selain ramalan seperti tersebut di atas, masih ada ramalan yang lebih mengejutkan orang, ramalan terakhir yang bisa disampaikan Jucelino adalah hingga tahun 2043

Tahun 2043

Penduduk dunia berkurang secara drastis, terdapat sekitar 80% penduduk tewas di dalam bencana.

Pesta olahraga Olimpiade dunia dilangsungkan di Beijing apakah bakal berjalan dengan lancar?
Seperti dikisahkan di depan, tahun 2008 akan terjadi gempa bumi besar 9,1 skala richter menimbulkan jutaan korban tewas di Tiongkok, menurut ramalan Jucelino, tanggal terjadinya gempa ialah 13 September, sedangkan tanggal berlangsungnya Olimpiade ialah 8 – 24 Agustus, ditilik dari jadwal tersebut, sesudah Olimpiade usai baru terjadi gempa bumi. Tetapi yang dikuatirkan ialah sebelum terjadi gempa besar tersebut, gempa-gempa kecil bakal terjadi berulangkali (pada bulan mei 98 ini juga terjadi gempa yang cukup dahsyat di China ), yang juga bakal membuat negara dan rakyat memasuki era tidak tenang.

Meskipun Jucelino tidak dengan jelas memastikan tepat kapan terjadinya, namun jika dia-sumsikan dengan 1 hingga 2 bulan, sangat mungkin terjadi sewaktu berlangsungnya Olimpiade, kalau memang demikian bisa membuat kepercayaan penyelenggara dan atlet peserta menjadi goyah. Sewaktu penulis membaca sepotong ramalan Jucelino, di dalam benak sekejap teringat akan pesan Mr. John Titoer (terjemahan harfiah, belum akurat) bahwa “Olimpiade Athena pada tahun 2004 adalah yang terakhir.

Akan tetapi, pusat gempa sesuai ramalan apabila terjadi di Nanning dan sekitar pulau Hai-nan, pulau terujung di Tiongkok, sedangkan di sekeliling kedua tempat tersebut asalkan tidak dibangun arena pertandingan, maka Olimpiade dunia bakal ditutup dengan sukses. Namun letak persoalannya ialah pemerintah PKC (Partai Komunis China ) hanya mementingkan jaga muka, dengan hanya memprioritaskan keberhasilan Olimpiade lantas mengabaikan gempa awal yang semakin kerap, kemungkinan tia-danya antisipasi terhadapnya sa-ngat tinggi. Pemerintah PKC barangkali bakal menyesuaikan si-kon akan membatasi pemberitaan, memblokir berita kejadian gempa awal yang diramalkan terhadap pers dalam dan luar negeri, tindakan semacam itu mutlak bakal membuat bencana seperti yang diramalkan bertambah parah. Di dalam surat peringatan Jucelino dikatakan: “Jikalau tidak dilakukan proteksi yang baik terhadap masyarakat sipil, bisa membawa kerugian sangat parah.”

Ramalan Jucelino juga menyebutkan kedatangan jaman es

Ia juga meramalkan dengan tepat tentang anomali cuaca, salah satunya, pada tahun 2003 terjadi suhu panas di Eropa, di dalam surat peringatan tanggal 29 Oktober 2001 Jucelino meramalkan: “Alam akan menyerang balik bumi, kenaikan temperatur di Perancis, Jerman dan Portugal menimbulkan puluhan ribu korban tewas, bencana ini bisa terjadi pada tahun 2003 dan 2004.” Realitanya, suhu musim panas di Eropa pada tahun 2003 mencapai puncaknya, terdapat sekitar 35 ribu orang mati kepanasan. Diantaranya di Perancis dan Jerman yang paling hebat, korban tewas di Perancis sebanyak 14.000 jiwa, di Jerman sekitar 7.000 orang.

Disimak dari ramalan Jucelino, pemanasan global semakin lama semakin naik, sampai tahun 2012 suhu di negara Afrika barangkali bisa mencapai 58? Celcius yang meresahkan orang, bersamaan dengan itu juga bisa terjadi kekurangan air yang parah, sesudah itu suhu juga akan sema-kin naik, hingga tahun 2015 suhu rata-rata bumi bisa mencapai 59? Celcius, banyak orang akan mati kepanasan, ketakutan besar umat manusia akan semakin menggl-bal. Apabila betul-betul terjadi seperti itu, tentu saja bisa berakibat kekeringan dan kekurangan pasokan pangan dan menimbulkan ketegangan antar negara, Ju-celino juga meramalkan tahun 2011 bisa jadi kekurangan air maka menimbulkan meletusnya perang baru, tentang perang ini ia tidak meramalkan secara rinci, namun dirasakan itu bukannya perang perbatasan yang sederhana.

Bagaimanapun gejala pemanasan yang terjadi sekarang ini bukannya seperti yang dianggap para pakar cuaca bahwa “kecepatan pemanasan sangat lamban”, melainkan melonjak dengan drastis. Akan tetapi pemanasan seolah-olah juga mutlak tidak berlangsung terus menerus, sesudah pemanasan global, telah menanti gejala berbalik menjadi ekstrim dingin. Asalkan suhu bumi sedemikian meningkat drastis, pulau Greenland dan kutub selatan akan ada es dalam jumlah cukup besar yang meleleh, hal mutlak yang tak dapat dihindari, alhasil sirkulasi besar samudra menjadi lemah sehingga berubah menjadi efek pendinginan, meluncur secepat kilat, yang me-nandakan akan terjadi sebuah kelahiran jaman es baru. Dalam ramalan Jucelino sepertinya juga dibuktikan bahwa pada tahun 2027 sesudah terjadi keadaan pendinginan global, masih lagi akan menghadapi sebuah jaman es yang baru. Isi detail ramalan tersebut :

“Gunung berapi Yellow Stone Park di Amerika mulai meletus, oleh karena semburan api begitu besar sehingga menga-kibatkan lahar dan asap akan meluas ke segala penjuru hingga sejauh 1.600 km, seperti Kansas, Nebraska dan Montana dan lain sebagainya, bakal mengalami bencana besar, sesudah gunung api ini meletus bisa terlahir lagi jaman es baru. Letusan gunung berapi bukan hanya terjadi di Yellow Stone Park , di seluruh tempat di dunia bisa juga terjadi, oleh karena semburan asap telah menutupi matahari, lebih-lebih lagi arus sirkulasi besar dari samudera terhenti maka telah merangsang pembentukan gejala pendinginan global.

Al Gore memperoleh hadiah nobel perdamaian

Seperti telah anda ketahui, mantan wapres AS, Al Gore berupaya terhadap penelitian per-masalahan pemanasan global, karangannya yang terkenal yakni “An Inconvenience Truth” telah dibuatkan filmnya, malah juga telah memperoleh hadiah Oscar, sehingga banyak orang menyambut dengan getir permasalahan pemanasan global Al Gore yang dipindahkan ke layar perak. Sesungguhnya pada 19 tahun yang lalu, yakni pada tahun 1988, Jucelino sudah meramalnya, berita itu dimuat di majalah Moon edisi 6, akhir bulan Mei sebelum dipublikasikan, kepala editor penelitian sewaktu memberitahu penulis, saya juga merasa terkejut sampai tercengang sejenak.

Menurut surat ramalan kepada Al Gore yang kala itu menjabat anggota kongres yang dikirim per pos pada tahun 1988 oleh Jucelino sudah diinfokan kepada Al Gore, dari tahun 1993 – 2001 ia bakal menjabat wapres pemerintahan Clinton, kelak akan berusaha dengan gigih terhadap kegiatan yang melindungi lingkungan hidup di bumi, selain itu juga bakal tersohor dengan buku karangannya berjudul “An Inconvenience Truth”, dalam surat yang ditulis dalam bahasa Inggris itu, Jucelino juga menyebut dengan tepat judul bukunya. Selain itu di dalam surat ramalan tersebut juga diberitahukan kegiatan Al Gore tersebut bakal diakui dan berhasil memperoleh hadiah Nobel perdamaian tahun 2007. Kemampuan ramalan Jucelino tidak bisa kita sangkal.

Waktu yan g diberikan kepada umat manusia tidak tersisa banyak, mulai Desember 2007, awan hitam bakal menyebar keseluruh pelosok dunia

Ramalan Jucelino, andaikata umat manusia kita masih mempertahankan keadaan seperti sekarang ini, umat manusia dari tahun 2008 – 2012 bakal menjalani hari-hari penuh ketakutan, pertanda awal sebelum bencana terjadi, langit di seluruh dunia akan diselimuti dengan “awan hitam”. Selalu merasakan bencana demi bencana besar yang akan disongsong oleh dunia di masa depan, termasuk pergerakan cuaca dan meletusnya perang, bencana diupayakan menjadi 0, apabila masih saja terjadi, juga apabila mengubah cakupannya menjadi kecil, akhir tahun 2007 adalah batas paling akhir umat manusia mulai mendusin. Jucelino mendambakan akhir tahun 2007 di dunia bakal terjadi “perubahan kesadaran” yang besar.

Parahnya situasi telah begitu mendesak, tapi jikalau kita umat manusia masih saja berkeras kepala mempertahankan ketidakpedulian dan mati rasa, Jucelino memperingatkan kepada umat manusia tentang ramalan masa depan yang gelap, seakan-akan sudah bakal terjadi secara terus menerus. Kita setiap orang harus sadar, lebih-lebih harus menya-dari sikonnya yang begitu parah, entah secara pribadi, kelompok, tingkatan negara, menjaga pos kerja masing-masing, bertindak dengan gerakan nyata, karena batas terakhir bakal tiba.

“Tanpa tenaga” dan “minim tenaga” mutlak tak bisa disamakan, makna tanpa tenaga ialah tak peduli menggalang berapa banyak orangpun tak akan terbentuk tenaga, sedangka n minim tenaga, bila jumlah orang yang dikumpulkan semakin banyak, maka tenaganya bisa berubah semakin perkasa. Misalkan saja dimulai dari diri sendiri masing-masing orang, meskipun tenaga seseorang lemah, namun kita bisa mempengaruhi beberapa juta bahkan puluh juta orang, menentukan sebuah kekuatan perkasa yang bisa dibentuk untuk mengubah bencana besar pada masa depan.

Rabu, 30 September 2009

PERPUSTAKAAN DIGITAL SEBAGAI SOLUSI KETERBATASAN AKSES INFORMASI

Oleh : Agungpurno
Posting Oleh : Darwanto S Sos

Bismillahirrokhmanirrochim

A. LATAR BELAKANG

Jum’at itu tepatnya pada jam 10.15 Prof. Tompul mengakhiri sesi presentasi perkuliahan fisiologi tumbuhan. Seperti biasa, beliau memberikan “oleh-oleh” kepada mahasiswa. Paper dengan topik yang telah ditentukan dibagi sesuai kelompok. Nadia bersama rekan kelompok harus dapat menyelesaikan dalam 1 minggu. Ternyata bukan cuma MK (mata kuliah) fisiologi saja yang membebankan tugas kepada Nadia dan teman-temannya. Setidaknya sudah 4 MK yang telah memberikan tugas paper kepada Nadia dan teman. Itupun belum termasuk 7 laporan praktikum yang mesti dikerjakan setiap minggu (kasus 1). Nadia CS segera bergegas menuju perpustakaan jurusan setelah mendapatkan tugas tersebut. Setelah Nadia agak jenuh melihat hamparan buku di dalam 1 ruang, Nadia mengamati orang disekitarnya. Ternyata teman-temannya sekelas juga melakukan kesibukan mencari buku. Seperti biasanya, Nadia CS harus meluangkan waktu banyak untuk mencari buku demi buku dan membuka halaman demi halaman. Ini semua demi teks yang sesuai dengan topik tugas dari pak Tompul. Sialnya, sudah hampir 3 jam Nadia CS masih belum mendapatkan referensi yang cukup untuk menyelesaikan tugas dari pak Tompul (kasus 2). Peristiwa ini sangat mirip dengan ratusan hari kemarin selama beberapa bulan sebelumnya. Nadia CS telah memastikan mereka detik itu harus keluar dari perpus jurusan dan bergegas menuju perpustakaan pusat di jantung kampus UB. Nadia CS dalam 5 menit telah sampai di penitipan barang perpus UB. Setibanya, salah satu dari teman nadia langsung memencet tombol-tombol di keyboard komputer perpus pusat. Dia ingin memastikan dimana lokasi buku yang mereka buru. Alhamdulillah, katalog buku di komputer perpus mencatat 2 judul buku yang sesuai dengan topik. Seketika itu mereka berhamburan menuju rak buku. Alamak, lagi-lagi mereka tidak memperoleh teks yang mereka harapkan. Ternyata buku yang mereka cari tidak ada. Dengan tetap menjaga perasaan harap, mereka menuju rak tumpukan buku sementara. Rak ini khusus menampung buku-buku dengan traffick tinggi yang sering dipinjam mahasiswa. Seperti dugaan sebelumnya, 2 buku memang sudah dipinjam. Selang ½ jam berikutnya, sekali lagi mereka harus kecewa untuk yang kesekian kali (kasus 3).Nadia CS dengan berat hati akhirnya memutuskan untuk menunda mengerjakan tugas pak Tompul. Mereka menggunakan jurus dari kakak-kakak kelas, jurus “wait n see“. Jurus ini mempunyai 2 kaidah berbunyi. Kaidah ke-1 berbunyi, “ngapain mencari sendiri tinjauan pustaka, nyontek aja dari teman”. Kaidah ke-2 berbunyi, “Tunggu 1-2 sebelum deadline, pasti ada yang udah ngerjain”. Satu hari sebelum deadline tugas diserakan, Nadia CS berburu contekan dari teman-teman berduit yaitu teman-teman yang berkecukupan membeli buku-buku sesuai MK yang diambil. Dengan jurus Wait n see, Nadia CS tidak perlu menggunakan kesadaran dan otak dalam proses pengerjaan tugas. Mereka cukup menduplikasi dan copy paste karya teman-temannya (kasus 4). Alhasil, mereka bisa menyerahkan tugas tepat waktu. Sayangnya, mereka tidak memahami apa “isi” dari tugas mereka. Ketika waktu berlalu dan semester berjalan, mereka tidak mengingat pengetahuan hingga level “apapun” dari tugas. Percaya atau tidak percaya, peristiwa ini telah terjadi dan dialami ratusan hingga ribuan mahasiswa UB. Bukan cuma 1-2 generasi, bahkan dialami lintas generasi dan lintas jurusan.Nadia dan teman-temannya dalam hati sering mengeluh. Sebenarnya bagi mereka tidak merasa malas untuk mengerjakan tugas-tugas dari kuliah maupun praktikum. Mereka pun tidak menginginkan menyontek dari teman. Mereka ingin benar-benar mendapatkan pengetahuan seoptimal mungkin dari kampus. Kondisi dan situasi memaksa mereka untuk melakukan jalan pintas dengan menyontek tugas. Nadia CS bukanlah satu-satunya mahasiswa di UB yang mengalami hambatan akses buku. Ratusan bahkan ribuan mahasiswa UB diluar sana mengalami kesedihan ketidak tersediaan fasilitas referensi representatif. Saya pernah mengalami semester berat pada 3 tahun awal perkuliahan terutama semester 3. Bagi mereka yang mengambil 24 SKS dengan 8 praktikum dalam 1 semester, semester itu adalah semester yang berat dan sarat perjuangan.

B. PERMASALAHAN

Dari ilustrasi cerita diatas, kita mengidentifikasi beberapa permasalahan pada perpustakaan UB yaitu :

1. Tugas yang banyak membutuhkan ketersediaan referensi yang representatif dan proporsional (kasus 1).
2. Kebutuhan referensi tinggi tetapi ketersediaan akses referensi terbatas dan kurang proporsional bila dibandingkan dengan kuantitas mahasiswa UB (kasus 2 & 3 ).
3. Keterbatasan akses referensi menyebabkan kekecewaan yang berujung kemalasan mengerjakan tugas (kasus 4).

Apabila diuraikan lagi lebih detail akan diperoleh beberapa sub permasalahan dari ke-3 rumusan masalah diatas yaitu :

1. Banyak buku menumpuk di rak sementara yang tidak berada di rak asal.
2. Sistem informasi perpustakaan UB tidak menyediakan informasi kondisi buku ready stock/ in inventory/ tersedia atau out/ borrow/ keluar.



C. SOLUSI

Saya akan berusaha menawarkan alternatif solusi untuk mengatasi permasalahan berdasarkan ilustrasi cerita diatas. Solusi yang ditawarkan adalah penerapan Perpustakaan Digital (Digital Library) atau PD. Kita harus mengakui dengan jujur bahwa perpustakaan pusat UB sudah mulai “mengarah” ke arah perpus digital. Bagi saya perpus pusat UB belum dapat 100% dikategorikan perpustakaan digital karena belum memenuhi kriteria perpus digital. Perpustakaan digital mereposisi peran faktor where, when, who dan how. Perpustakaan digital setidaknya memiliki beberapa karakteristik, yaitu :

1. Tidak butuh kertas dan tinta

Perpustakaan konvensional (PK) mewajibkan penggunaan media kertas dan tinta untuk menyimpan informasi. Atau dengan kata lain tanpa kertas dan tinta, informasi tidak dapat disimpan dan digunakan pada saat dibutuhkan. Ini berbeda dengan PD. PD dikerjakan untuk mengoptimalkan kemampuan teknologi menyimpan informasi dalam bahasa biner. Kita tidak perlu lagi menebang hutan (kayu sebagai bahan pulp/ kertas mentah) untuk menyimpan informasi, peristiwa dan warna-warna dunia. Cepat atau lambat, PD akan mengurangi bahkan menggeser peran perpus konvensional. Kertas dan tinta bisa jadi cuma digunakan untuk lembar-lembar keputusan dan kebijakan. Salah satu contoh nyata pergeseran media penyimpanan informasi di dunia adalah semakin tidak lakunya Britanica Encyclopedy ketika Microsoft melauncing MS Encharta. Jutaan halaman kertas digantikan dengan 3-5 keping CD. Ensiklopedi konvensional melulu mengandalkan indera penglihatan dan peraba karena buku cuma bisa digunakan dengan dilihat dan diraba. Ensiklopedi ini juga berat dan menghabiskan tempat di rak sebab minta ampun tebalnya. Ensiklopedi digital mengatasi berbagai permasalahan itu. Ensiklopedi konvensional tidak bisa menyajikan video dan permainan edukasi yang interaktif sebagaimana ensiklopedi digital. Ensiklopedi konvensional akan menjadi sangat tidak praktis jika dibawa kemana-mana. Ensiklopedi konvensional bisa menjelaskan suara anak burung kelaparan berbunyi, “cuit, cuit”. Ensiklopedi digital bisa menampilkan video ibu burung yang menyuapi anak-anaknya. Berikut tabel perbandingan Britanica Encyclopedy dengan MS Encharta.
No Parameter Britanica Encyclopedy MS Encharta
1 media kertas dan tinta kepingan CD, Hard Disk
2 Volume besar minim
3 Multimedia visual Visual & Audio
4 Harga mahal terjangkau
5 Jumlah isi besar Sangat besar
6 Revisi dan update cetak ulang Tidak perlu cetak ulang

Saya sangat merekomendasikan untuk melihat MS. Encharta. Dengan melihatnya, anda bisa langsung membayangkan seperti apa perpustakaan digital.

1. Online dan buka 24 jam

Perpustakaan digital mempunyai fungsi yang tidak dibayangkan dimasa lalu. PD mempunyai karakteristik online artinya dapat diakses dimana saja (anywhere) dan oleh siapa saja (anyone). PK mensyaratkan anda harus benar-benar hadir diperpustakaan itu berlokasi. Karena perpustakaan pusat UB yang terletak di jantung kampus UB maka anda harus berada di dalam perpus pusat UB untuk mendapatkan akses informasi yang anda butuhkan. Bandingkan dengan PD, anda bisa memperoleh informasi yang disediakan perpus UB meski anda di kost Sumbersari, kost Kerto bahkan jika kita berada di Papua atau negara asing. Sambil mengaduk secangkir kopi hangat dan merebus sebungkus mie instan, kita mendownload artikel dari bank data perpus untuk mengerjakan skripsi. Dengan PD, faktor where yang membatasi akses akan semakin dieliminasi.Perpustakaan digital memungkinkan anda untuk memperoleh akses informasi tanpa harus menjadi member perpus tersebut. Ketika anda membutuhkan jurnal ilmiah dari USA, anda tidak perlu mendatangi negara USA untuk bisa masuk kedalam perpus itu. Kalaupun harus menjadi member, proses registrasi tidak mengharuskan anda hadir secara fisik untuk administrasi member. Anda cukup mengisi formulir yang tersedia dalam situs resmi perpustakaan tersebut. Untuk menjadi anggota perpus UB, anda tidak harus menjadi mahasiswa UB. Dengan PD, faktor who tidak menjadi sebegitu penting seperti dikala lalu.Perpustakaan digital tidak pernah tidur dan buka 24 jam per hari (anywhen) karena sistem informasi meminimalkan keterjagaan mata manusia menjaga operasional perpustakaan. Setahu saya belum ada perpustakaan di Indonesia yang buka 24 jam. Kalaupun ada perpus dengan servis 24 jam, dibutuhkan ekstra karyawan untuk shift kerja. PD dengan sistem informasi terotomatisasi memungkinkan data dapat diakses selama 24 jam. Tidak ada keluhan lelah, ngantuk dan bosan dari karyawan penjaga perpus. Dengan PD, faktor when sebagai pembatas waktu kian tak terbatas. Ensiklopedi Wikipedia.com adalah contoh gudang informasi yang dapat diakses 24 jam dan menyediakan beragam bahasa termasuk bahasa Indonesia.Perpustakaan digital menjamin buku selalu ready stock meski pada saat yang sama dibaca 1 juta orang. Kira-kira apa yang terjadi jika 100 mahasiswa UB membutuhkan buku dengan judul yang sama ?. Proses (anyhow) memperoleh akses informasi kian dipermudah. Anda tidak perlu kuatir buku lecek dan kusam jika menggunakan PD. Penggunaan warna menarik tidak menjadikan harga akses lebih mahal sebagaimana PK. Buku yang menggunakan tinta warna lebih banyak tentunya mempunyai harga lebih mahal daripada buku hitam putih. Laksana mobile phone hitam putih dengan tipe berwarna dan resolusi layar pixel yang tinggi. Apabila anda membutuhkan suatu informasi, anda cukup masukkan kata kunci ke search engine ke situs perpus digital itu. Seketika, anda disajikan judul maupun isi data yang sesuai dengan kata kunci. Bandingkan dengan PK, anda harus menghabiskan waktu berjam-jam untuk membuka lembar demi lembar buku untuk menemukan informasi yang anda butuhkan. Kombinasi pelayanan PD dan PK memberikan tawaran banyak cara untuk mendapatkan akses menuju gudang infomasi. Dengan PD kita tidak perlu membongkar-bongkar arsip yang berdebu 5-10 tahun lalu ketika membutuhkan sebuah peristiwa dimasa lampau. Kita tidak perlu stres mencari skripsi kakak kelas 5-10 tahun lalu. Skripsi dengan judul yang sama sangat bisa dihindari. Dosen bisa mengecek di PD kampus UB, apakah judul yang diajukan mahasiswa bimbingannya sudah ada yang pernah meneliti atau belum.Perpustakaan pusat UB telah mengikrarkan diri sebagai salah satu digital library. Ketika saya mencoba mengakses informasi dari luar perpus pusat UB, ternyata tidak banyak informasi yang bisa kita dapatkan. Informasi yang tersedia lebih bersifat mempromosikan perpus pusat UB seperti struktur organisasi, foto kegiatan dan koleksi (judul & pengarang), dll. Padahal beberapa perpustakaan PTN lain sudah mengonlinekan jurnal-jurnal ilmiahnya. Sebagai contoh IPB yang sudah berani mempublikasikan laporan tesis dan disertasi.

Tulisan diatas menjelaskan kriteria yang perlu dipenuhi oleh perpustakaan digital. Kriteria perputakaan digital tersebut bersifat konseptual. Berikut langkah-langkah kongkrit yang bisa diambil untuk menuju PD, yaitu :

1. Tinta menuju binerMentransformasi atau memindah informasi, pengetahuan maupun artikel yang tersimpan dalam goresan tinta pada kertas. Informasi itu bisa tertulis dalam buku, skripsi, tesis, disertasiInformasi dipindah ke bahasa biner, bahasa yang digunakan dalam dunia digital. Keberadaan perpustakaan digital tidak serta merta memusiumkan koleksi buku di perpus pusat UB. Keberadaan PK tetap diperlukan layaknya pasar tradisional dan supermarket tetap diperlukan meski telah banyak perusahaan dot.com menawarkan belanja secara maya.

2. Pemindahan bertahapProses pemindahan informasi dilakukan secara bertahap disesuaikan berdasarkan skala prioritas. Prioritas tertinggi diurutkan berdasarkan : a. frekuensi peminjaman (sering dipinjam → jarang dibaca)b. buku utama (buku utama Mata kuliah → buku penunjang/umum)c. kuantitas (terbatas/sedikit → banyak)d. kualitas (excellent → not too bad, asing → indonesia atau sebaliknya)e. umur (tua/lama → muda/kontemporer), dll.

3. Dikerjakan PCMetode yang dapat diaplikasikan untuk memindah informasi dari buku ke data digital bisa beragam. Berikut 2 metode yang dapat dipakai, yaitu :

a. ManualMetode manual memaksimalkan potensi manusia (hardskills) untuk memindah data. Orang mengetik satu huruf per huruf berdasarkan teks tertulis pada buku. Sedangkan gambar discan dan disimpan ke bank data. Metode ini memiliki keuntungan yaitu tidak membutuhkan biaya lebih banyak karena tidak perlu membeli alat baru. Sedangkan kelemahannya yakni membutuhkan waktu sangat lama, tenaga manusia banyak, rawan kesalahan dalam pengetikan dan dibutuhkan editing yang menyita waktu & rumit guna mengecek editorial ketikan.b. OtomatisMetode otomatis mengoptimalkan potensi gadget dan meminimalkan keterlibatan manusia (softskills). Gadget yang dimaksud adalah scanner. Sekarang telah tersedia scanner khusus misal produksi Canon (maaf, serinya lupa) yang dapat membaca gambar beserta tulisan/ huruf. Tatkala kita tinggal menyecan suatu halaman, kalimat bisa disimpan dalam format doc (MS Word), txt (notepad) dll. Sehingga bisa langsung dimasukkan kedalam halaman situs PD. Metode ini memiliki keuntungan yaitu kebalikan dari kelemahan metode manual. Waktu yang dibutuhkan jauh lebih sedikit dan operasionalitas mudah. Sedangkan kelemahannya yakni mengharuskan memakai scan baru sehingga harus beli (kalau ada yang mau pinjami, ya tidak apa-apa :p ).c. Semi otomatisMetode semi otomatis menggunakan cara transisi antara manual dengan otomatis. Metode ini memanfaatkan potensi software. Software yang dimaksud adalah penulis kata-kata (speek writing). Artinya, kita cukup mengucapkan kata-kata sesuai isi buku. Lalu, software secara otomatis merubah suara anda menjadi teks, kata dan kalimat. Mengapa harus memakai software speek writing bila kita bisa mengetik?. Sebab kecepatan orang mengetik maksimal 40 kata/ menit. Sedangkan software bisa menghasilkan 120 kata/ menit (setidaknya ini promosi dari perusahaan pembuat software tersebut).

4. Kerahasiaan, plagiat dan hak cipta ?Inilah pertanyaan yang menjadi salah satu alasan tidak berkembangnya PD di Indonesia. Alasan mengapa orang-orang membatasi bahkan menolak penerapan PD 100%. Penolakan dan keengganan tersebut pada umumnya diungkapkan oleh orang-orang yang sekarang menduduki berbagai jabatan, berumur antara 40-70 tahun. Hal tersebut sangat wajar karena mereka lahir dan dibesarkan di era Industri. Kalaupun ada manusia dibawah umur 40 tahun masih berpikiran seperti itu, berarti dia masih hidup di era industri. Mereka sadar atau tidak sadar, harus mengetahui bahwa sekarang adalah era Informasi. Dunia kian tidah dibatasi oleh oleh ruang dan waktu. Dengan sekali klik (just click away), kita bisa menghasilkan perubahan di dunia. Negara-negara didunia sudah sepakat untuk mengurangi hingga menghilangkan batasan perdagangan antara negara (AFTA). Siapa yang menguasai informasi, dialah yang bakal berkuasa. Mungkin ada orang tidak sependapat dengan ide dan realita ini. Sekali lagi masih beralasan sebab Indonesia selalu tertinggal dalam banyak hal dari dunia luar. Sehingga, paradigma dunia industri masih layak dipakai di Indonesia.Ada yang mengatakan, “jika semua informasi ditampilkan di dunia maya, kita tidak punya rahasia lagi”. Sekarang, coba anda ketikkan suatu hal yang ingin anda ketahui ke dalam search enggine. Saya jamin hampir selalu ada informasi yang bisa anda peroleh. Anda masih ingat hukum fisika dan kimia yaitu “Aksi = Reaksi” atau “energi = kekal, hanya berubah bentuk”. Mengapa tidak berbunyi“Reaksi = Aksi”. Sebab anda bisa memperoleh sesuatu (take=reaksi) setelah memberikan sejumlah sesuatu terlebih dulu (give=aksi). Konsep alam ini juga telah diterapkan pada ilmu manajemen (reward n punishment), psikologi, pemasaran (senyuman) dll. Ketika kita tidak membuka dan memperkenalkan diri kepada dunia, bagaimana kita bisa dikenal dunia?. Semakin banyak kita memberi semakin kita banyak menerima. Bill gates orang terkaya didunia pemilik Microsoft hingga kini menjadi orang paling dermawan didunia. Bagaimanapun juga, saya sepakat ada batas-batas dimana sesuatu lebih baik tetap menjadi rahasia.Beberapa orang merasa kuatir tatkala skripsi, tesis atau disertasi dipublikasikan secara online menjadikan orang lebih mudah untuk menjiplaknya atau memberikan angin segar bagi plagiator. Terus terang saya sangat tidak setuju. Berikut beberapa alasan, yaitu :a. kontrol lebih mudah.Seperti yang saya jelaskan diatas, ketika kita mempublikasikan karya intelektual skripsis, tesis maupun disertasi secara online maka kita lebih mudah mengetahui judul tersebut plagiat atau murni. Dosen tinggal ketik judul yang diajukan mahasiswa di perpus digital. Seketika diketahui apakah judul telah diteliti atau belum (aspek judul). Isinya pun bisa disingkronkan dengan data PD. Jika ada yang sama, pasti ketahuan seketika (aspek isi).b. percayaKita sering ketakutan adanya plagiat ketika ada keinginan mempublikasikan hasil penelitian. Tetapi, kita pada bersamaan melupakan berapa juta mahasiswa membutuhkan informasi penelitian yang pernah dilakukan untuk menyempurnakan penelitian mereka. Kita lebih sayang pada minoritas para plagiat daripada para mahasiswa idealis. Buktinya sampai sekarang sangat amat luar biasa susah untuk mengakses hasil penelitian. Jadi, perpustakaan langsung tidak langsung bertanggungjawab atas jeleknya kualitas pendidikan Indonsesia. Bayangkan betapa berkualitasnya penelitian mereka karena memperoleh referensi berkecukupan dan representatif. Bagaimana bisa pintar, wong untuk akses informasi susahnya minta ampun dan seringkali mahal. Toh, dengan sistem tertutup (skripsi, tesis dan disertasi tak boleh keluar) yang kita terapkan sekarang terbukti melahirkan plagiator dan menyebabkan proses identifikasi plagiat menjadi sukar. Akhir kata, bagaimana bangsa lain mempercayai kita sedangkan kita tidak mempercayai bangsa kita sendiri?.Ada juga yang mempermasalahkan aspek hak cipta (copyright). Ketika kita mempublikasikan buku karya orang atau produksi suatu penerbit, kita meski sudah memperoleh ijin. Faktor ini memang perlu dipertimbangkan jangan sampai disuatu hari merugikan kita. Namun, jawaban sekaligus tawaran solusi dari ke-3 keraguan diatas akan dideskripsikan dibawah.Saya menawarkan solusi untuk mengatasi keraguan terhadap aspek kerahasiaan, plagiat dan hak cipta, yaitu :a. Tidak dipublikasikan 100%Kita tidak perlu mempublikasikan seluruh bagian dari karya intelektual skripsi, disertasi dan tesis. Yang tidak perlu dipublikasikan adalah bagian tinjauan pustaka. Sebenarnya yang benar-benar kita butuhkan dari penelitian-penelitian terdahulu adalah hasil dan pembahasan. Data ini selanjutnya kita pakai sebagai tinjauan pustaka penelitian kita. Jadi, mulai dari judul, abstraksi, hal, metodelogi, hasil pembahasan dan daftar pustaka serta lampiran kita publikasikan. Apakah anda tidak bangga jika seluruh mahasiswa di nusantara menggunakan hasil penelitian mahasiswa UB sebagai tinjauan pustaka?. Apa tidak keren itu namanya?. Perpustakaan pusat UB tidak perlu mengetik ulang skripsi. Perpus cukup meminta soft copy dari mahasiswa bersamaan dengan pengumpulan hard copy skripsi. Data tinjauan pustaka tetap disimpan dibank data tapi tidak dipublikasikan. Keuntungan dari data skripsi disimpan pada PD adalah jika terjadi hal-hal tidak diinginkan seperti kebakaran, banjir, gedung runtuh, kertas rusak. Bank data memungkinkan karya intelektual menjadi tetap terjaga untuk jangka waktu sangat lama (jika tidak memakai kata “abadi”).b. Akses bersyaratPerpus UB menerapkan akses bersyarat untuk akses terhadap buku, artikel dan semacamnya yang bukan hasil terbitan UB. Akses bersyarat terbagi 2 yaitu :- akses anggota perpus UB yaitu anggota perpus UB selain bisa mengakses karya UB, anggota juga bisa mengakses buku, artikel dan semacamnya yang bukan hasil terbitan UB. Mengapa syah atau tidak melanggar hukum (menurut versi saya)?. Karena perpus UB telah memiliki buku asli artinya perpus UB telah membeli buku secara legal. Selain itu, publikasi hanya bisa diakses oleh anggota saja. Sebenarnya, dengan mempublikasikan buku berarti secara tidak langsung kita mempromosikan buku tersebut (spiral marketing). Jika ada kekuatiran buku tidak laku gara-gara dapat di online secara gratis, sebenarnya tidak beralasan. Sebab masing-masing mempunyai konsumen dan pengguna yang berbeda. - akses non anggota/ orang umum yaitu orang umum yang bukan anggota perpus UB cuma bisa mengakses informasi hasil karya civitas Univ. Brawijaya. Orang umum tidak mendapatkan akses kepada buku-buku terbitan pihak luar.

5. Akses dan downloadInformasi yang telah disediakan oleh perpustakaan pusat UB dapat diakses langsung dari dalam perpus dan luar perpus. Perpustakaan cukup menyediakan banyak colok koneksi internet di dalam gedung. Perpustakaan tidak perlu membayar tagihan browsing karena bisa memanfaatkan saluran koneksi internet Sampoerna Corner. Tetapi koneksi tidak perlu harus melalui Sampoerna corner, cukup melalui colok-colok tadi. Mahasiswa yang mempunyai notebook, laptop, PDA, dan Ipod sambil baca buku bisa mengakses internet. Sambil kerja kelompok, mahasiswa bisa langsung mencari artikel sesuai topik pembahasan. Penyediaan colok-colok koneksi internet telah diterapkan oleh perpus UGM dan UI. Data yang dapat didownload oleh mahasiswa UB dan orang umum bisa menggunakan format doc (MS Word), PDF (Adobe Reader) atau kompres zip (Winzip) dan rar (Winrar). Pada umunya bentuk PDF lebih sering digunakan untuk informasi berbentuk buku. Hal ini dikarenakan lebih ringan dan ada seting yang membuat data PDF tidak bisa dirubah untuk memproteksi artikel. Data bisa didownload per judul buku atau per bab dalam buku.

6. Pusat menuju fakultasSetelah seluruh koleksi perpus UB pusat yang ditargetkan telah diduplikasi menjadi PD, langkah selanjutnya adalah top – bottom. Perpus pusat mengkoordinasi perpus fakultas dan jurusan melakukan pekerjaan seperti yang dikerjakan perpus pusat UB, menjadi perputakaan digital. D. PENUTUP

Saya optimis 99,9 % bila Universitas Brawijaya 1-2 tahun kedepan bisa mengaplikasikan PD yang memenuhi kriteria diatas, UB akan menjadi pioner excellent PD di bumi pertiwi, insya 4JJI. Saya bisa membayangkan betapa tingginya user account (jumlah pengunjung) perpus UB ketika konsep PD benar-benar diterapkan.Meski saya mungkin sudah bukan menjadi mahasiswa UB lagi, tidak masalah. Sebab adik kelas kita harus lebih baik daripada kita. Saya yakin kompetisi yang mereka hadapi dimasa mendatang lebih keras daripada yang saya hadapi dimasa kini.Apakah anda masih ingat sejarah asal-usul internet?. Teknologi jaringan pertama kali digunakan oleh militer secara terbatas (intranet). Kemudian dimanfaatkan oleh kampus-kampus untuk bertukar artikel dan jurnal untuk penelitian (internet). Baru setelah itu internet digunakan untuk beragam keperluan. Sepertinya, kita telah jauh berkembang dengan internet dan memakainya untuk bermacam fungsi dari kirim pesan (email), publikasi (web) hingga komunikasi secara audio (VoIP, gatway) dan video (video streming). Tetapi, lupa bahwa fungsi internet untuk bertukar informasi dalam dunia pendidikan seperti posisi kita sekarang sebagai mahasiswa atau dosen. Bukankah begitu?.Semoga bermanfaat.

Rabu, 19 Agustus 2009

perkembangan dunia perpustakaan

Perkembangan perpustakaan tidak pernah lepas dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi informasi. Hal ini dikarenakan perpustakaan sangat berkaitan erat dengan ilmu pengetahuan dan teknologi informasi. Ketiganya saling mendukung satu dengan lainnya, perpustakaan memberikan kontribusi terhadap ilmu pengetahuan melalui penyimpan berbagai informasi dan sejarah perkembangan ilmu pengetahuan, sedangkan teknologi informasi memberikan dukungan pada kemudahan akses dan sistem informasi
dalam sebuah perpustakaan. Seiring dengan perkembangan ketiganya, sekarang ini dikenal adanya perpustakaan digital atau ‘digital library’ yang mampu menciptakan wadah yang lebih luas lagi bagi hubungan ketiga hal tersebut di atas. Salah satu hal yang saat ini sangat diperhatikan oleh perpustakaan, terutama perpustakaan perguruan tinggi dalam hubungannya dengan perpustakaan digital adalah pengembangan koleksi digital. Makalah ini mencoba sedikit memberikan gambaran kepada semua mengenai bagaimana istilah digital sebagai bagian dari proses pengembangan perpustakaan digital.

Minggu, 16 Agustus 2009

Pertemuan FPPT di STIE EKUITAS

REPORTASE
SEMINAR DAN PERTEMUAN RUTIN FORUM PERPUSTAKAAN PERGURUAN TINGGI (FPPT) WILAYAH
JAWA BARAT DENGAN TEMA "PENINGKATAN KAPASISTAS PUSTAKAWAN DALAM RANGKA
PENINGKATAN KUALITAS LAYANAN PERPUSTAKAAN PERGURUAN TINGGI"

Acara seminar dan pertemuan rutin dibuka oleh Kepala Badan Perpustakaan dan
Arsip Daerah Propinsi Jawa Barat Drs. H. Dedi Junaedi, MSi. Pertemuan dan
seminar dihadiri oleh 140 peserta dari berbagai Kepala perpustakaan dan
pengelolan perpustakaan perguruan tinggi di Jawa Barat, serta satu wakil dari
Perpustakaan Universitas Indonesia dan beberapa undangan dari perpustakaan
instansi di Kota Bandung.
Pada acara tersebut disampaikan sambutan diantaranya oleh Ketua FPPT Jabar,
Koordinator Kopertis Wilayah IV Jawa Barat, Ketua STIE EKUITAS dan Kepala Badan
Perpustakaan dan Kearsipan Jawa Barat.
Ketua FPPT Jabar mengatakan keberadaan forum diilhami oleh Perpustakaan Nasional
yang beranggapan bahwa Perpustakaan Perguruan Tinggi merupakan mitra penting
perpustakaan Nasional, untuk turut aktif mengembangkan perpustakaan di
Indonesia, maka dibentuklah wadah Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi Indonesia
yang pendiriannya didirikan di Jawa Barat. Tema kali ini mengambil kualitas
layanan sebagai back to basic karena selama ini forum lebih sering mengambil
tema berkaitan dengan teknologi informasi. Forum kali ini beranggapan bahwa
kualitas layanan pengelola atau Pustakawan merupakan suatu sumber daya yang
penting, mengibaratkan seperti di dunia perbankan, yang senantiasa mengumbar
senyuman dan layanan yang ramah kepada nasabahnya, pustakawan pun harus bisa
seperti itu sehingga pemustaka menjadi betah berada di perpustakaan.
Koordinator Kopertis Wilayah IV Jawa Barat yang diwakilkan dalam memberikan
sambutannya karena berhalangan hadir mengatakan bahwa perpustakaan harus lebih
memperhatikan aspek teknologi informasi, sesuai dengan perkembangan globalisasi
informasi saat ini, sehingga tidak akan ditinggalkan oleh penggunanya. Koleksi
di perpustakaan tidak hanya koleksi cetak seperti buku, majalah, jurnal, dan
surat kabar, tetapi saat ini sudah banyak sekali koleksi digital baik tentang
buku, journal maupun artikel, sehingga akan lebih mudah bagi pengguna untuk
memanfaatkan fasilitas di perpustakaan.
Ketua STIE Ekuitas sebagai tuan rumah, mengatakan akan pentingnya perpustakaan
bagi peningkatan akademik perguruan tinggi. Dengan adanya forum diharapkan dapat
meningkatkan perpustakaan perguruan tinggi yang berada di Jawa Barat, sesuai
dengan motonya yang kuat membantu yang lemah. Perpustakaan perguruan tinggi
merupakan bagian yang integral dari perguruan tingginya, oleh karena itu
kemampuan tenaga pengelola atau pustakawan harus lebih diperhatikan
kemampuannya, jangan sampai yang duduk di perpustakaan justru tidak mengerti
akan pentingnya perpustakaan, misalnya dalam memberikan pelayanan kepada
pengguna tidak ramah, tidak santun dan kualitas pendidikannya tidak
diperhatikan, padahal perpustakaan perguruan tinggi melayani orang-orang
intelektual seperti mahasiswa dan dosen. Pustakawan harus tulus hati dalam
memberikan pelayanan kepada anggotanya, dan yang paling penting adalah
pustakawan harus menyayangi buku-buku atau koleksi yang dimiliki oleh
perpustakaan, sehingga koleksi perpustakaan akan senantiasa terpelihara dengan
baik.
Kepala Badan Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Jawa Barat dalam sambutannya
mengatakan peran penting FPPT Jabar dalam mengembangkan perpustakaan perguruan
tinggi Jawa Barat, juga diharapkan turut aktif memperhatikan perpustakaan
sekolah yang keberadaan nya masih sangat kurang baik kuantitas maupun
kualitasnya. Kerjasama antar perpustakaan perguruan tinggi, juga kerjasama
dengan perpustakaan daerah sangat penting baik kerjasama dalam tukar informasi
koleksi, maupun kerjasama peningkatan SDM perpustakaan. Ketua Badan berharap
dalam pertemuan kali ini para peserta dapat menyimak dan memperoleh manfaat yang
berarti dari para pembicara, diantaranya dengan kemampuan membaca cepat (quick
reading) yang akan disampaikan oleh Nunu A. Jamijaya (penulis buku dan pendiri
IQRA: Indonesian Quick Reading Association), serta dari pembicara Bapak
Hermanto Kosasih (Prime Consulting) berkaitan dengan pelayanan prima di
perpustakaan.
Demikianlah reportase seminar dan pertemuan ilmiah rutin FPPT JABAR yang ke V.
Semoga dapat bermanfaat bagi para peserta seminar dan pertemuan ilmiah FPPT so
perpustakaan akan semakin jaya.

PERKEMBANGAN PERPUSTAKAAN LEWAT KERJASAMA JARINGAN PERPUSTAKAAN APTIK (JPA)

PERKEMBANGAN PERPUSTAKAAN LEWAT KERJASAMA
JARINGAN PERPUSTAKAAN APTIK (JPA)

Oleh : Darwanto S.Sos

Lima tahun sesudah berdirinya APTIK (Asosiasi Perguruan Tinggi Katolik), tepatnya bulan Juli 1989, para kepala perpustakaan yang tergabung dalam universitas anggota APTIK, berkumpul untuk membahas suatu bentuk kerjasama berupa APTIK Library Network (ALN). Setelah mengalami ‘kelesuan’ selama 1994-1995, ALN bangkit kembali pada tahun 1996 dan berganti nama menjadi JPA (Jaringan Perpustakaan APTIK). Kerjasama ini diprakarsai oleh Ibu Irene R. Adhikusuma (Kepala Perpustakaan Unika Widya Mandala pada waktu itu) yang dibantu oleh Prof. L. Sulistyo-Basuki. Kedua tokoh ini sangat berperan dalam pembentukan dan perkembangan kerjasama ini. Bahkan ada beberapa gagasan mereka yang telah dipikirkan sejak dulu, belum terwujud sampai sekarang.

Pada waktu ALN berdiri, anggota APTIK masih terdiri dari 10 yayasan perguruan tinggi Katolik, yaitu minus yayasan yang menaungi Sekolah Tinggi Musi (Palembang) dan Sekolah Tinggi Keperawatan Carolus (Jakarta). Kedua mereka baru bergabung sesudah JPA berdiri. Saat ini ada 16 perpustakaan yang bergabung di dalam JPA.

Tabel 1 Perpustakaan JPA dari Sabang sampai Merauke

Pulau
Propinsi
Kota
Perpustakaan

Sumatera
Sumatera Utara
Sumatera Selatan
Medan
Palembang
Unika St. Thomas
Sekolah Tinggi Musi

Jawa
DKI Jakarta




Jawa Barat
Yogyakarta

Jawa Tengah
Jawa Timur
Jakarta




Bandung
Yogyakarta

Semarang
Surabaya

Malang

Unika Atma Jaya (UAJ)-Jakarta
FK-UAJ
PKPM
PKBB
St. Carolus
Unika Parahyangan
Univ. Sanata Dharma
Unika AJ-Yogyakarta
Unika Soegijapranata
Univ. Widya Mandala Surabaya
Univ. Widya Mandala Madiun
Univ. Widya Karya

Kalimantan
Kalimanatan Barat



Pontianak
Unika Widya Dharma

Sulawesi
Sulawesi Selatan
Sulawesi Utara
Ujung Pandang
Manado
Unika Atma Jaya Makasar
Unika de La Salle


Timor
NTT
Kupang
Unika Widya Mandira



Dapat dikatakan secara keseluruhan ruang lingkup JPA meliputi informasi tentang hampir semua cabang ilmu pengetahuan, mulai dari humaniora sampai sains dan teknologi. Ada lebih kurang 30 jenis program pendidikan di lingkungan APTIK, yaitu kedokteran, keperawatan, farmasi, teknik (sipil, elektro, mesin, industri, kimia, arsitektur), pertanian (teknologi pertanian, ekonomi pertanian), hukum (perdata, pidana, internasional, bisnis), hubungan internasional, ekonomi, manajemen, akuntansi, administrasi negara, psikologi, pendidikan (bahasa, agama, guru SD), politik, pariwisata, bahasa, filsafat, dan teologi.

Kondisi perpustakaan pada awal berdirinya ALN sangat ‘menyedihkan’ dari segi sumberdaya, pengelolaan, dan kedudukannya di organisasi induk. Dari semua perpustakaan, hanya ada dua tenaga sarjana perpustakaan, dan mereka tidak dibantu oleh tenaga teknisi profesional. Otomasi sebagian kegiatan perpustakaan baru dilakukan oleh segelintir perpustakaan. Bahkan ada 4 perpustakaan yang tidak memiliki komputer. Hal ini berakibat serius pada pengelolaan perpustakaan. Kelemahan yang menonjol adalah katalogisasi yang tidak mengikuti standard yang berlaku, kesalahan pencatatan bibliografis, kebijakan-kebijakan yang tidak berorientasi pada pemakai, dan perencanaan anggaran yang tidak dapat meyakinkan pimpinan universitas. Meskipun di dalam struktur organisasi universitas kedudukan perpustakaan jelas berada di bawah rektor, namun dalam kenyataan sehari-hari perpustakaan hampir tidak dilibatkan dalam kegiatan-kegiatan yang sebetulnya relevan. Bahkan ada perpustakaan yang tidak mempunyai wewenang sama sekali dalam menentukan dan membelanjakan anggarannya. Tenaga perpustakaan adalah tenaga administrasi, kecuali kalau seorang dosen atau peneliti ditugaskan untuk bekerja di perpustakaan. Perpustakaan menjadi tempat buangan orang-orang bermasalah di unit-unit lain, dan tenaga perpustakaan yang handal dipindahkan ke unit lain meskipun sudah mempunyai latar belakang pendidikan perpustakaan.

Bisa dibayangkan betapa sulitnya untuk saling berbagi informasi yang paling sederhana sekalipun seperti pertukaran kartu katalog, dalam kondisi seperti itu. Untuk mengatasi situasi tersebut, kegiatan ALN lebih difokuskan pada peningkatan mutu tenaga perpustakaan. Pada tahun 1991-1993, 9 orang tenaga perpustakaan mendapat beasiswa dari APTIK untuk mengikuti program S1 Ganda di JIP-UI. Pemberian beasiswa oleh APTIK untuk perpustakaan terbuka terus sampai sekarang, yaitu untuk Diploma, S1 Ganda, S2, dan S3. Saat ini tidak ada lagi perpustakaan di lingkungan APTIK yang tidak mempunyai tenaga profesional perpustakaan. Perpustakaan St. Carolus, sebagai anggota termuda, sedang mengirimkan seorang karyawannya untuk belajar di JIP-UI.

Di samping pendidikan formal, pelatihan juga diadakan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan di bidang CDS/ISIS versi 2.3 (1990), dan katalogisasi dengan DDC 20 dan LCSH ed. 9 (1991). Dalam rangka mengikuti perkembangan yang terbaru, pelatihan serupa diadakan beberapa tahun kemudian untuk CDS/ISIS versi 3.07 (1996), DDC 21 dan LCSH ed. 18 (1997), penyegaran penyusunan deskripsi katalog JPA (1998), dan WINISIS (2001). Berkat pelatihan-pelatihan ini dan konsultansi dengan para ahli yang dilakukan sesudah itu, otomasi perpustakaan, penyeragaman katalogisasi dan pertukaran data, bahkan pembuatan katalog induk buku (KIB), menjadi lebih mudah.


Saat ini KIB, yang pembuatannya secara intensif dimulai tahun 1998, sudah meliputi sekitar 260.000an entri. Hasilnya dibagikan lewat CD-ROM dan akan dapat diakses langsung lewat internet. KIB ini juga akan dikembangkan sebagai sarana pembuatan katalog, pinjam antar-perpustakaan, dan evaluasi kekuatan koleksi. Pembuatan KIB dilakukan di Unika Widya Mandala, tempat Koordinator JPA berkantor. Kantor tersebut diperlengkapi dengan ahli dan peralatan komputer yang memadai.

Pengembangan perpustakaan dan karyawannya juga dilakukan melalui pelatihan pendidikan pemakai (1999), pengukuran kinerja perpustakaan (2002), pelatihan-pelatihan ‘on-the-spot’ mengenai otomasi perpustakaan yang dilakukan di perpustakaan yang masih lemah, dan kesempatan magang di perpustakaan yang kondisinya lebih baik. Untuk membantu universitas yang lemah, APTIK (melalui Pusat Informasi APTIK) memberikan pelatihan operator sistem dan bantuan komputer (1999).

Sebagai hasilnya, sekarang semua perpustakaan anggota JPA sudah melakukan otomasi perpustakaan, dan mempunyai akses ke Internet. Otomasi perpustakaan dilakukan dengan menggunakan sistem perpustakaan yang terintegrasi berbasiskan CDS/ISIS yang dikembangkan di Perpustakaan Unika Atma Jaya Jakarta (1997) dan Unika Widya Mandala Surabaya (sesudah 1997 sampai sekarang). Anggota JPA lainnya tinggal memilih ingin menggunakan sistem yang dikembangkan di Unika Atma Jaya Jakarta atau Widya Mandala Surabaya. Ada juga yang sudah meninggalkan CDS/ISIS, yaitu dengan membeli sistem yang sudah jadi seperti NCI Bookman, atau mengembangkan sendiri sistem yang berbasiskan web.

Anggota JPA yang diwakili oleh para kepala perpustakaan universitas mengadakan rapat kerja dua atau satu tahun sekali. Tujuannya adalah untuk membahas program kerja dan kendala yang dihadapi. Di samping raker, sejak tahun 1998 para anggota JPA dapat bertukar informasi, berdiskusi, dan mengajukan usulan, melalui milis jpa (jpa-aptik@yahoogroups.com). Hasil raker dan diskusi dilaporkan oleh Koordinator JPA dalam Rapat Umum Anggota APTIK yang dihadiri oleh para pimpinan yayasan dan universitas. Para kepala perpustakaan juga melaporkan hasilnya ke rektor masing-masing. Mekanisme ini mempunyai dampak positif terhadap peningkatan perhatian para pimpinan terhadap perpustakaan. Sekarang tidak ada lagi perpustakaan yang tidak mempunyai hak dalam penyusunan anggaran. Bahkan jabatan fungsional pustakawan pun sudah menjadi topik pertemuan para Purek 1 universitas yang ada di lingkungan APTIK.

Kerjasama ini juga membawa keuntungan lain bagi anggota JPA, yaitu terutama dalam hubungannya dengan pihak luar. KMNRT, misalnya, pada tahun 2001 memberi kesempatan pada 2 orang yang ada di lingkungan perpustakaan dan universitas APTIK untuk mengikuti training TI di India selama 1 bulan. Pada tahun yang sama, KMNRT juga menyerahkan pada JPA, suatu sistem perpustakaan digital DocuShare yang pengelolaannya dipercayakan pada Perpustakaan Unika Parahyangan. Perpustakaan ini sudah menunjukkan kepiawaiannya dalam pemanfaatan DocuShare ini, yaitu dengan keberhasilannya mendigitalisasikan ribuan dokumen (tesis, disertasi, skripsi, laporan penelitian, foto, jurnal, e-book) dalam waktu beberapa bulan. Sebagai akibat dari kesuksesan ini, Rektor Unpar mengusulkan agar Kepala Perpustakaan duduk dalam Senat Universitas. Perpustakaan ini juga mendapatkan proyek lain dari KMNRT yang masih ada hubungannya dengan digitalisasi. Masuknya gagasan dan praktek perpustakaan digital lewat JPA ini juga memudahkan dukungan pengembangan perpustakaan digital di masing-masing anggota JPA.

Sejak tahun 2000, Perpustakaan Unika Atma Jaya Jakarta mengembangkan sistem perpustakaan digital yang bernama AtmaLib. Sistem ini sudah disosialisasikan dalam Raker JPA tahun 2002, dan sudah menarik dukungan seorang rektor di lingkungan APTIK untuk memanfaatkannya bagi perpustakaan di universitasnya. AtmaLib ini sudah disetujui oleh Rektor Unika Atma Jaya Jakarta dan para programernya untuk digunakan dan dikembangkan bersama oleh anggota JPA.

Uraian di atas memperlihatkan banyaknya kemajuan yang terjadi di lingkungan JPA sebagai hasil dari kerjasama ini. Kemajuan yang sama dapat dipastikan akan memerlukan waktu yang lebih lama kalau diperjuangkan sendirian. Sebagai ilustrasi, Perpustakaan St. Carolus yang baru bergabung tahun 2000 dan mulai ikut Raker JPA tahun 2002, pada saat dikunjungi pertama kali oleh anggota JPA terdekat pada bulan April 2002, kondisinya adalah sebagai berikut: tidak ada tenaga yang berlatar belakang pendidikan perpustakaan, belum otomasi, dan hanya memiliki satu komputer yang digunakan untuk keperluan administrasi. Sejak kunjungan tersebut, mereka mendapat pelatihan mengenai katalogisasi dan CDS/ISIS, instalasi sistem perpustakaan terintegrasi berbasiskan CDS/ISIS, mengirimkan satu tenaga untuk magang selama satu bulan ke Perpustakaan Universitas Petra, mempekerjakan satu tenaga sarjana perpustakaan, dan bahkan mendapatkan beasiswa APTIK untuk diploma perpustakaan.

Jakarta, 2002.












DAFTAR PUSTAKA

Panitya persiapan aptik library network: suatu laporan (disiapkan untuk laporan pada RUA APTIK di yogyakarta tanggal 9-13 maret 1991).

Keadaan perpustakaan unika dalam lingkungan aptik.

PENDAYAGUNAAN LAYANAN PERPUSTAKAAN BERBASIS TEKNOLOGI INFORMASI

PENDAYAGUNAAN LAYANAN PERPUSTAKAAN
BERBASIS TEKNOLOGI INFORMASI

Oleh:
Abdul Rahman Saleh

Diposkan Oleh : Darwanto S.Sos

Pustakawan Madya pada Perpustakaan IPB serta Ketua Bidang Perpustakaan Perguruan Tinggi, Pengurus Pusat Ikatan Pustakawan Indonesia periode 2003 – 2006.

Abstrak
Terjadinya perubahan paradigma layanan berpustakaan dibahas pada tulisan ini. Beberapa alasan mengapa perpustakaan menerapkan teknologi informasi dikemukakan. Penerapan tersebut dilakukan terhadap layanan perpustakaan baik layanan teknis seperti seleksi bahan pustaka melalui katalog penerbit versi elektronik, pengadaan bahan pustaka melalui elektronik, pengolahan bahan pustaka berbantuan komputer, penerbitan katalog dan bibliografi elektronik, maupun pelayanan pengguna seperti ”online catalogue”, layanan sirkulasi, layanan referensi, bahkan layanan teks lengkap versi digital. Selain itu layanan document delivery atau pengiriman dokume juga dilakukan secara online, sebab saat ini dokumen dalam bentuk digital semakin banyak tersedia.
Keywords: Perpustakaan elektronik; perpustakaan digital; layanan perpustakaan



Pendahuluan

Menghadapi era perdagangan bebas (seperti APEC/ Asia Pasific Economic Cooperation dan AFTA Asean Free Trade Area) maka informasi menjadi sangat penting dan strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat. Saat ini kita sudah berada di tahun keempat millenium ketiga. Masa dimana persaingan global semakin terbuka. Siap tidak siap rakyat Indonesia harus menghadapinya. Salah satu bekal dalam memasuki persaing-an terbuka tersebut adalah penguasaan ilmu dan teknologi.
Salah satu upaya meningkatkan sumber daya manusia adalah dalam bentuk pendidikan. Dengan adanya pemerataan/peningkatan di bidang pendidikan, masyarakat diharapkan dapat menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi dan juga dapat mengikuti perkembangan-perkembangannya yang nantinya akan membawa kita kearah perubahan-perubahan baik dibidang politik, ekonomi maupun sosial budaya. Dengan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, bangsa Indonesia akan mampu menghadapi masa depan dengan segala permasalahan. Salah satu bentuk pendidikan yang dapat dikembangkan adalah pendidikan seumur hidup (life long education) dengan menggunakan perpustakaan sebagai pusatnya.
Namun untuk membuat masyarakat menggunakan perpustakaan tidaklah mudah. Mengapa? Jawabannya karena di Indonesia orang menggunakan perpustakaan bukan merupakan suatu kebutuhan pokok. Tidak seperti di negara maju dimana perpustakaan tidak bisa lagi dilepaskan dari kehidupan mereka sehari-hari. Perpustakaan bagi mereka merupakan salah satu unit yang mendukung pendidikan. Sedangkan secara khusus perpustakaan umum berperan dalam pendidikan seumur hidup di masyarakat life-long education atau life-long learning). Sayangnya, di Indonesia perpustakaan belum dapat berfungsi sebagaimana yang seharusnya. Kebanyakan perpustakaan sepi pengunjung. Sebuah surat kabar terkemuka pernah menurunkan artikelnya dengan judul “Perpustakaan yang Kesepian” membuat kita prihatin. Dikatakan bahwa ratusan ribu buku tersimpan rapi tak tersentuh di berbagai perpustakaan. Kalau pernyataan ini benar, bisa dibayangkan berapa milyar investasi pemerintah yang dihambur-hamburkan dalam bentuk buku tak terpakai. Belum lagi investasi dalam bentuk peralatan dan gedung. Yang menjadi persoalan ialah mengapa kondisi ini sampai terjadi. Kemudian apa usaha kita untuk memperbaiki keadaan tersebut.
Paper ini mencoba membahas peran teknologi informasi dalam meningkatkan layanan perpustakaan kepada masyarakat.
Penerapan Teknologi Informasi di Perpustakaan

Ada beberapa alasan mengapa teknologi informasi ini menjadi tuntutan untuk segera digunakan di perpustakaan yaitu:
• Tuntutan terhadap penggunaan koleksi secara bersama (resource sharing)

Seperti kita ketahui tidak ada satu perpustakaanpun di dunia ini yang bisa memenuhi koleksinya sendiri, maka setiap perpustakaan akan saling membutuhkan koleksi perpustakaan lain dalam rangka memberikan layanan yang memuaskan kepada pemakainya. Oleh karena itu penggu-naan bersama koleksi perpustakaan sangat membatu dalam memberikan pelayanan terutama bagi perpustakaan-perpustakaan kecil yang koleksinya sangat lemah. Program penggunaan koleksi secara bersama ini dapat berjalan dengan baik apabila setiap perpustakaan dapat memberi-kan informasi apa yang dimiliki oleh perpusakaannya masing-masing. Peran "union catalog" sangat besar dalam menyukseskan program penggunaan koleksi secara bersama ini. Union catalog yang baik adalah union catalog yang secara rutin isinya selalu diperbaharui. Disinilah teknologi komputer sangat berperan dalam mempercepat pembaharuan isi (updating) dari union catalog ini.
• Kebutuhan untuk mengefektifkan sumberdaya manusia

Sudah cukup lama pemerintah menerapkan kebijaksanaan "zero growth" untuk pegawai negeri. Hasil dari kebijakan pemerintah ini adalah semakin berkurangnya tenaga kerja di perpustakaan. Untuk mempertahankan mutu pelayanan perpustakaan dimana SDM semakin berkurang maka kita dapat mengandalkan teknologi komputer. Untuk melayani peminjaman bahan pustaka yang tadinya diperlukan lima sampai enam orang, dapat digantikan dengan satu unit komputer yang dioperasikan oleh satu orang saja. Tenaga kerja yang lain dapat dialokasikan untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan lain. Dengan efisiensi tenaga seperti ini maka perpustakaan dapat memikirkan dan mengalokasi-kan tenaga untuk menyelenggarakan layanan-layanan lain yang dapat diberikan kepada pemakai.
• Tuntutan terhadap efisiensi waktu

Dulu pemakai mungkin sudah puas dengan layanan pe-nelusuran artikel bila artikel-artikel dapat ditemukan seka-lipun layanan tersebut memakan waktu sampai berminggu-minggu. Sekarang pemakai mungkin menuntut layanan tersebut hampir instan. Saat ini pertanyaan diajukan, saat itu pula jawaban diharapkan bisa diterima. Layanan yang demikian ini bisa dipenuhi hanya dengan bantuan teknologi komputer. Pemakai dapat mengirimkan permintaannya melalui elektronik mail (e-mail) yang pada saat itu pula dapat diterima oleh perpustakaan. Kemudian petugas perpusakaan melakukan akses ke pangkalan data/informasi yang ada di komputer baik di perpustakaannya atau di per-pustakaan lain. Jawaban yang diperolehnya (hanya dalam beberapa saat) kemudian dikirim kembali kepada si penanya dengan menggunakan e-mail yang dalam waktu relatif singkat dapat diterima oleh si penanya.
• Kebutuhan akan ketepatan layanan informasi

Selain kecepatan dalam memperoleh informasi, pemakai juga membutuhkan ketepatan informasi yang didapatkan-nya dari perpustakaan. Pertanyaan-pertanyaan tentang informasi secara spesifik harus bisa dijawab secara spesifik pula. Dengan bantuan teknologi komputer pertanyaan-pertanyaan ini bisa dijawab dengan cepat dan tepat.
• Keragaman informasi yang dikelola

Informasi yang ada di perpustakaan saat ini tidak hanya terbatas kepada buku dan jurnal ilmiah saja. Informasi-informasi lain seperti audio visual, multimedia, bahan mikro, media optik dan sebagainya saat ini juga dikoleksi oleh perpustakaan. Banyak koleksi perpustakaan yang harus di baca dengan menggunakan teknologi komputer. Selain itu untuk mengelola informasi yang sangat beragam tersebut diperlukan bantuan alat terutama teknologi komputer.
Ada dua bentuk pemakaian Teknologi Informasi di perpustakaan. Pertama, perpustakaan dapat hanya memakai sumber yang sudah ada, dengan menelusuri pangkalan data yang disediakan oleh penyedia data (vendor seperti BIOSIS dsb), mengirim surat elektronik melalui internet, memasang data di ”bulletin boards” atau ”listservs” dan sebagainya. Perpustakaan juga bisa menyediakan data yang disimpan baik di Web ataupun didistribusikan melalui CD-ROM.
Aplikasi Teknologi Informasi di Perpustakaan
Pengadaan Koleksi

Biasanya pustakawan memakai katalog penerbit untuk menentukan buku dan jurnal yang sesuai dengan kebutuhan pemakai perpustakaan mereka. Di Indonesia, khususnya di perpustakaan kecil, kadang-kadang tidak mudah menemukan informasi mengenai publikasi dari sini. Disinilah internet bisa menolong kita seperti memanfaatkan katalog dari perpustakaan yang lain untuk memilih judul yang relevan dalam subyek tertentu.

Katalog-katalog ini memberikan semua informasi bibliografis yang diperlukan untuk memesan, termasuk ISBN, dan kadang-kadang harga.
Penerbit saat ini sudah banyak yang membuat katalognya dengan versi elektronik, dan bahkan katalog tersebut dapat diperoleh dari Internet. Tomson adalah salah satu contoh. Pustakawan bisa mencari buku dan jurnal dengan menelusuri melalui subyek, pengarang atau judul, dan dari sini mereka bisa langsung memesan buku yang ditemukan. Penerbit akan mengirim buku-buku itu melalui pos. Untuk transaksi tipe ini biasanya dibutuhkan kartu kredit.
Berbagai toko buku juga memanfaatkan Internet untuk menjual produk mereka. Toko buku Amazon adalah yang terbesar dan paling sukses saat ini. Mizan, penjual buku di Indonesia, juga melaksanakan bisnis buku melalui Internet.


Katalog penerbit, baik dalam bentuk online ataupun kertas, tidaklah selalu cukup untuk membantu kita untuk memutuskan buku mana yang diperlukan. Kita perlu membaca ”book review” – laporan buku yang menilai dan menganalisis. Internet bisa membantu untuk hal ini. Ada beribu-ribu jurnal elektronik yang bisa diperoleh dalam berbagai topik. Untuk review buku pada topik yang spesifik, lihatlah pada jurnal untuk para pakar. Misalnya, New Scientist di dalamnya ada beberapa review mengenai buku-buku baru untuk ilmu pengetahuan dan teknologi. Untuk review buku-buku kesehatan, pustakawan bisa berkonsultasi dengan British Medical Journal (BMJ). Untuk review umum, lihatlah jurnal elektronik seperti The Times Literary Supplement. Buku-buku berbahasa Indonesia kadang-kadang oleh Tempo Interactive antara lain.


Pengolahan Koleksi
Salah satu masalah di perpustakaan Indonesia adalah bahwa, jika buku bahasa Inggris dibeli, staf pengatalogan sulit memahami isinya dengan baik hingga bisa mengkatalog buku tersebut secara akurat. Bahkan dengan kemampuan bahasa Inggris yang baik, pengalogan dan pengklasan sangat memakan waktu. Dengan mengacu pada beberapa katalog online pustakawan Indonesia bisa menemukan rekaman katalog dan memakainya untuk katalog mereka sendiri. Secara ideal, rekaman-rekaman yang ditemukan akan didownload langsung ke dalam komputer lokal.

Tetapi jika perpustakaan itu belum memiliki sistem katalog komputer atau jika sistem yang dipakai tidak cukup canggih untuk ”interface” dengan Internet, pustakawan masih bisa memakai rekaman dari katalog itu, dengan cara menyalin nomor-nomor klas dan tajuk subyek merupakan data yang berguna sekali. Dengan cara ini, pustakawan bisa mempersingkat waktu pengkatalogan buku asing.
Perpustakaan Nasional RI juga sudah menerbitkan bibliografi nasional dalam bentuk digital dalam CD-ROM. Data dari bibliografi nasional ini dapat juga dijadikan salah satu sumber informasi dalam melakukan pengatalogan dan pengklasan, khususnya di perpustakaan kecil yang jumlah pustakawannya sangat terbatas. Sayangnya, data bibliografi ini belum bisa diakses dari internet.

Pelayanan Koleksi
Internet tidak menawarkan keuntungan secara langsung kepada pustakawan dalam hal sirkulasi. Tapi memberi keuntungan kepada si pemakai. Kalau sebuah katalog perpustakaan sudah dapat diakses melalui Internet, pemakai dapat mengecek dari rumah apakah suatu buku ada. Kalau buku tersebut sedang dipinjam, mereka dapat memesan dengan mencantumkan nama mereka untuk kemudian disisihkan untuk mereka pinjam. Pemakai dapat juga memeriksa dari rumah atau kantor, buku mana saja yang mereka pinjam pada saat itu, dari file keanggotaan mereka sendiri. Perpanjangan dapat juga dilakukan dari rumah. Pemberitahuan mengenai pinjaman yang sudah lewat batas dapat dikirim kepada pemakai melalui e-mail.

Peminjaman Antar Perpustakaan & Pengiriman Dokumen (Document Delivery)
Peminjaman antar perpustakaan adalah tidak lazim di Indonesia, karena ketidakpastian dari kantor pos dan kurangnya koleksi buku-buku. Di negara-negara maju servis semacam ini banyak sekali digunakan. Terutama saat ini, dimana dana untuk perpustakaan dikurangi, perpustakaan seringkali memutuskan untuk tidak membeli sebuah buku kalau mereka mengetahui ada perpustakaan lain/dekat memiliki buku tersebut. Ini berarti perpustakaan lebih memilih kelengkapan daripada koleksi yang duplikat. Dengan melihat katalog perpustakaan lain di Internet, para pustakawan dapat memastikan dulu apakah perpustakaan itu mempunyai buku yang dicari. Kalau perpustakaan tidak memiliki buku tersebut, pustakawan dapat memesannya langsung dari Webpage perpustakaan itu.
Di Indonesia peminjaman antar perpustakaan kadang-kadang menyangkut pertukaran dari fotokopi-fotokopi artikel jurnal. Beberapa perpustakaan besar membuat database online yang berisi informasi koleksi semua jurnal yang dimilikinya, bahkan beberapa menyediakan informasi koleksi visrtual yang dilanggannya. Inforasi ini sangat berguna untuk melakukan “sharing” informasi dengan perpustakaan lain. Fotokopi kemudian dapat dipesan melalui e-mail.
Rujukan (Reference)
Pelayanan rujukan pada prinsipnya adalah memberikan jawaban atas pertanyaan yang diberikan dari pemakai perpustakaan. Dalam memberikan jawaban, pustakawan dapat menggunakan bahan-bahan referensi baik yang tercetak maupun digital/virtual. Pertanyaan yang berhubungan dengan pengertian suatu istilah (”Apa arti dari kata gap”; ”Apa arti dari mixed farming”) dapat dicari jawabannya di kamus. Sebagian pertanyaan lainnya memerlukan jawaban berupa satu kalimat tapi tidak seharusnya lebih mudah untuk menjawab! (”Saya perlu alamat dari Kamar Dagang dan Industri Indonesia”). Beberapa pertanyaan yang lebih susah juga merupakan tugas seorang pustakawan untuk menjawab setiap pertanyaan sebaik-baiknya.


Satu sumber yang sangat bermanfaat bagi para pustakawan yang mencari informasi adalah Usenet. Banyak dari pustakawan tidak dapat menemukan jawaban di koleksi buku mereka tetapi dapat mengajukan perpustakaan kepada grup Usenet dan biasanya strategi ini mendapatkan banyak jawaban dari seluruh dunia. Beberapa grup Usenet ada sub-bagian dinamakan FAQ (”frequently-asked Questions”) atau ”Pertanyaan yang sering ditanyakan.” Kadang-kadang FAQ tersebut ada suatu tempat yang baik untuk memulai jikalau suatu pustakawan mencari jawaban. Misalnya, sci.physics FAQ dapat memberikan jawaban untuk banyak pertanyaan ilmu pengetahuan yang populer, seperti ”Kenapa air panas lebih cepat beku daripada air dingin?” Seorang pustakawan dapat mencari jawaban berjam-jam melalui buku teks sebelum menemukan jawaban tadi. Dengan FAQs atau grup Usenet umum, dapat dilakukan dalam sekejap saja.
Sumber lain dari jawaban yang sulit adalah listserv dinamai Stumpers (pertanyaan yang sukar dijawab). Listserv adalah serupa dengan grup Usenet tapi pesan-pesan dapat dikirim langsung ke alamat e-mail dari orang yang berlangganan.

Listserv dari bermacam-macm topik sudah ada dan siapapun dapat menjadi pelanggan gratis. Tetapi jikalau seseorang menambahkan alamat e-mailnya pada suatu listserv, ada risiko bahwa orang itu akan menerima beribu-ribu pesan dari seluruh dunia. Kira dapat membayangkan jumlah pesan yang akan diterima kalaui topiknya sedang ”panas”.


Cara lain untuk menemukan jawaban dari pertanyaan referensi adalah mencarinya di World Wide Web. Setelah pustakawan mengetahui sumber-sumber yang sering dipakai di perpustakaannya, pustakawan itu pasti akan ketemu banyak informasi yang relevan. Beberapa institusi besar telah memasang halaman Web yang saling berhubungan dengan halaman-halaman lainnya. Dengan bentuk ini sangat berguna untuk membantu pencari data lainnya.

Telah ada beberapa situs yang dimiliki organisasi-organisasi Indonesia atau dekat Indonesia. Biro Pusat Statistik telah membuat sebuah situs yang menyediakan jalan masuk ke statistik yang paling baru di beberapa topik. Banyak departemen pemerintah, bank-bank dan organisasi-organisasi lain membuat homepage dan menghubungkan ke informasi database yang berguna. Satu index untuk situs Indonesia adalah Jendela Indonesia.
Walaupun Net adalah sumber yang baik untuk jawaban pertanyaan singkat, juga memungkinkan untuk menemukan beberapa artikel, laporan dan informasi lainnya dari beberapa topik, yang dalam bentuk ”full-text”. Kepercayaan dari artikel atau laporan full-text ini berhubungan dengan sumbernya. Para pustakawan dapat bergantung pada keakuratan dari sebuah artikel dari jurnal yang dipercaya seperti Nature daripada artikel yang dikirim dari individu (walaupun itu juga bisa akurat dan berharga – pustakawan dan peminjam harus mempelajari setiap sumber).
Artikel full-text dari beberapa jurnal bisa ditemukan, misalnya dari Asian Libraries, New Scientist dan Tempo interactive dan masih banyak lagi. Kita hanya dapat membaca beberapa jurnal elektronik setelah berlangganan tapi banyak yang gratis. Sebagai tambahan, banyak dokumen pemerintah sekarang diterbitkan secara penuh di dalam Net.

Bentuk lain dari sumber-sumber full-text yang dapat ditemukan di Internet adalah kamus (misalnya, seleksi dari kamus bahasa Inggris dan bahasa asing lainnya dari Oxford di situs dinamai Dictionaries and Reference Works. Beberapa kamus untuk para spesialis juga ada, seperti FOLDOC (Free Online Dictionary of Computing). Contoh lainnya adalah Bartlett’sumber Familiar Quotations, Encyclopedia Britanica, dan sebagainya. Adapun satu kamus Indonesia – Inggris.
Informasi Kilat / Penyebaran Informasi yang Selektif (Selective Dissemination of Information)
Semacam pelayanan lain yang sudah menjadi biasa di berbagai perpustakaan adalah Informasi kilat (current awareness). Internet adalah cara yang sangat efektif untuk informasi kilat, kalau target kita dapat mengakses Internet langsung.
Satu cara untuk membentuk sistem elektronik untuk informasi kilat adalah untuk mendirikan apa yang disebut Mailing List. Mailing List dapat digunakan untuk sarana penyebaran informasi. Seorang pustakawan mungkin ingin mengirim daftar isi dari beberapa jurnal kedokteran kepada beberapa dokter setiap bulan. Pustakawan itu akan membuat daftar dari alamat e-mail dari dokter-dokter dan perpustakaan profesional di bidang kedokteran dan akan menciptakan semacam Mailing List. Mailing List juga dapat digunakan untuk penyebaran informasi yang selektif. Pustakawan dapat mencari situs Internet yang relevan secara rutin dan jika ada sesuatu yang menarik dari grup Mailing List, mereka dapat mengirimnya melalui e-mail. Dengan Mailing List, pustakawan hanya perlu mengirim artikel sekali saja, dan akan menjangkau semua orang yang ada di daftarnya.
Artikel Jurnal
Jika sebuah perpustakaan tidak dapat berlangganan jurnal tertentu, mereka masih dapat memperolehnya dari Internet. Salah satu cara untuk mendapatkan artkel jurnal tersebut kita dapat mencarinya melalui mesin pencari seperti Google, Altavista dan lain-lain. Artikel jurnal dapat langsung didownload ke keomputer kita. Kita bisa memperoleh artikel jurnal digital baik yang gratis maupun melalui pembayaran.

Untuk layanan yang lebih konvensional kita dapat menyimpan daftar arikel (indeks) di web yang kita miliki (web dapat kita miliki secara gratis). Pemakai yang tertarik dapat meminta fotokopi dari artikel tersebut dan dikirim melalui pos. Artikel dapat pula dikirim melalui e-mail sesudah di scan terlebih dahulu.
Perkembangan Profesional
Ada banyak situs yang dapat dipakai pustakawan untuk meng-upgrade bidang mereka, termasuk jurnal elektronik. Pilihan lain adalah untuk menjadi anggota dari beberapa gurp Usenet terutama untuk pustakawan. Salah satu contoh disebut lis-pub-libs. Ini khusus untuk pustakawan di perpustakaan umum yang mau mengetahui bagaimana memanfaatkan Internet dan sumber-sumbernya. Banyak dari masukan baru-baru ini mengenai konferensi atau lokakarya yang akan datang. Pilihan yang ketiga adalah untuk membuat atau menjadi anggota dari listserv untuk pustakawan.
Sejumlah informasi yang bervariasi mengenai ilmu kepustakaan di situs disebut BUBL information Service. Situs ini menyusun daftar isi sumber internet lain seperti jurnal ilmu pengetahuan elektronik, bibliografi dari artikel mengenai topik perpustakaan, berita mengeani pendidikan ilmu perpustakaan, pertemuan dan konferensi yang akan datang, lowongan pekerjaan dan lainnya.

Penutup
Layanan kepada pengguna merupakan indikator mutu dari perpustakaan kita. Ibarat restoran yang menyajikan masakan sedap kepada para pelanggannya sehingga pelanggan tersebut merasa puas, maka perpustakaan harus bisa memberikan informasi yang dapat memuaskan penggunanya. Layanan yang baik, cepat, akurat dengan informasi yang sesuai kebutuhan pemakai harus selalu diusahakan. Layanan yang seperti itu dapat diberikan dengan bantuan teknologi informasi dan komunikasi. Tantangan perpustakaan dimasa depan adalah bagaimana pustakawan dapat menguasai teknologi informasi dan komunikasi yang memang dibutuhkan untuk meningkatkan layanan perpusakaan.
Daftar Bacaan

Campbell, Jane. Internet dalam Perpustakaan : bagaimana perpustakaan dapat tetap berada di depan (in the forefront) dalam zaman informasi. Makalah disampaikan pada tanggal 9 Oktober 1997 di Institut Pertanian Bogor.
Rahardjo, A. I. Teknologi Informasi: Ancaman Ataukah Peluang Bagi Profesi Pustakawan Indonesia. Makalah pada kongres IPI ke VII, Jakarta 1995.
Mischo, William H. (2005). Digital Libraries: Challenges and Influential Work. D-Lib Magazine, vol. 11 7/8. http://www.dlib.org/dlib/jul05/mischo/07mischo.html. Diakses tanggal 29 Juli 2005.
Rowley, Jennifer (1998). The Electronic Library: Fourth edition of Computers for Libraries. London: Library Association Publishing.
Saleh, Abdul R. (2003). Modul Sarana Penelusuran Informasi. Bogor: Jurusan Ilmu Komputer – FMIPA IPB.
______________ (2001). Pengantar pengoperasioan internet. Bahan pelatihan Apresiasi Internet bagi Staf Pengajar Universitas Siliwangi, Tasikmalaya tanggal 23 Juni 2001.
_______________(2004). Petunjuk praktis membuat dan menampilkan dokumen digital di internet. Bogor: Penerbit IPB.
_______________(2003). Warintek as a strategy to improve the performance of Indonesian SME's through dissemina-tion of appropriate technology information: the role of Academic Libraries. Paper submitted to International Paper Contest, ASIST III.