StatCounter

View My Stats

Senin, 03 Agustus 2009

SEKILAS TENTANG PENGEMBANGAN KOLEKSI PERPUSTAKAAN PERGURUAN TINGGI

SEKILAS TENTANG PENGEMBANGAN KOLEKSI

PERPUSTAKAAN PERGURUAN TINGGI

oleh Widodo H. Wijoyo

Di Postkan Oleh Darwanto, S.Sos

1 PENDAHULUAN

Pada dasarnya, perpustakaan adalah perpaduan antara manusia, tempat/fasilitas dan informasi. Dikatakan perpaduan di sini karena satu dengan yang lainnya saling ketergantungan. Manusia, yaitu pengelolanya dan pemakianya. Tempat/fasilitas merupakan sarana yang digunakan manusia untuk melakukan “transaksi informasi”, sedang informasi - bisa berupa buku, jurnal, majalah, koran dan materi yang lainnya - adalah bahan-bahan yang harus disajikan di perpustakaan. Sehingga dengan keterpaduan tadi akan jelas misi yang diemban oleh sebuah perpustakaan, yaitu antara lain turut mencerdaskan bangsa dengan menyediakan informasi yang diperlukan, melesatarikan nilai-nilai budaya bangsa dan berkiprah dalam pengembangan ilmu dan teknologi. Para pustakawan tahu bahwa, tidak semua misi yang diemban oleh perpustakaan akan bisa tercapai. Hal-hal yang mempengaruhi tercapainya misi perpustakaan adalah, antara lain :

- sistem pelayanan

- staff perpustakaan

- konsidi perpustakaan

- pendanaan untuk perpustakaan

- kondidi koleksi

- peralatan yang disediakan dalam perpustakaan

- perhatian para pimpinan yang lebih tinggi dimana perpustakaan itu bernaung terhadap perpustakaan

Pada tulisan ini tidaklah membicarakan keseluruhan faktor di atas yang mempengaruhi jalannya kegiatan perpustakaan, akan tetapi terfokus pada bidang pengembangan koleksi perpustakaan Perguruan Tinggi.

2 PERPUSTAKAAN DAN MASYARAKAT PEMAKAINYA

Banyak, terutama pengguna, yang tak mengetahui tentang peranan perpustakaan. Mereka mengira perpustakaan hanya tempat untuk menyimpan dan memperoleh buku, majalah, journal dan koleksi yang lain. Mereka tidak berfikir tentang berbagai macam layanan yang disediakan oleh perpustakaan, misalnya memberi petunjuk tentang letak koleksi, melakukan layanan peminjaman, penyediaan data, menjawab pertanyaan referensi, dll. Tentu saja para pustakaan menyadari itu semua demi keberadaan perpustakaan dan pustakawannya.

G. Edward Evan1 mengatakan bahwa, ada 4 tipe : perpustakaan perguruan tingi, perpustakaan sekolah, perpustakaan umum, dan perpustakaan khusus. Dimana satu perpustakaan akan berbeda dengan perpustakaan yang lainnya. Hal ini tergantung dari jenis perpustakaannya yang tentunya dari tipe itu akan mempunyai masyarakat pemakai yang berbeda. Oleh karenanya, koleksinya harus disesuaikan dengan kebutuhan pemakainya. Karena masyarakat pemakainya berbeda, maka sistem pelayanannyapun akan berbeda pula.

3 PERAN PERPUSTAKAAN PERGURUAN TINGGI

Louis Round Wilson dan Maurice F. Tauber2 mengatakan :

adequate resources for carrying out the university’s objectives in instruction, research, and extension implement the function of preserving the accumulating source materials necessary for scholarly pursuits.

dari poin di atas peranan perpustakaan perguruan tinggi dapat diartikan untuk menyediakan koleksi guna menujang tujuan universitas. Koleksinya harus meliputi permatakuliahan yang diselenggarakan dan materi pendampingnya. Dan juga, untuk mendukung riset baik tingkat fakultas maupun universitas. Untuk hal inilah perpustakaan harus menyediakan materi yang berupa antara lain : buku, journal, majalah/koran, manuscripts, dan film.

Sejalan dengan itu, tugas utama perpustakaan perguruan tinggi adalah untuk menyediakan materi guna menunjang terlaksananya TRI DHARMA Perguruan Tinggi di mana perpustakaan itu bernaung, yaitu :

- pendidikan dan pengajaran

- riset dan pengembangan ilmu dan teknologi

- pengabdian pada masyarakat

Mahasiswa datang ke perpustakaan pada dasarnya untuk membaca literatur bagi perkuliahannya. Tidak hanya itu, mereka juga ingin mendapatkan informasi yang lebih untuk keperluan riset maupun untuk referensi thesisnya. Disinilah letak tanggungjawab perpustakaan untuk menyediakan informasi yang diperlukannya, sehingga dengan koleksi itu akan nampak efektifitas perpustakaan. Perpustakaan akan gagal dalam membawakan misinya, apabila koleksinya tak mencukupi sehingga mahasiswa tidak menemukan apa-apa di perpustakaan.

Lain halnya dengan staf pengajar, mereka datang ke perpustakaan untuk keperluan mencari informasi yang up-to-date bagi perkuliahan yang mereka berikan, ataupun untuk keperluan riset. Membangun sebuah perpustakaan untuk riset sangat mahal, karena tentunya para pengajar menginginkan jumlah koleksi yang besar, belum lagi jurnal yang harus di langgan.

Sulit rasanya untuk membangun perpustakaan yang mampu menyediakan kolesi yang dibutuhkan oleh para pemakainya, baik dosen maupun mahasiswa. Alasan yang paling mendasar tentunya mengenai pendanaan untuk perpustakaan. Di sinilah para pustakawan dan para pengambil keputusan akan diuji kemampuannya untuk membuat suatu kebijakan dalam pembinaan koleksi perpustakaan. Yang tentu saja harus bijaksana dalam membelanjakan anggaran, agar dengan dana yang terbatas, kebutuhan “minimum” pemakai perpustakaan terpenuhi. Yang dimaksud dengan kebutuhan minimum di sini adalah tersedianya koleksi referensi bagi perkuliahannya.

4 KEBIJAKSANAAN PENGEMBANGAN KOLEKSI DI PERPUSTAKAAN PT

4.1. Instilah Collection Development dan Maknanya

Eward Evans3 memberikan batasan istilah “collection development” sebagai suatu proses untuk mengetahui peta kekuatan dan kekurangan atau kelemahan koleksi perpustakaan, sehingga dengan demikian akan tercipta sebuah planning untuk memperbaiki peta kelemahan tadi dan mempertahankan kekuatan koleksi. Dia menambahkan bahwa, “collection developmet is a ‘written statement’ of that plan, providing details for guidance of the library staff”. Karena pengembangan koleksi merupakan statemen tertulis, maka tentunya harus berupa sebuah dokumen. Dokumen itu akan berisi rincian rencana kegiatan dan segala informasi yang digunakan oleh pustakawan sebagai dasar dalam berfikir dan menentukan kebijaksanaan saat mengembangkan koleksi perpustakaannya. Dokumen ini digunakan sebagai tempat untuk berkonsultasi saat pustakawan akan menentukan bidang-bidang koleksi apa yang akan dibeli dan berapa banyak untuk masing-masing bidang itu.

Tanpa statemen yang tertulis, maka akan terjadi perbedaan pandangan dalam mengembangkan loleksi perpustakaan, karena di dalam pengembangan koleksi itu akan melibatkan sejumlah orang dari tiap-tiap fakultas/jurusan. Sebagai contohnya, Fakultas Ekonomi akan mengembangkan koleksinya tentang ekonomi, sementara untuk Fakultas Pertanian Jurusan Ekonomi Pertanian juga akan mengembangkan Ekonomi. Dari contoh ini, mungkin akan terjadi kesamaan judul, sehingga akan memboroskan pendanaan. Oleh karenanya, Evan mengatakan bahwa, fungsi daripada statemen kebijaksanaan antara lain adalah :

- sebagai alat untuk menyatukan pendapat dalam bidang apa yang perlu dikembangkan

- sebagai alat koordinasi atara orang-orang yang terlibat / bertanggungjawab dalam pengembangan koleksi

- sebagai alat untuk mencapai konsistensi di dalam pembinaan koleksi

- sebagai alat untuk megurangi jumlah personil pengambil keputuan

- sebagai alat untuk menghindari perbedaan pendapat atara orang yang terlibat di dalam pengembangan koleksi dan para pemakai perpustakaan

4.2 Jenis-jenis Pekerjaan Dalam Pengembangan Koleksi

Dalam pengembangan koleksi harus mencakup kebijaksanaan antara lain : siapa yang terlibat di dalam pembinaan koleksi, prioritas dalam pembinaan koleksi, penanganan materi yang berasal dari hadiah, weeding, komplain dan kerjasama antar perpustakaan,

4.2.1. Yang Terlibat Dalam Pembinaan Koleksi

Karena perpustakaan selalu berorientasi kepada kebutuhan masyarakat pemakainya, maka dalam pembinaan koleksi harus pula melibatkan mereka. Dalam pembinaan koleksi tersebut disamping melibatkan para pustakawan, staff pengajar dan para mahasiswa harus pula dilibatkan. Para pustakawan perlu dilibatkan, karena mereka mengetahui akan kebutuhan masyarakat pemakainya dan memegang data mengenai banyaknya pengunjung yang datang ke perpustakaan, maupun data mengenai koleksi bidang apa yang sering dipakai atau diperlukan. Mereka juga mempunyai data mengenai terbitan terbaru. Hal ini karena perpustakaan sering dipakai sebagai ajang promosi terbitan baru. Staf pengajar dan mahasiswa perlu dilibatkan, karena majoritas merekalah yang akan memanfaat koleksi perpustakaan.

4.2.2. Survei Kebutuhan Pemakai

Survey kebutuhan pemakai dapat dilakukan atara lain dengan menyediakan form untuk diisi oleh pemakai sebagai saran yang perlu dikembangkan. Atau dengan pengirimkannya langsung ke staf pengajar untuk diisi dan dikembalikan ke perpustakaan.

4.2.4. Prioritas dalam Pembinaan Koleksi

Dalam pengembangan koleksi, prioritas merupakan suatu hal yang perlu diperhatikan. Tim pengembangan koleksi perlu mengambil langkah-langkah untuk menentukan skala prioritas tadi. Menentukan subject mana yang perlu dikembangkan sejalan dengan sangat terbatasnya dana, misalnya dengan memprioritaskan kebutuhan primair, yaitu referensi bagi mata perkulihan yang sedang berjalan baru kemudian penyediaan materi pendamping.

Negara-negara maju telah menyediakan anggaran untuk pengembangan koleksi perpustakaan minimal 3% dari jumlah total pengeluaran suatu Perguruan Tinggi tiap tahunnya, bahkan ada yang mengalokasikan danyanya untuk perpustakaan sampai 6%. Di University of Tasmania, dana untuk perpustakaan adalah 8% dari jumlah total pengeluaran perguruan tinggi itu. Dari total alokasi itu jumlah yang terbesar adalah untuk pengembangan koleksi journal. Mereka berkeyakinan bahwa, journal merupakan informasi yang paling akurat dari sebuah penelitian.

4.2.5. Penanganan Materi Dari Hadiah

Tak ada koleksi yang datang ke perpustakaan dengan cuma-cuma menjadi bagian koleksi perpustakaan, sekalipun itu berupa hadiah. Karena setiap koleksi yang datang akan diproses seperti halnya materi yang berasal dari pembelian. Dalam pemrosesan inilah tentunya diperukan tenaga, pikiran, waktu dan bahkan, walaupun kecil : beaya. Sehingga apa yang dikeluarkan dalam pemrosesan tadi akan terbuang percuma kalau materi tersebut tidak bisa dimanfaatkan oleh para pemakai perpustakaan. Di sinilah, bagian seleksi koleksi perpustakaan dengan rekomendasi dari pimpinan perpustakaan akan menentukan apakah materi tersebut perlu disajikan di perpustakaan. Kalaulah dianggap tidak akan memberi manfaat kepada pemakai dan agar untuk menjaga citra perpustakaan sebagai tumpukan sampah yang tak bisa dimanfaatkan, maka sebaiknya koleksi tersebut perlu dijauhkan. Mungkin bisa ditawarkan ke jurusan atau fakultas yang bisa memanfaatkannya.

4.2.6. Weeding

Weeding atau penyiangan adalah salah satu bagian yang penting dalam kegiatan perpustakaan apabila tidak menginginkan koleksinya hanya merupakan tumpukan materi yang pernah diterbitkan. Oleh karenanya, harus diadakan penyiangan yang regular, berkelanjutan dalam proses kegiatan perpustakaan. Untuk melaksanakan penyiagan, Carter4 menyarankan kategori buku yang dianggap bisa disiang :

- duplikasi judul, buku ini terbeli karena banyaknya permintaan, dan sekarang tidak dimanfaatkan lagi

- edisi lama, di mana edisi yang baru telah ada dan perpustakaan tidak menginginkan nilai historisnya

- buku-buku yang telah rusak dan tidak mungkin untuk bisa dimanfaatkannya lagi

- buku-buku yang telah ketinggalan baik mengenai isi, bentuk maupun themanya

4.2.7. Komplain

Problem utama yang sangat menyita waktu di dalam pembinaan koleksi adalah penanganan komplain/keluhan tentang koleksi. Para pustakawan mungkin akan menjumpai keluhan, sekalipun relatif kecil jumlahnya. Di dalam keluhan tersebut termasuk juga mengapa kebijaksanaan pengembangan koleksi sampai demikian. Untuk menangani hal ini, maka akan dibentuk suatu tim khusus untuk meninjau kembali dokumen kebijaksanaan karena dokumen itu didasarkan atas kebutuhan mahasiswa.

4.2.8. Kerjasama Antar Perpustakaan

Dari waktu ke waktu perpustakaan selalu memperbaiki dan meningkatkan pelayanannya. Layanan perpustakaan boleh dikatakan bagus kalau dilaksanakan dengan cepat, effisien, cermat dan tepat. Hal lain yang perlu diperhatikan dalam layanan perpustakaan adalah sikap pustakawan terhadap pemakai berpustakaan, misalnya : harus berjiwa suka membantu dan ramah. Tak satupun perpustakaan yang mampu memberikan atau menyediakan apa yang diinginkan oleh para pemakai perpustakaan. Alasan yang paling mendasar adalah terbatasnya dana. Dan tentunya perpustakaan akan gagal membawakan misinya apabila perpustakaan itu mengisolasikan diri dan seolah-olah mampu memberikan layanan hanya dengan kekuatan koleksinya saja.

Untuk memecahkan masalah terbatasnya dana, salah satunya adalah dengan membuka diri dengan perpustakaan lain. Mejalin kerjasama antar perpustakaan Perguruan Tinggi atau dengan perpustakaan khusus lainnya. Hal ini dapat dilakukan dengan saling tukar informasi mengenai tambahan koleksi, saling tukar koleksi, saling meminjam koleksi yang sesuai dengan permintaan, dll.

5 KESIMPULAN

Pembinaan koleksi mencakup berbagai kegiatan: survey kebutuhan pemakai, memproses data, membuat keputusan, evaluasi sampai di mama kebijaksanaan itu apakah telah sesuai dengan tujuan, dllnya. Dalam pembinaan koleksi perpustakaan akan melibatkan sejumlah orang dari berbagai fakultas/jurusan.

Tak satupun perpustakaan akan mencapai tujuannya hanya dengan kolesinya sendiri. Oleh karenanya, kerjasama antara perpustakaan sangat diperlukan.

——————–

REFERENCES

1. CARTER, Mary Duncan, Wallace John Bonk and Rose Mary Magrill. Building library collections. 4th ed. Metuchen N.J.: Scarecrow Press, 1974.

2. CURLEY, A. and D. Broderick. Building library collections. 6th ed. Metuchen: Scarecrow Press, 1985.

3. EVANS, G. Edward. Developing library & information center collection. 2nd ed. Littleton, Colorado: Libraries Unlimited, 1987.

4. FUTAS, Elizabeth, ed. Library acquisition policies and procedures. Phoenix, AZ: Oryx Press, 1977.

5. WILSON, Louis Round and Maurice F. Tauber. The University library: the organization, administration, and fuctions of academic library. 2nd ed. New York: Columbia University Press, 1956.

1 Evan, G. Edward. Developing library and information center collections. 2nd ed. Littleton, Colorado : Libraries Unlimited, 1979. p. 24.

2 Wilson, Louis Round and Maurice F. Tauber. The University library : the organisation, administration, and fuction of academic library. 2nd ed. New York : Columbia University Press, 1956. p. 19 - 20.

3 Evans, ibid., p. 28 - 29.

4 Carter, Mary Duncan, Wallace John Bonk and Rose Mary Magrill. Bulding library collections. 4th ed. Metuchen N.J.: The Scarcron Press, 1974. p. 1969.

Selasa, 14 Juli 2009

koleksi Referensi

Pada umumnya koleksi perpustakaan ditinjau dari isinya terdiri dari dua jenis, yaitu koleksi sirkulasi (buku teks yang biasa dipinjamkan) dan koleksi referensi (koleksi rujukan). Dalam memanfaatkan perpustakaan yang harus diketahui dan dipamahi oleh para pengguna adalah memahami masing-masing fungsi dari jenis koleksi tersebut agar dalam mencari informasi di perpustakaan berjalan efektif dan efisien.



Koleksi sirkulasi (buku teks) umumnya merupakan buku-buku ajar dimana setiap babnya merupakan satu kesatuan yang saling berhubungan pokok bahasannya. Sehingga dalam pemanfaatannya biasanya harus dibaca secara keseluruhan.

Berbeda dengan koleksi referensi, koleksi ini merupakan koleksi yang memberikan penjelasan tentang informasi tertentu. Informasi ini bersifat menyeluruh dalam lingkupnya; uraiannya padat, fungsinya memudahkan penemuan informasi dengan cepat, tepat dan benar. Koleksi ini disusun dengan sistem tertentu: sistem alfabetis (kamus, ensiklopedi), sistem kronologis (ikhtisar), sistem tabel (statistik), sistem wialayah (atlas, peta), sistem golongan-golongan (bibliografi, handbook, almanak) (Lasa, 1990: 70).



Jenis Koleksi Referensi:

1. Kamus

2. Ensiklopedi

3. Buku Pegangan (handbook)

4. Almanak

5. Direktori

6. Biografi

7. Bibliografi

8. Indeks dan Abstrak

9. Sumber Geografi



u
Kamus

merupakan daftar kata yang disusun urut abjad/alfabetis disertai artinya. Kadang-kadang diberikan lawan kata, asal kata, kesamaaan kata.

Jenis kamus:

Monolingual: kamus yang terdiri dari satu bahsa, misal Kamus Umum Bahasa Indonesia

Bilingual: Kamus yang memuat dua bahasa, artinya kata-kata yang disusun diartikan oleh bahasa yang berbeda, misal: Kamus Inggris - Indonesia

Poliglot: Kamus yang terdiri dari tiga bahasa atau lebih, misal: Kamus Teknik Inggris, Belanda, Indonesia

u
Ensiklopedi

merupakan daftar subyek tentang berbagai macam bidang yang disusun alfabetis, disertai uraian, sejarah, latar belakang masalah dsb.

Untuk menjaga otoritas suatu ensiklopedi dan mengingat perkembangan ilmu pengetahuan itu cepat sekali, maka tiap tahun diterbitkan buku tambahan (suplemen).

Contoh: Encyclopedia of Brittanica, Encyclopedia of Religion








u
Buku Pegangan

merupakan koleksi referensi yang memuat bunga rampai informasi yang dipusatkan pada pokok bahasan atau subyek tertentu yang dipergunakan sebagai pedoman dalam mengerjakan sesuatu.

Contoh: Public Relations's handbook





u
Almanak

merupakan buku tahunan yang memuat informasi tentang kejadian dan perkembangan berbagai hal yang terjadi dalam jangka waktu tertentu, biasanya berisi juga data statistik.

u
Direktori

yaitu daftar nama orang dan/ atau organisasi dalam bidang tertentu yang disusun sistematis. Ada yang disusun alfabetis, ada pula yang disusun menurut golongan ilmu pengetahuan. Biasanya disertai juga alamat, organisasi/orang dalam bidang tertentu, jumlah staf, jenis kegiatan dsb. Direktori berguna bagi lembaga, kantor yang sering ingin mengadakan komunikasi dan kerjasama dalam bidang tertentu.







u
Biografi

koleksi referensi yang memuat informasi mengenai tanggal lahir dan atau mati seseorang, juga mengenai kualifikasi, kedudukan, kegiatan , alamat juga riwayat hidup dll.





u
Bibliografi

merupakan koleksi referensi yang berupa daftar buku dari bidang ilmu tertentu yang disusun secara sistematis pengarang, periode waktu tertentu, subyek , dsb. Bibliografi sendiri tidak memuat isi subyek tetapi hanya merupakan daftar.





u
Indeks & Abstrak

Indeks: daftar yang disusun secara secara sistematis yang bisa memberikan informasi tentang sesuatu hal dan memungkinkannya untuk diikuti

Abstrak: ringakasan atau sari karangan dari suatu penerbitan atau artikel disertai sekedar gambaran bibliografi untuk memungkinkan artikel atau penerbitan itu dapat diikuti.







u
Sumber Geografi

koleksi refrensi yang khusus memuat informasi geografis yang penyajiannya berupa atlas, map, globe, kamus ilmu bumi.

Senin, 13 Juli 2009

Inovasi Pustakawan di Perpustakaan Perguruan Tinggi

Inovasi Pustakawan di Perpustakaan Perguruan Tinggi
By intanghina
Di Postkan Oleh : Wanto

Inovasi Pustakawan

Rutinitas kerja di perpustakaan kadang kala memunculkan rasa jenuh, apalagi yang dikerjakannya hanya satu garapan saja, misalnya hanya memberikan layanan sirkulasi, atau terus menerus bekerja di bagian pengolahan. Hal tersebut tentunya menimbulkan kebosanan/rasa jenuh.

Untuk menghilangkan kejenuhan bekerja ada banyak cara, baik dengan kebijakan rotasi, mutasi atau memberikan rekreasi bagi pustakawan. Dan satu hal yang sebaiknya sering dilakukan oleh pustakawan adalah membuat suatu inovasi. Inovasi menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia (2002) adalah pengenalan hal-hal yang baru (pembaharuan). Inovasi dilakukan berdasarkan pengalaman dan kajian di perpustakaan. Ada banyak cara untuk melakukan inovasi di perpustakaan, hal ini sangat tergantung dari kondisi perpustakaan yang bersangkutan. Adapun beberapa contoh inovasi yang pernah dilakukan di perpustakaan antara lain:

1. Membuat Sistem Informasi Perpustakaan. Masih banyak perpustakaan perguruan tinggi yang belum memiliki sistem informasi perpustakaan. Dalam hal ini pustakawan dapat melakukan inovasi merancang sistem informasi dengan cara bekerjasama dengan pihak lain, baik pembuat software bila memiliki dana yang cukup, mencari software free perpustakaan, atau memanfaatkan mahasiswa yang melakukan penelitian tentang sistem informasi di perpustakaan.
2. Informasi Terseleksi. Mengapa informasi terseleksi saya sebut inovasi, karena di perpustakaan begitu banyak informasi tersedia, namun ada beberapa informasi yang sangat dibutuhkan oleh clien, tergantung dari kebutuhannya. Salah satu contoh yang pernah dilakukan adalah mengumpulkan informasi tentang Audit Sumber Daya Manusia. Berbekal rasa peduli terhadap mahasiswa yang melakukan penelitian tentang Audit SDM, mencoba menelusur buku yang berkautan dengan hal tersebut, dan ternyata berdasarkan fenomena yang ditemukan di lapangan sangat sedikit sekali buku-buku yang berkaitan dengan judul tersebut, bahkan sudah berkali-kali mencari informasi ke toko buku baik ke Gramedia maupun Palasari, yang ada hanya satu karangan Willy Susilo. Akhirnya mencoba menelusur buku satu per satu yang bertautan dengan SDM dilihat daftar isi satu per satu, dan ternyata ada beberapa buku yang menjelaskan tentang Audit SDM di dalam buku Manajemen Sumber Daya Manusia. Selanjutnya buku tersebut difotocopy dan disatukan/dikliping menjadi satu buku, khusus tentang Audit SDM, buku tersebut dijilid dan disimpan di perpustakaan. Dengan inovasi ini banyak clien yang merasa terbantu, terutama yang sedang melakukan penelitian tugas akhir Audit Sumber Daya Manusia.
3. Counter pengunjung. Data kunjungan merupakan salah satu indikator kinerja perpustakaan, karena dengan melihat data kunjungan dapat terlihat perkembangan pengunjung yang memanfaatkan fasilitas perpustakaan. Dengan sistem manual hal ini agak sulit dilakukan, kadang kala pengunjung malas untuk mengisi data kunjungan, oleh karena itu perlu diadakan counter pengunjung secara otomatis. Dan hal ini dapat dibuat dengan berbagai cara, dari mesin yang termurah sampai mesin yang canggih, sangat tergantung dari dana yang dimiliki perpustakaan. Penulis menyarankan kiranya dapat menggunakan mahasiswa atau praktikan di perpustakaan, seperti yang telah dilakukan di UPT Perpustakaan Unpas dalam waktu tidak lebih dari 3 bulan counter pengunjung dapat dibuat dan pengunjung tinggal menggesekkan kartu anggota perpustakaan ke counter pengunjung, atau mengetikan nomor pokok mahasiswa.

Demikianlah beberapa contoh inovasi yang dapat dilakukan pustakawan di perpustakaan, selamat berkarya semoga dapat memacu perkembangan perpustakaan.

Selasa, 30 Juni 2009

Untuk Kakanya Pak Teddy

Prediksi Passing Grade SMP dan SMA Negeri Bandung 2008 / 2009 (updated)
June 26, 2008
by fauzanalfi
Prediksi “Passing Grade” SMP Negeri Kota Bandung 2008 / 2009


SMP PG SMP PG
SMPN 1 25,80 SMPN 27 24,20
SMPN 2 27,00 SMPN 28 25,55
SMPN 3 26,00 SMPN 29 21,50
SMPN 4 24,45 SMPN 30 25,40
SMPN 5 27,40 SMPN 31 23,85
SMPN 6 21,85 SMPN 32 21,45
SMPN 7 26,20 SMPN 33 21,65
SMPN 8 26,80 SMPN 34 25,65
SMPN 9 24,95 SMPN 35 22,15
SMPN 10 23,45 SMPN 36 21,80
SMPN 11 24,70 SMPN 37 22,10
SMPN 12 25,30 SMPN 38 22,25
SMPN 13 26,55 SMPN 39 22,60
SMPN 14 26,35 SMPN 40 23,30
SMPN 15 23,95 SMPN 41 22,65
SMPN 16 24,10 SMPN 42 21,75
SMPN 17 25,15 SMPN 43 24,30
SMPN 18 24,55 SMPN 44 24,80
SMPN 19 22,45 SMPN 45 22,35
SMPN 20 23,55 SMPN 46 22,00
SMPN 21 21,35 SMPN 47 21,95
SMPN 22 23,75 SMPN 48 22,50
SMPN 23 21,55 SMPN 49 23,00
SMPN 24 22,75 SMPN 50 23,65
SMPN 25 23,10 SMPN 51 22,90
SMPN 26 23,20 SMPN 52 21,30

Jumat, 12 Juni 2009

TRANSFORMASI DUNIA PERPUSTAKAAN1

TRANSFORMASI DUNIA PERPUSTAKAAN1

Diao Ai Lie
Poskan Oleh : Darwanto S Sos

The perceived overabundance of information in 1860 is, of course, insignificant compared with
the figures from the 2000 study How much information? (www.sims.berkeley.edu/how-muchinfo/
summary.html) that the world’s total annual production of print, film, optical and magnetic
content would require the equivalent of 250 megabytes per person for every person on earth.
Print documents only account for a very small part of the total, but still include 65 million titles,
and 2.75 billion book sales a year. (Bundy, 2001)
Kutipan tersebut di atas memperlihatkan gambaran tentang era yang kita sedang hidupi
bersama sekarang ini dan yang akan lebih mencengangkan lagi di masa-masa
mendatang. Pemicunya adalah teknologi informasi dan komunikasi (ICT) yang juga
terus berkembang cepat.
ICT memungkinkan pekerjaan dilakukan tanpa atau dengan sedikit sekali campur
tangan manusia. ICT juga mempermudah dan mempercepat perekaman,
pengorganisasian, editing, penelusuran kembali, penyebaran, dan sharing, informasi
dan pengetahuan serta sumber-sumbernya (termasuk manusia) dalam bentuk multiformat:
tacit, explicit; teks, audio, video, audio-visual, dsb.; tanpa memandang bidang
ilmu dan kegiatan. Hal ini memacu terciptanya masyarakat pengetahuan (knowledge
society) yang demokratis. Siapa saja bisa mempunyai akses ke sumber-sumber
informasi dan pengetahuan, dan bisa dengan mudah mempublikasikan karyanya, di
Internet. Siapa saja tanpa memandang status sosial ekonominya bisa berpartisipasi
dalam suatu milis. Orang pun menjadi semakin mudah untuk melakukan multi-tasking
(beberapa tugas dalam waktu yang sama hanya melalui satu komputer). ICT juga
memudahkan orang untuk berpikir dan menuangkan gagasannya secara multi-format
dan non-linear. Kemampuan ICT ini juga meningkatkan percepatan cross-breeding
informasi dan pengetahuan yang bukan lagi dalam disiplin atau bidang kehidupan yang
sama, tetapi juga secara intra- dan bahkan inter-disiplin atau bidang kehidupan.
Sebagai akibat dari itu, masyarakat menempatkan informasi dan pengetahuan sebagai
asset yang terpenting untuk meraih sukses di segala bidang, bahkan untuk
mendapatkan waktu luang yang berkualitas. Itulah sebabnya kita mendengar istilahistilah
seperti information society, knowledge society, knowledge economy. Dalam
masyarakat informasi atau ekonomi berbasis pengetahuan, keunggulan masyarakat
atau kegiatan ekonomi ditentukan oleh sejauh mana suatu keputusan dan tindakan
diambil lebih berdasarkan pengetahuan daripada asset lainnya (seperti uang, energi,
teknologi, kekuasaan, dsb.).
Dengan perkataan lain, ledakan informasi dan pengetahuan serta kemajuan ICT,
kedudukan informasi dan pengetahuan dalam information society sebagai asset yang
1 Gabungan antara makalah yang disampaikan dalam Musyawarah Kerja Nasional II dan
Seminar Ilmiah Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi Indonesia (FPPTI), yang diselenggarakan
pada tanggal 16-18 September 2003 di Pusat Studi Jepang Universitas Indonesia, Depok; dan
makalah yang dipresentasikan dalam “Perpustakaan dan Layanan Informasi: Kebutuhan
Pengelola Perpustakaan-pengguna dan masyarakat (a Refreshment Training)” yang
diselenggarakan pada tanggal 3-4 Agustus 2004, di Bandung, kerjasama UPT Perpustakaan ITB
dan The British Council.
terpenting untuk meraih sukses di segala bidang, membuat semua pihak melakukan
transformasi, kalau tidak mau tertinggal. Perpustakaan sendiri akan diabaikan kalau
tidak dapat membantu pengguna lebih daripada kemampuan pengguna dalam
memanfaatkan ICT dan informasi.
Transformasi adalah perubahan yang bersifat struktural, secara bertahap, total, dan
tidak bisa dikembalikan lagi ke bentuk semula (irreversible) (Danabalan, 1999). Dalam
arti inilah transformasi perpustakaan dibicarakan, yaitu terutama dari segi fungsi dan
fasilitas. Sebagian dari hal ini sudah pernah ditulis dalam Diao (2003).
A. TRANSFORMASI FUNGSI
Konteks tersebut di atas mengisyaratkan bahwa perpustakaan perlu melakukan
transformasi. Dari segi fungsi, perpustakaan harus berusaha memainkan peranan
penting dalam menambah nilai pada informasi dan juga pada perpustakaan itu sendiri,
kalau tidak mau dikesampingkan oleh pengguna yang semakin dimudahkan oleh ICT
dalam mengakses informasi dan pengetahuan. Caranya yaitu dengan melakukan
streamlining, ekspansi, dan inovasi. Tabel berikut ini memperlihatkan perubahan
fungsi perpustakaan sebelum dan sesudah era Internet.
Tabel 1: Transformasi Fungsi Perpustakaan
Sebelum Internet Sesudah Internet
Memberikan multi-entry service atau
pelayanan yang terpisah untuk
pengadaan, pengolahan, transaksi
peminjaman, referensi, dsb.
Menyediakan one-stop service: multifunctional
librarians serving multi-tasking
customers
Mengumpulkan informasi dan
pengetahuan (umumnya tercetak) secara
lokal
Mengkoleksi dan menyediakan akses ke
informasi dan pengetahuan serta sumbersumbernya
yang tersebar di seluruh dunia,
dalam multi-format (termasuk tacit)
Menjaga koleksi dan akses informasi dan
pengetahuan
Menambah nilai pada informasi dan
pengetahuan (adding value)
Melayani individu atau kelompok tanpa
melihat potensi hubungannya dengan
individu atau kelompok lain
Melayani individu atau kelompok sebagai
anggota jaringan
Memberikan pelayanan di tempat (on site)
dan sebatas jam pelayanan
Memberikan pelayanan on-line 24 jam
Manajemen informasi: memberikan
pelayanan sebatas akses informasi dan
pengetahuan
Manajemen pengetahuan: memberikan
pelayanan bervariasi dan dinamis meliputi
seluruh siklus pengetahuan (mulai dari
penciptaan, perekaman dan publikasi,
penyebaran, penggunaan, dan penciptaan
kembali, pengetahuan)
Memberikan pendidikan pemakai sebatas
mengenai pemanfaatan perpustakaan
(library skills and literacy)
Meningkatkan information skills and
literacy sedemikian rupa sehingga
pengguna dapat memanfaatkan ICT untuk
mengakses dan memanfaatkan informasi
secara kritis; serta merekam,
mempublikasi atau share, pengetahuan
dengan efisien.
Di samping saling berkaitan, fungsi-fungsi yang baru tersebut belum lengkap daftarnya,
karena perpustakaan dalam masyarakat pengetahuan dituntut untuk terus-menerus
melakukan inovasi dalam menangkap peluang untuk menambah nilai pada organisasi
maupun informasi dan pengetahuan yang ditanganinya. Berikut ini adalah uraian
tentang fungsi-fungsi yang baru.
Menyediakan One-stop service: multi-functional librarians serving multi-tasking
customers
ICT memungkinkan pustakawan dan pengguna untuk melakukan multi-tasking di
komputer yang sama. Pekerjaan tradisional perpustakaan (yaitu, akuisisi, pengolahan,
dan penyebaran informasi; dan juga pengelolaannya) dapat dilakukan melalui satu
komputer, dan dengan prosedur yang jauh lebih pendek dibandingkan dengan kalau hal
itu dilakukan secara manual dan menyangkut bahan non-elektronik. Seorang
pustakawan bisa menerima pesanan untuk mencari informasi suatu topik, melakukan
pencarian di dalam dan luar perpustakaan tempat ia bekerja, memesan pada toko buku
dan/atau men’download’ dari Internet atau perpustakaan lain, mengolah informasi yang
didapatkannya, dan menyampaikannya pada si pemesan, tanpa harus berpindah
komputer apalagi melakukan perjalanan ke luar perpustakaan.
Pengguna juga dapat melakukan beberapa tugas sekaligus melalui sistem
perpustakaan. Waktu mencari suatu informasi, misalnya ‘gender’, dia bukan hanya bisa
mendapatkan sumber informasi non-personal, tetapi juga nama-nama pengguna yang
mempunyai keahlian di bidang ini. Kemudian dia bisa memilih dengan meng’klik’nya
dan berdiskusi dengan orang tersebut. Karya tulis yang dikerjakannya di komputer
tersebut dapat juga dia kirimkan ke orang-orang yang dia inginkan masukannya. Dia
juga bisa menaruh karya tersebut di database perpustakaan supaya bisa diberi
masukan oleh siapa saja. Selain itu, dia juga bisa mencek sudah sejauh mana pesanan
buku yang dia ajukan ke perpustakaan ditindaklanjuti, melihat menu makanan di kantin
universitas atau jadwal kereta api, dsb. Semuanya ini mudah dilakukan dengan bantuan
ICT.
Menyediakan Koleksi dan akses informasi dan pengetahuan dalam multi-format
Seperti diketahui informasi dan pengetahuan tersaji dalam pelbagai bentuk dan sumber.
Di samping teks dan cetakan, ada bahan-bahan multi-media, digital, hypertext, dsb.
Perpustakaan perlu menyediakan akses ke semua sumber tersebut, termasuk juga
pertemuan dan diskusi formal dan informal
Menambah nilai pada informasi dan pengetahuan (adding value)
Kebutuhan Informasi dan pengetahuan mempunyai konteks. Nilai informasi dan
pengetahuan ditentukan oleh sejauh mana informasi dan pengetahuan yang disajikan
sesuai dengan konteks seorang pengguna. Penyediaan akses informasi yang
disesuaikan dengan konteks dapat dilakukan melalui pelayanan personalised library,
konsultasi, berdasarkan profil pengguna dan informasi tentang tahap dan jadwal
kegiatan. Cara yang lain adalah dengan melibatkan pengguna dalam kegiatan
perpustakaan (misalnya, menentukan kata kunci untuk suatu sumber, link ke suatu situs,
dsb.).
Nilai informasi juga bisa ditingkatkan dengan cara menyediakan akses hanya ke
sumber-sumber yang dapat dipercaya kualitasnya. Caranya yaitu dengan, misalnya,
membuat portal atau pintu masuk ke sumber-sumber yang sudah diseleksi oleh
perpustakaan atau lembaga lain (misalnya: virtual libraries, subject-based gateways).
Nilai informasi juga meningkat bila diberikan pada waktu yang tepat, dan dapat
digunakan dengan mudah. Secara rinci Skyrme (2002) menyebutkan 10 aspek yang
dapat meningkatkan nilai informasi, yaitu, timeliness, accessibility, usability, utility,
quality, customised, medium, repackaging, flexibility, dan reusability.
Melayani individu atau kelompok sebagai anggota jaringan
Kemajuan ICT memudahkan dan mendorong terjadinya kolaborasi di antara orangorang
dan kelompok-kelompok yang tidak saling kenal dan dipisahkan oleh jarak dan
waktu. Ini berarti, perpustakaan harus membantu individu dalam melakukan
pengelolaan pengetahuan dalam konteks jaringan, yaitu dengan cara mendorong dan
menyediakan fasilitas untuk mereka terhubung, berbagi pengetahuan dan berkolaborasi,
dengan orang-orang di dalam dan luar kelompoknya.
Memberikan pelayanan on-line 24 jam
Fasilitas perpustakaan digital dan Internet memungkinkan perpustakaan diakses dan
digunakan tanpa memandang waktu dan jarak. Hal ini akan menambah nilai pada
perpustakaan yang bersangkutan.
Manajemen pengetahuan
Siklus pengetahuan meliputi penciptaan, perekaman dan organisasi, penyebaran dan
akses, penggunaan, dan dilanjutkan dengan penciptaan kembali pengetahuan. Selama
ini, perpustakaan (termasuk kajiannya) lebih banyak berfokus pada organisasi
(kataloging, dsb.) dan penyebaran (termasuk pencarian informasi). Di samping itu,
perpustakaan lebih memperhatikan pengetahuan yang sudah terekam di luar pikiran
penciptanya. Padahal banyak pengetahuan yang masih ada dalam kepala (dan belum
pernah direkam dalam sumber-sumber informasi yang umumnya dikelola oleh
perpustakaan selama ini).
Untuk meningkatkan nilainya, perpustakaan harus memfasilitasi dan berpartisipasi pasif
maupun aktif dalam manajemen pengetahuan penggunanya. Caranya yaitu dengan
melakukan kegiatan dan meyediakan fasilitas yang memudahkan terjadinya keseluruhan
proses pengetahuan, misalnya menstimulasi terjadinya diskusi di perpustakaan maupun
di milis, merangkum dan membuat resensi diskusi-diskusi tersebut; membantu
pengguna untuk melakukan e-publishing, sharing, menyiapkan publikasi dalam pelbagai
format (misalnya, menyajikan hasil penelitian dalam bentuk film), mengelola file-file
elektroniknya; dsb.
Meningkatkan information skills and literacy
Kemajuan pesat ICT memungkinkan akses yang tidak terbatas ke sumber-sumber
informasi dan pengetahuan yang tidak semuanya terjamin mutunya. Hal ini dengan
sendirinya meningkatkan kebutuhan pengguna akan penguasaan ICT dan kemampuan
untuk mengakses (secara fisik dan intelektual), menseleksi, serta mengeksploitasi
informasi dan pengetahuan tersebut, sedemikian rupa sehingga membantu terciptanya
pengetahuan baru. Untuk itu perpustakaan perlu menyediakan training on site, online,
maupun offline untuk information literacy yang di dalamnya juga termasuk ICT literacy.
Topiknya meliputi kemampuan untuk mengenali informasi dan teknologi yang
dibutuhkan, membangun strategi untuk mencari dan menemukan hal tersebut,
mengevaluasi informasi dan sumbernya, mengorganisir dan menggunakannya
sehingga berguna untuk menciptakan pengetahuan baru, dan mengkomunikasikannya
(SCONUL seperti dikutip oleh Naibaho, 2004)
B. TRANSFORMASI FASILITAS
ICT
Untuk menjalankan fungsi baru tersebut di atas, perpustakaan perlu mengembangkan
fasilitas yang lebih dari sekedar perpustakaan digital, yaitu perpustakaan digital dengan
fasilitas untuk:
1. menghubungkan orang-orang yang bekerja dengan topik yang sama atau serupa
Untuk ini perlu dibuat fasilitas penghubung dengan para ahli yang ada di dalam
dan luar kampus, database ahli, dan fasilitas diskusi melalui milis, dan konsultasi
on-line atau liwat e-mail.
2. menghubungkan orang dengan informasi, yang terdapat di dalam dan luar
kampus
Di samping pangkalan data lokal, perpustakaan juga harus menyediakan links
dengan sumber-sumber di luar.
3. merekam (capture) jalannya dan hasil pertemuan (termasuk rapat, seminar,
kuliah, dsb.)
4. mempublikasi dalam pelbagai format (untuk ini diperlukan misalnya, software
untuk video editing, web development, dsb.)
5. meng’upload’ file multiformat bahkan sejak draft pertama, dan mendiskusikan
karya yang di’úpload’ tersebut
6. membuat perpustakaan digital pribadi, yaitu dengan fasilitas untuk membuat link
dengan sumber-sumber di dalam dan luar perpustakaan menurut kata-kata kunci
dan hubungan antar-kata kunci tersebut, yang ditentukan oleh pengguna sendiri
7. membuat modul-modul untuk training literacy skills secara on-line maupun offline
8. merekam semua transaksi yang pernah terjadi antara perpustakaan dan
pengguna, sedemikian rupa sehingga perpustakaan dapat memanfaatkan
akumulasi pengetahuan ini dengan mudah untuk mempercepat dan
meningkatkan mutu pelayanan dan proses pengetahuan.
Informasi yang perlu direkam adalah mengenai pengguna (minat, keahlian,
publikasi, kegiatan, dsb.), informasi yang pernah dicarinya, dan bagaimana
hasilnya; keluhan, kritik, dan usulan yang pernah disampaikannya; bagaimana
atau sejauh mana tanggapan perpustakaan mengenai hal-hal tersebut, dan
tanggapan pengguna terhadap respons perpustakaan; dst. Hal ini berguna
untuk perpustakaan membangun hubungan dengan penggunanya secara
individual dan mengantisipasi kebutuhannya.
Dengan demikian, perpustakaan menjadi terintegrasi dengan kegiatan penggunanya.
Hal ini pada akhirnya akan meningkatkan kebutuhan, kepuasan, dan kepercayaan
pengguna akan perpustakaan, serta kemitraan di antara mereka.
Gedung
Meskipun tingkat penambahan koleksi tercetak tidak akan sebanyak dahulu, hal ini tidak
berarti perpustakaan memerlukan ruang yang lebih kecil. Ruang yang lebih banyak
perlu disediakan untuk training information skills, peralatan komputer untuk one-stop
service, peralatan digitalisasi, ruang pengembangan bahan multimedia yang dibutuhkan
pengguna, ruang pertemuan, ruang-ruang untuk menggunakan komputer pribadi, dsb.
C. TRANSFORMASI PUSTAKAWAN
Sebetulnya yang paling memerlukan dan yang harus pertama kali melakukan
transformasi di era pengetahuan ini adalah para pustakawan. Adding value, manajemen
pengetahuan, information literacy training, multi-fungsi, dsb.; semuanya ini memerlukan
kemampuan yang lebih dari sekedar pengetahuan dan ketrampilan di bidang TI dan
bidang-bidang pengetahuan yang digeluti pengguna. Yang terlebih diperlukan adalah
kemampuan untuk melihat dan bekerja seperti ’kupu-kupu di padang bunga
pengetahuan” atau ’petani di kebunnya’. Ini adalah kemampuan untuk melihat dan
memanfaatkan (tepatnya mensinergikan) pelbagai potensi TI dan pengetahuan untuk
sebanyak mungkin peningkatan kuantitas dan kualitas siklus pengetahuan. Ini
merupakan kemampuan melihat ’di atas rata-rata pengguna’ dan kreativitas. Karena itu
sebetulnya daftar pekerjaan baru perpustakaan tidak pernah berakhir, dan semuanya
berpusat pada memfasilitasi pemanfaatan dan pengembangan pengetahuan.
Berikut ini adalah kutipan tentang pustakawan yang dibutuhkan di era digital ini:
“Holistic librarians with a broad range of competencies and skills are an emerging
prerequisite in academic libraries, especially in technology-oriented roles.” (Dupuis &
Ryan (2002, h5),
.
“New librarians will come from other backgrounds, and the emphasis will be on
leadership, connectivity, innovation and creativity – making new and powerful
connections increasingly on an individual basis between people and their knowledge
needs.” (Kempster, 1999, h.201).
PENUTUP
Kemajuan ICT yang memudahkan dan mempercepat kegiatan pengetahuan mulai dari
penciptaan sampai penciptaan kembali pengetahuan, menyebabkan perpustakaan
perlu melakukan transformasi dari penjaga ke penambah nilai pada perpustakaan dan
informasi, dari koleksi tercetak ke digital, dari pemain pasif ke peserta aktif dan dinamis
dalam penciptaan pengetahuan pengguna, dari manajemen informasi ke manajemen
pengetahuan, dari training library skills ke information skills.
Hal ini memerlukan transformasi pustakawannya terlebih dahulu. Transformasi
pustakawan ini terutama menyangkut perluasan pandangannya mengenai posisi dan
peranannya dalam peningkatan nilai informasi dan sumber-sumbernya secara terusmenerus,
proaktif, dan kreatif. Tentu saja ini memerlukan komitmen bukan hanya dari
pustakawan, tetapi terutama juga dari pimpinan tertinggi di organisasi induk.
DAFTAR PUSTAKA
Bundy, Alan (2001). The 21st century profession: objects, values, responsibilities.
Paper delivered at CPD seminar ALIA Qld Branch 20 June 2001. Ditelusuri tanggal
28 Juli 2004 dari http://www.library.unisa.edu.au/about/papers/21century.htm
Danabalan, Hon Dato’ V. (1999). “Knowledge Economy and Knowledge Society -
Challenge and Opportunities for Human Resource Management”, Buletin JPA Online.
Ditelusuri tanggal 31 Juli 2004 dari
http://www.jpa.gov.my/buletinjpa/bil2/knowledge_economy_and_knowledge_.htm.
Diao, Ai Lien (2003). Perubahan perpustakaan perguruan tinggi dan kebutuhan
akan tenaga baru. Makalah yang dipresentasikan di Musyawarah Kerja Nasional II dan
Seminar Ilmiah Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi Indonesia (FPPTI), yang
diselenggarakan pada tanggal 16-18 September 2003 di Pusat Studi Jepang Universitas
Indonesia, Depok.
Dupuis, J. & Ryan, P. (2002). Bridging the two cultures: a collaborative approach to
managing electronic resources. Issues in Science and Technology Librarianship,
spring.
Kempster, G. (1999). Dawning of the age: the horizon for powerful people-centred
libraries. Dalam S. Criddle, L. Dempsey, dan R. Heseltine (eds.) Information
landscapes for a learning society: networking and the future of libraries 3. An
international conference held at the university of bath, 29 june-1 july 1998 (199-
204). London: Library Association Publishing.
Skyrme, David (2002). Ten ways to add value to your business. Ditelusuri pada
tanggal 29 Juli 2004 dari http://www.skyrme.com/pubs/tenways.htm.

Mengapa Kemiskinan di Indonesia Menjadi Masalah Berkelanjutan?

Mengapa Kemiskinan di Indonesia Menjadi Masalah Berkelanjutan?

SEJAK awal kemerdekaan, bangsa Indonesia telah mempunyai perhatian besar terhadap terciptanya masyarakat yang adil dan makmur sebagaimana termuat dalam alinea keempat Undang-Undang Dasar 1945. Program-program pembangunan yang dilaksanakan selama ini juga selalu memberikan perhatian besar terhadap upaya pengentasan kemiskinan karena pada dasarnya pembangunan yang dilakukan bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Meskipun demikian, masalah kemiskinan sampai saat ini terus-menerus menjadi masalah yang berkepanjangan.

PADA umumnya, partai-partai peserta Pemilihan Umum (Pemilu) 2004 juga mencantumkan program pengentasan kemiskinan sebagai program utama dalam platform mereka. Pada masa Orde Baru, walaupun mengalami pertumbuhan ekonomi cukup tinggi, yaitu rata-rata sebesar 7,5 persen selama tahun 1970-1996, penduduk miskin di Indonesia tetap tinggi.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), persentase penduduk miskin di Indonesia tahun 1996 masih sangat tinggi, yaitu sebesar 17,5 persen atau 34,5 juta orang. Hal ini bertolak belakang dengan pandangan banyak ekonom yang menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi yang tinggi dapat meningkatkan pendapatan masyarakat dan pada akhirnya mengurangi penduduk miskin.

Perhatian pemerintah terhadap pengentasan kemiskinan pada pemerintahan reformasi terlihat lebih besar lagi setelah terjadinya krisis ekonomi pada pertengahan tahun 1997. Meskipun demikian, berdasarkan penghitungan BPS, persentase penduduk miskin di Indonesia sampai tahun 2003 masih tetap tinggi, sebesar 17,4 persen, dengan jumlah penduduk yang lebih besar, yaitu 37,4 juta orang.

Bahkan, berdasarkan angka Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) pada tahun 2001, persentase keluarga miskin (keluarga prasejahtera dan sejahtera I) pada 2001 mencapai 52,07 persen, atau lebih dari separuh jumlah keluarga di Indonesia. Angka- angka ini mengindikasikan bahwa program-program penanggulangan kemiskinan selama ini belum berhasil mengatasi masalah kemiskinan di Indonesia.

Penyebab kegagalan

Pada dasarnya ada dua faktor penting yang dapat menyebabkan kegagalan program penanggulangan kemiskinan di Indonesia. Pertama, program- program penanggulangan kemiskinan selama ini cenderung berfokus pada upaya penyaluran bantuan sosial untuk orang miskin.Hal itu, antara lain, berupa beras untuk rakyat miskin dan program jaring pengaman sosial (JPS) untuk orang miskin. Upaya seperti ini akan sulit menyelesaikan persoalan kemiskinan yang ada karena sifat bantuan tidaklah untuk pemberdayaan, bahkan dapat menimbulkan ketergantungan.

Program-program bantuan yang berorientasi pada kedermawanan pemerintah ini justru dapat memperburuk moral dan perilaku masyarakat miskin. Program bantuan untuk orang miskin seharusnya lebih difokuskan untuk menumbuhkan budaya ekonomi produktif dan mampu membebaskan ketergantungan penduduk yang bersifat permanen. Di lain pihak, program-program bantuan sosial ini juga dapat menimbulkan korupsi dalam penyalurannya.

Alangkah lebih baik apabila dana-dana bantuan tersebut langsung digunakan untuk peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM), seperti dibebaskannya biaya sekolah, seperti sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP), serta dibebaskannya biaya- biaya pengobatan di pusat kesehatan masyarakat (puskesmas).

Faktor kedua yang dapat mengakibatkan gagalnya program penanggulangan kemiskinan adalah kurangnya pemahaman berbagai pihak tentang penyebab kemiskinan itu sendiri sehingga program-program pembangunan yang ada tidak didasarkan pada isu-isu kemiskinan, yang penyebabnya berbeda-beda secara lokal.

Sebagaimana diketahui, data dan informasi yang digunakan untuk program-program penanggulangan kemiskinan selama ini adalah data makro hasil Survei Sosial dan Ekonomi Nasional (Susenas) oleh BPS dan data mikro hasil pendaftaran keluarga prasejahtera dan sejahtera I oleh BKKBN.

Kedua data ini pada dasarnya ditujukan untuk kepentingan perencanaan nasional yang sentralistik, dengan asumsi yang menekankan pada keseragaman dan fokus pada indikator dampak. Pada kenyataannya, data dan informasi seperti ini tidak akan dapat mencerminkan tingkat keragaman dan kompleksitas yang ada di Indonesia sebagai negara besar yang mencakup banyak wilayah yang sangat berbeda, baik dari segi ekologi, organisasi sosial, sifat budaya, maupun bentuk ekonomi yang berlaku secara lokal.

Bisa saja terjadi bahwa angka-angka kemiskinan tersebut tidak realistis untuk kepentingan lokal, dan bahkan bisa membingungkan pemimpin lokal (pemerintah kabupaten/kota). Sebagai contoh adalah kasus yang terjadi di Kabupaten Sumba Timur. Pemerintah Kabupaten Sumba Timur merasa kesulitan dalam menyalurkan beras untuk orang miskin karena adanya dua angka kemiskinan yang sangat berbeda antara BPS dan BKKBN pada waktu itu.

Di satu pihak angka kemiskinan Sumba Timur yang dihasilkan BPS pada tahun 1999 adalah 27 persen, sementara angka kemiskinan (keluarga prasejahtera dan sejahtera I) yang dihasilkan BKKBN pada tahun yang sama mencapai 84 persen. Kedua angka ini cukup menyulitkan pemerintah dalam menyalurkan bantuan-bantuan karena data yang digunakan untuk target sasaran rumah tangga adalah data BKKBN, sementara alokasi bantuan didasarkan pada angka BPS.

Secara konseptual, data makro yang dihitung BPS selama ini dengan pendekatan kebutuhan dasar (basic needs approach) pada dasarnya (walaupun belum sempurna) dapat digunakan untuk memantau perkembangan serta perbandingan penduduk miskin antardaerah. Namun, data makro tersebut mempunyai keterbatasan karena hanya bersifat indikator dampak yang dapat digunakan untuk target sasaran geografis, tetapi tidak dapat digunakan untuk target sasaran individu rumah tangga atau keluarga miskin. Untuk target sasaran rumah tangga miskin, diperlukan data mikro yang dapat menjelaskan penyebab kemiskinan secara lokal, bukan secara agregat seperti melalui model-model ekonometrik.

Untuk data mikro, beberapa lembaga pemerintah telah berusaha mengumpulkan data keluarga atau rumah tangga miskin secara lengkap, antara lain data keluarga prasejahtera dan sejahtera I oleh BKKBN dan data rumah tangga miskin oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan, dan Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Meski demikian, indikator- indikator yang dihasilkan masih terbatas pada identifikasi rumah tangga. Di samping itu, indikator-indikator tersebut selain tidak bisa menjelaskan penyebab kemiskinan, juga masih bersifat sentralistik dan seragam-tidak dikembangkan dari kondisi akar rumput dan belum tentu mewakili keutuhan sistem sosial yang spesifik-lokal.

Strategi ke depan

Berkaitan dengan penerapan otonomi daerah sejak tahun 2001, data dan informasi kemiskinan yang ada sekarang perlu dicermati lebih lanjut, terutama terhadap manfaatnya untuk perencanaan lokal.

Strategi untuk mengatasi krisis kemiskinan tidak dapat lagi dilihat dari satu dimensi saja (pendekatan ekonomi), tetapi memerlukan diagnosa yang lengkap dan menyeluruh (sistemik) terhadap semua aspek yang menyebabkan kemiskinan secara lokal.

Data dan informasi kemiskinan yang akurat dan tepat sasaran sangat diperlukan untuk memastikan keberhasilan pelaksanaan serta pencapaian tujuan atau sasaran dari kebijakan dan program penanggulangan kemiskinan, baik di tingkat nasional, tingkat kabupaten/kota, maupun di tingkat komunitas.

Masalah utama yang muncul sehubungan dengan data mikro sekarang ini adalah, selain data tersebut belum tentu relevan untuk kondisi daerah atau komunitas, data tersebut juga hanya dapat digunakan sebagai indikator dampak dan belum mencakup indikator-indikator yang dapat menjelaskan akar penyebab kemiskinan di suatu daerah atau komunitas.

Dalam proses pengambilan keputusan diperlukan adanya indikator-indikator yang realistis yang dapat diterjemahkan ke dalam berbagai kebijakan dan program yang perlu dilaksanakan untuk penanggulangan kemiskinan. Indikator tersebut harus sensitif terhadap fenomena-fenomena kemiskinan atau kesejahteraan individu, keluarga, unit-unit sosial yang lebih besar, dan wilayah.

Kajian secara ilmiah terhadap berbagai fenomena yang berkaitan dengan kemiskinan, seperti faktor penyebab proses terjadinya kemiskinan atau pemiskinan dan indikator-indikator dalam pemahaman gejala kemiskinan serta akibat-akibat dari kemiskinan itu sendiri, perlu dilakukan. Oleh karena itu, pemerintah kabupaten/kota dengan dibantu para peneliti perlu mengembangkan sendiri sistem pemantauan kemiskinan di daerahnya, khususnya dalam era otonomi daerah sekarang. Para peneliti tersebut tidak hanya dibatasi pada disiplin ilmu ekonomi, tetapi juga disiplin ilmu sosiologi, ilmu antropologi, dan lainnya.

Belum memadai

Ukuran-ukuran kemiskinan yang dirancang di pusat belum sepenuhnya memadai dalam upaya pengentasan kemiskinan secara operasional di daerah. Sebaliknya, informasi-informasi yang dihasilkan dari pusat tersebut dapat menjadikan kebijakan salah arah karena data tersebut tidak dapat mengidentifikasikan kemiskinan sebenarnya yang terjadi di tingkat daerah yang lebih kecil. Oleh karena itu, di samping data kemiskinan makro yang diperlukan dalam sistem statistik nasional, perlu juga diperoleh data kemiskinan (mikro) yang spesifik daerah. Namun, sistem statistik yang dikumpulkan secara lokal tersebut perlu diintegrasikan dengan sistem statistik nasional sehingga keterbandingan antarwilayah, khususnya keterbandingan antarkabupaten dan provinsi dapat tetap terjaga.

Dalam membangun suatu sistem pengelolaan informasi yang berguna untuk kebijakan pembangunan kesejahteraan daerah, perlu adanya komitmen dari pemerintah daerah dalam penyediaan dana secara berkelanjutan. Dengan adanya dana daerah untuk pengelolaan data dan informasi kemiskinan, pemerintah daerah diharapkan dapat mengurangi pemborosan dana dalam pembangunan sebagai akibat dari kebijakan yang salah arah, dan sebaliknya membantu mempercepat proses pembangunan melalui kebijakan dan program yang lebih tepat dalam pembangunan.

Keuntungan yang diperoleh dari ketersediaan data dan informasi statistik tersebut bahkan bisa jauh lebih besar dari biaya yang diperlukan untuk kegiatan-kegiatan pengumpulan data tersebut. Selain itu, perlu adanya koordinasi dan kerja sama antara pihak-pihak yang berkepentingan (stakeholder), baik lokal maupun nasional atau internasional, agar penyaluran dana dan bantuan yang diberikan ke masyarakat miskin tepat sasaran dan tidak tumpang tindih.

Ketersediaan informasi tidak selalu akan membantu dalam pengambilan keputusan apabila pengambil keputusan tersebut kurang memahami makna atau arti dari informasi itu. Hal ini dapat disebabkan oleh kurangnya kemampuan teknis dari pemimpin daerah dalam hal penggunaan informasi untuk manajemen.

Sebagai wujud dari pemanfaatan informasi untuk proses pengambilan keputusan dalam kaitannya dengan pembangunan di daerah, diusulkan agar dilakukan pemberdayaan pemerintah daerah, instansi terkait, perguruan tinggi dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) dalam pemanfaatan informasi untuk kebijakan program.

Kegiatan ini dimaksudkan agar para pengambil keputusan, baik pemerintah daerah, dinas-dinas pemerintahan terkait, perguruan tinggi, dan para LSM, dapat menggali informasi yang tepat serta menggunakannya secara tepat untuk membuat kebijakan dan melaksanakan program pembangunan yang sesuai.

Pemerintah daerah perlu membangun sistem pengelolaan informasi yang menghasilkan segala bentuk informasi untuk keperluan pembuatan kebijakan dan pelaksanaan program pembangunan yang sesuai. Perlu pembentukan tim teknis yang dapat menyarankan dan melihat pengembangan sistem pengelolaan informasi yang spesifik daerah. Pembentukan tim teknis ini diharapkan mencakup pemerintah daerah dan instansi terkait, pihak perguruan tinggi, dan peneliti lokal maupun nasional, agar secara kontinu dapat dikembangkan sistem pengelolaan informasi yang spesifik daerah.

Berkaitan dengan hal tersebut, perlu disadari bahwa walaupun kebutuhan sistem pengumpulan data yang didesain, diadministrasikan, dianalisis, dan didanai pusat masih penting dan perlu dipertahankan, sudah saatnya dikembangkan pula mekanisme pengumpulan data untuk kebutuhan komunitas dan kabupaten.

Mekanisme pengumpulan data ini harus berbiaya rendah, berkelanjutan, dapat dipercaya, dan mampu secara cepat merefleksikan keberagaman pola pertumbuhan ekonomi dan pergerakan sosial budaya di antara komunitas pedesaan dan kota, serta kompromi ekologi yang meningkat.

Hamonangan Ritonga Kepala Subdit pada Direktorat Analisis Statistik, Badan Pusat Statistik

Sumber: http://www.kompas.com/kompas-cetak/0402/10/ekonomi/847162.htm

Selasa, 09 Juni 2009

Pemanfaatan Teknologi Informasi Sebagai Media Dakwah, Bisnis, dan Pengembangan Budaya Dipresentasikan di PUSTENA SALMAN ITB

1
Pemanfaatan Teknologi
Informasi Sebagai
Media Dakwah, Bisnis,
dan Pengembangan
Budaya
Dipresentasikan di
PUSTENA SALMAN ITB
Oleh: Budi Rahardjo
Sumber Daya Telematika Indonesia, pt
GPL 2001, Sumber Daya Telematika Indonesia
Definisi Teknologi
Informasi
­ Jika ada information technology,
semestinya ada information science
­ Apa beda “science” dan “technology”?
– Teknologi menggunakan science sebagai
basisnya
– Ideal vs adanya batasan (waktu, budget,
kemampuan)
– Teknologi berhubungan dengan nilai
ekonomis
2
GPL 2001, Sumber Daya Telematika Indonesia
Informasi Sebagai
Komoditi
­ Benarkah informasi bisa dikomoditikan?
– Informasi tentang bank yang dilikuidasi,
rush bank tersebut
– Surat kabar, majalah, TV:
jualan informasi
– Dakwah: menyebarkan informasi
– Bisnis: berbasis informasi
– Pengembangan Budaya: pertukaran
informasi
GPL 2001, Sumber Daya Telematika Indonesia
Internet: implementasi
IT
­ Internet merupakan salah satu bentuk
nyata implementasi dari Information
Technology
­ Yang membuat Internet istimewa:
skala besar
– Cakupannya yang luas: seluruh dunia
– Harganya yang relatif murah
– Tidak ada yang mengontrol: anarki?
3
GPL 2001, Sumber Daya Telematika Indonesia
Penggunaan IT
­ Kemampuan menggunakan produk IT
adalah esensial
­ Adakah di antara anda yang tidak
dapat menggunakan telepon?
Tak lama lagi …
­ Adakah di antara anda yang tidak
dapat menggunakan email?
GPL 2001, Sumber Daya Telematika Indonesia
Internet: Media
Dakwah
­ Sudah dikenal sejak lama. Bahkan
orang Indonesia termasuk pelopor
penggunaan Internet untuk dakwah:
ISNET.org
­ Diskusi melalui mailing list, IRC,
“Negeri Isnet” MUD
­ Web untuk menyebarkan informasi
dan tempat belajar
4
GPL 2001, Sumber Daya Telematika Indonesia
Internet: Media
Penipuan
­ Internet juga dapat digunakan sebagai
tempat untuk menjerumuskan orang
dengan informasi yang menyesatkan
­ Pandai-pandai memilah informasi
GPL 2001, Sumber Daya Telematika Indonesia
Internet: media bisnis
­ Sudah terlalu banyak diulas di
berbagai publikasi
­ E-commerce, e-business, dan
berbagai e- lainnya
­ New Economy: ekonomi berbasis
Internet?
­ “Brick and mortar” menjadi “click and
mortar”
5
GPL 2001, Sumber Daya Telematika Indonesia
Internet:
Pengembangan Budaya
­ Melestarikan budaya: informasi
mengenai sejarah, benda-benda
bersejarah
­ Sejarah komputer & internet
berbahasa Indonesia
http://ensiklomedia.insan.co.id
­ Timbul budaya baru? Budaya online?
Banyak menulis? Budaya kerja keras?
GPL 2001, Sumber Daya Telematika Indonesia
Penutup
­ Teknologi itu netral. Dapat dibuat
untuk kebaikan dan kejahatan
­ Penguasaan Teknologi Informasi
sangat esensial dalam kehidupan
masa kini

Senin, 01 Juni 2009

Tenaga Perpustakaan di JABAR masih minim

Pemerintah Kota Bandung kekurangan banyak tenaga pustakawan dan perpustakaan. Saat ini baru ada 78 perpustakaan tingkat kelurahan di 1 2 kecamatan. Adapun pustakawan yang mengelola tak lebih dari 3-5 orang per perputakaan.


Wali Kota Bandung Dada Rosada menjelaskan, idealnya satu perpustakaan dikelola oleh 10 orang. Jumlah perpustakaan kami juga masih kurang. Tahun 2014 kami targetkan semua kelurahan yang jumlahnya 151 itu sudah memiliki perpustakaan.

"Idealnya, satu warga memiliki minimal lima judul buku," ujarnya sesuai peresmian Kantor Perpustakaan dan Arsip Daerah Kota Bandung , Senin (25/5).

Kepala Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Provinsi Jawa Barat Dedi Junaedi mengakui, sejak tahun 2002 sampai 2009 baru berdiri 244 perpustakaan di desa dan kelurahan di Jabar. Dia menergetkan tahun 2014 sudah ada perpustakaan di 5.700 desa dan kelurahan di Jabar.

"Satu perpustakaan minimal memiliki 1.000 buku. Kami juga bekerja sama dengan mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) dalam melatih para calon pustakawan di desa dan kelurahan," ujarnya.

Tenaga Perpustakaan Masih Belum memadai

Sumber Kompas 2 Juni 2009

Direktur Tenaga Kependidikan Departemen Pendidikan Nasional Surya Dharma mengatakan, Kamis (28/5), ketersediaan tenaga perpustakaan masih terbatas. Baru terdapat 221 tenaga fungsional pustakawan di sekolah-sekolah yang telah memiliki perpustakaan. Saat ini, sekitar 16.000 sekolah sudah memiliki perpustakaan yang memenuhi standar.

Tenaga fungsional pustakawan berlatar belakang minimal diploma dua di bidang perpustakaan. Selebihnya, tenaga perpustakaan merupakan guru, petugas administrasi, atau tenaga lain di sekolah.

Direktur Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan Depdiknas Baedhowi mengatakan, tidak dapat dipungkiri, perpustakaan memiliki peranan penting dalam usaha peningkatan mutu pembelajaran di sekolah. Namun, diakui, pemerintah belum dapat berbuat maksimal.

Secara umum, belum semua sekolah memiliki perpustakaan dan tenaga perpustakaan. Ketidakcukupan ini menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan semua pemangku kepentingan sekolah. Demikian dikatakannya.

Dalam usaha mewujudkan kecukupan buku wajib, pemerintah telah berusaha keras memenuhinya antara lain dengan menaikkan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS), termasuk untuk BOS buku. Pemerintah juga telah membeli hak paten buku dengan tujuan agar ketersediaan buku murah di sekolah dapat diwujudkan.

perpustakaan terbesar di Indonesia

Sumber : Kompas 2 Juni 2009

Indonesia bakal memiliki perpustakaan termodern, terbesar dan terindah di dunia yang akan berlokasi Universitas Indonesia (UI) Depok di areal seluas 2,5 hektar. Pihak Rektorat UI dalam siaran persnya di Jakarta, Sabtu (30/5), menyebutkan, gedung perpustakaan yang memiliki luas bangunan 30.000 m2 serta terdiri atas delapan lantai yang pemancangan tiang perdana akan dilakukan Senin (1/6) ditargetkan pembangunnya selesai pada Desember 2009.

Deputy Director Corporate Communications UI Devie Rahmawati menyatakan, proyek yang merupakan pengembangan dari perpustakaan pusat yang dibangun tahun 1986-1987 itu didanai oleh pemerintah dan industri dengan anggaran sekitar Rp 100 miliar. Gedung perpustakaan tersebut dirancang dengan konsep "sustainable building" yang mana kebutuhan energi menggunakan sumber terbarukan yakni energi matahari (solar energy) selain itu di dalam gedung tidak diperbolehkan menggunakan plastik.

Area baru tersebut bebas asap rokok, hijau serta hemat listrik, air dan kertas hingga hal inilah yang menjadikan sebagai perpustkaan terbesar, termodern dan terindah di dunia. erpustakaan pusat UI tersebut akan mampu menampung sekitar 10.000 pengunjung dalam waktu bersamaan atau sekitar 20.000 orang per hari selain itu juga akan menampung 3-5 juta judul buku.

Sistem ICT mutakhir juga akan melengkapi perpustakaan tersebut sehingga memungkinkan pengunjung leluasa menikmati sumber informasi elektronik seperti e-book, e-journal dan lain-lain. Sedangkan perpaduan gaya arsitektur yang unik serta lokasi perpustakaan di tepian danau Kenanga UI yang ditumbuhi pepohonan besar berusia 30 tahun akan merupakan keindahan bagi perpustakaan tersebut.

Selasa, 19 Mei 2009

Isu-isu Terkini Guru dalam Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi

Isu-isu Terkini Guru dalam Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi

I. PENDAHULUHAN
A. Latar Belakang Masalah
Kini teknnologi informasi dan komunikasi (TIK) sudah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat Indonesia. Walaupun pada umumnya berada pada tataran konsumen atau pemakai, namun keadaannya masih kalah jauh dari negara-negara tetangga, tetapi Indonesia tidak luput dari pengaruh kemajuan teknologi informasi dan komunikasi. Beberapa jenjang sekolah, khususnya pada tingkat sekolah menengah atas (SLTA) dan sekolah menengah pertama (SLTP) dan sederajat, termasuk juga sebagian kecil sekolah dasar, kini para siswa telah diberi sebuah mata pelajaran yang berhubugan dengan teknologi informasi dan komunikasi, sehingga diharapkan para siswa setidaknya sudah tidak asing dalam penggunaan teknologi informasi dan komunikasi, dan kalah pentingnya adalah guru dalam pemanfaatan TIK dalam proses pembelajaran dan kegiatan lain.

Kini beberapa sekolah telah menerapkan pengajaran dan pembelajaran yang menggunakan rangkaian elektronik (LAN, Internet dan lainnya) untuk menyampaikan isi materi yang diajarkan. Komputer, internet, intranet, satelit, tape/video, TV interaktif dan CD ROM adalah bagian media elektronik yang dimaksudkan dalam kategori ini. Komponen yang tak kalah penting dalam pemanfaatan TIK dalam proses pembelajaran adalah para guru yang mengajar pada sekolah dalam berbagai jenjang.

Guru yang merupakan salah satu bagian terpenting dalam proses pembelajaran di sekolah sebenarnya memerlukan berbagai piranti dalam mengoptimalkan pemanfaatan TIK dan Komunikasi in untuk mendukung kemampunnya yang diperlukan khususnya dalam operasional perangkat TIK tersebut. Berbagai hasil penelitian menunjukkan kini masih banyak guru yang masih gagap dalam pemakian komputer dalam mengakses informasi dan pemanfaatannya dalam proses pembelajaran.

Perkembangan TIK dewasa ini ibarat embun dipagi hari, sering dalam tidur lelap kita tidak menyadari bahwa keesokan paginya telah ditemukan penemuan baru yang sangat penting bagi sejarah manusia. Lagi-lagi kita hanya mengiyakan penemuan itu tanpa harus berupaya menguasainya, lebih parah jika hanya cukup dengan keadaan yang ada tanpa adanya usaha apapun dalam merespon perkem-bangan ini.

Keharusan guru dalam mendorong dan mendukung siswa kearah kreatif pemanfaatan TIK mutlak dilaksanakan. Untuk itu peranan guru sangat dibutuhkan demi keseimbangan penguasaan dan pengemasan informasi yang bakal dihadapkan dan disajikan kepada siswanya. Karena ada kemungkinanan siswa telah memahami lebih jauh satu persoalan dari pada gurunya. Berangkat dari hal tersebut nampaknya kita harus ingat sebuah pesan Nabi Muhammad SAW ”ajarilah anak-anakmu sesuai dengan jamanya dan bukan jaman mu”.

Kondisi guru yang sebagaian besar masih belum optimal, bahkan masih banyak yang belum dapat memanfaatkan kemajuan TIK atau dengan perkataan lain masih gagap, kondisi ini perlu dicari penyebabnya dan solusi yang terbaik, khususnya bagi para penentu kebijakan pendidikan. Tulisan ini akan menggali dari berbagai artikel, hasil penelitian, pengakuan, berita, makalah, pandangan dan berbagai ide yang diambil dan diolah atau dianalisa yang bersunber dari informasi yang diambil dari internet. Data sekunder atau berbagai data dan informasi dari internet tersebut hasil tulisan dari berbagai website dari berbagai kota diseluruh Indonesia, dan jumlah sampel kurang lebih 40 (empat puluh) tulisan.

Hasil analisa dalam tulisan ini diharapkan dapat mendapat gambaran yang jelas sehingga diperoleh pemahaman yang benar mengenai kondisi guru kaitannya dalam pemamfaatan TIK dalam proses pembelajaran dan juga dalam kegiatan lain yang meliputi: (1) sarana-prasarana, fasilitas, dan perangkat; (2) kebijakan pimpinan sekolah dan pimpinan lembaga terkait; (3) kemampuan dan kecakapan dalam pemanfaatan TIK; (4) pendidikan dan pelatihan, kursus yang telah dimiliki guru; dan (5) berbagai kendala yang dialami para guru dalam pemanfaatan TIK. Para penentu kebijakan pendidikan seharusnya sangat berkepentingan atas berbagai informasi tentang kondisi guru dalam pemanfaatan TIK dalam proses pembelajaran dan kegiatan lain, mengingat otoritas yang dimiliknya dapat mengubah kondisi yang baik menjadi kondisi yang lebih baik. Sementara guru dengan informasi ini dapat menempatkan dan mengkondisikan dirinya sesegera mungkin untuk beradaptasi, paling tidak mengubah sikap dan perilaku untuk berkembang ke arah yang lebih baik.

B. Rumusan Masalah
Berbagai masalah yang ada pada latar bekang di atas, penulis akan merumuskan masalah yang akan dibahas dalam tulisan adalah:
1. Sejauh mana ketersediaan sarana dan prarana, fasilitas, dan perangkat dalam mendukung pemanfaatan TIK bagi guru?
2. Seberapa tinggi tingkat penguasan dan kecakapan guru dalam penggunaan atau pemanfaatan TIK bagi guru?
3. Kebijakan dan upaya apa saja yang telah dilakukan oleh pimpinan sekolah dan pimpinan instansi terkait dalam penentukan kebijakan untuk mendukung pe-manfaatan TIK bagi guru?
4. Pendidikan dan pelatihan apa saja yang telah dilakukan guru dalam meningkat-kan kemampuan pemanfaatan TIK dalam proses pembelajaran?
5. Faktor-faktor apa yang menjadi kendala guru dalam pemanfaatan TIK?

II. PEMBAHASAN
Membicarakan Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) oleh para guru dalam proses pembelajaran di sekolah tidak lepas dari berbagai unsur yang saling terkait sata sama lain, yaitu; 1) sarana, prasarana, dan perangkat yang tersedia; 2) tingkat penguasaan guru dalam pemanfaatan TIK; 3) kebijakan pimpinan dalam mendukung pemanfaatan TIK; 4) pendidikan dan pelatihan para guru; dan 5) kendala-kendala guru dalam penggunaan TIK. Kelima unsur yang terkait ini diuraikan per bagian dengan maksud nantinya diperoleh penjelasan, dan pada akhirnya diharapkan diperoleh pemahaman yang benar.

A. Sarana dan prasarana, falitas, dan perangkat pendukung pemanfaatan TIK
Beberapa sekolah kini telah telah memiliki laboratiorium komputer dan internet, khusus sekolah-sekolah yang berlokasi di kota atau tidak jauh dari perkotaan lebih lengkap fasilitas ini dibandingkan dengan sekolah yang berlokasi di pedesaan. Hampir seluruh kota dijumpai sekolah-sekolah yang telah menyediakan fasilitas laboratorium komputer dan internet. Namun dalam pemanfaatan TIK oleh para guru antara sekolah yang satu dengan yang lain tingkatannya sangat beragam, mulai dari yang sederhana sampai ada yang sudah optimal. Kondisi ini dapat dimengerti mengingat tingkat kemajuan sekolah masing-masing berbeda. Contoh konkrit seperti pada SMP Negeri 8 Palembang, dimana fasilitas komputer dan internet telah ada sejak tahun 2006 dan sudah melaksanakan praktek TIK bagi guru dan siswanya sebanyak 360 orang, namun pemanfaatan TIK bagi siswa masih sebatas pada mata pelajaran TIK, dan guru belum memanfaatan TIK dalam proses pengajaran mata pelajaran yang lain. Berbeda dengan sekolah yang ada di Jakarta, SD Negeri 3 Menteng telah menggunakan TIK dalam pembelajaran Sains dan Matematika. Banyak kasus lain tentang keberagaman tingkat pemakaian dan pemanfaatan TIK ini.

Dari data yang ditemukan diperoleh suatu kondisi dimana ada hal ironis dibeberapa daerah tentang fasilitas TIK ini, seperti kondisi yang ada pada Kecamatan Percut Sei Tuan, Medan. Di kecamatan ini ada sekolah dengan lokasi dimana di sana ada BTS (Base Transceiver Station) operator telekomunikasi berdiri megah di areal sekolahan, sementara guru dan siswa yang beraktivitas di sana sekali belum menggunakan atau memanfaatkan kemajuan TIK dalam proses pembelajaran maupun aktivitas lain oleh guru, dan dapat dikatakan para guru masih gagap teknologi (gaptek).

Kasus lain yang menarik di mana dalam suatu daerah masih ada pihak-pihak yang dalam menjalankan bisnisnya tidak begitu proaktif terhadap kemajuan dalam pemanfaatan TIK dalam dunia pendidikan. Seperti kasus yang terjadi di kawasan Deli Serdang, di sana masih ditemui perilaku tidak terpuji yang dilakukan oleh para penjual komputer, salah satunya adalah dengan menjual komputer dengan harga yang terlalu tinggi dan diluar harga kewajaran. Bayangkan ada supplier yang menjual komputer berbasis pentium III dengan harga lima juta rupiah lebih, padahal harga komputer tersebut selayaknya tidak akan lebih dari dua juta lima ratus ribu rupiah. Bisa jadi para suplier ini dalam berbisnis hanya mempertimbang-kan keuntungan belaka, tanpa adanya rasa kepedulian atas kemajuan pemanfaatan TIK di daerah tersebut.

Berkaitan dengan pengmbangn sarana dan prasarna untuk pemanfaatan Tik dalam dunia pendidikan dan kegiatan lain di sekolah, ada juga sebuah departemen yang kurang dalam hal perhatian, seperti yang di sampaikan oleh DH. Al Yusni anggota komisi VIII DPRRI yang melakukan kunjungan di Sulsel. Beliau mengatakan kini Departemen Agama dinilai hanya sigap menyikapi masalah haji, sementara menyangkut pengembangan madrasah terkesan sebelah mata, menurutnya ini sebagai tindakan diskriminatif. Dicontohkan oleh beliau, di Sidrap Sulawesi Selatan, guru-guru madrasah terkesan masih gagap menggunakan komputer, ini akibat minimnya perhatian dari Depag, termasuk kesejahteraan para guru madrasah. Ditambahkan oleh Al Yusni, Depag lebih perhatian pada masalah haji, daripada masalah pendidikan di bawah naungannya, mungkin karena masalah haji lebih banyak mengurusi uangnya.

Lain halnya dengan Depdiknas, dimana departemen yang berkepentingan langusung dengan dunia pendidikan ini telah dan akan mengadakan gebrakan yang berkaitan dengan pemanfaatan TIK dalam proses pembelajaran di sekolah dalam berbagai jenjang pendidikan. Depdiknas tahuan 2008 ini akan mengembangkan Jejaring Pendidikan Nasional. Contoh riil yang telah ada dalam hal ini adalah seperti sarana yang telah ditempatkan di Dinas Pendidikan Kabupaten Toba Samusir. Di sana jaringan internet selain dipakai untuk kebutuhan dinas, jaringan internet juga dibagi-bagi ke beberapa SMP, SMK, dan SMA lewat antena. Bandwidth dari Depdiknas internet ditempatkan di salah satu sekolah sebagai pengelola teknis, dan sekolah tersebut kemudian membaginya ke sekolah lain.

Pada sekolah-sekolah yang telah dibilang lebih maju, dan kebanyakan berlokasi di kawasan perkoataan, selain tersedianya laboratorium komputer dan internet, beberapa sekolah telah melenkapinya sarana lain yang berkaitan dengan proses pembeljaran, yaitu berbagai media elektronik lainnya. Seperti pada kondisi di SMAN 11 Kota Jambi, perangkat untuk pembelajaran kini juga lebih maju, telah tersedia perangkat modern seperti proyektor LCD yang dilengkapi laptop, ada pengeras suara di masing-masing kelas yang kesemuanya dikontrol oleh operator. Di sekolah ini pada setiap jam istirahat diperdengarkan lagu-lagu lewat speaker, dengan cara ini kejenuhan siswa setelah belajar bisa hilang.

Walaupun Depag ada yang mengatakan kurang dalam memberikan perhatian dalam pengembangan sarana TIK di madrasah-madrasah, tetapi di beberapa madrasah di Jawa Timur kondisi sekolah yang telah tersedia sarana komputer dan internet dibilang telah lebih maju. Di beberapa madrasah di Jatim diketahui bahwa jumlah package computer (PC) yang dimiliki di masing-masing madrasah cukup banyak, jumlanya berkisar antara 10 hingga 20 unit.

Ketersediaan sarana TIK sangat berpengaruh kepada guru dalam hal memilih varian sumber pembelajaran yang dipilih. Seperti yang dikemukakan oleh Mohammad Juri, MPd. (Madura, 14 Januari 2008) yang mengatakan ketidak variativan guru dalam memilih sumber belajar, diantaranya disebabkan oleh minimnya pengetahuaan dan kemampuan menggunakan media pembelajaran yang maju seperti penggunaan komputer. Seperti alasan-alasan yang umum disampaikan oleh para guru, misalnya tidak ada fasilitas komputer di sekolah, fasilitas yang tidak lengkap dikarenakan tidak dana untuk pengadaan, dan terlebih-lebih sikap guru yang kurang pro aktif dalam menghadapi kemajuan ICT.

Peran pengusana swasta dan BUMN sangat penting dalam mendukung dan memberikan suport dalam dunia pendidikan kaitannya dengan pengembangan TIK dalam dunia pendidikan. Contoh konkrit dunia bisnis yang peduli terhadap kemajuan pendidikan adalah seperti yang dinyatakan oleh Dekan FKIP UNRI Riau Drs. Isjoni, MSi, menyatakan ada salah satu perusahaan (PT Chevron Pasifik Indonesia) telah memberikan bantuan 15 unit komputer yang dilengkapi fasilitas internet ke instansinya untuk pelatihan para guru di Riau, khususnya guru yang masih menenputh kuiah di UNRI. Menurutnya semua guru diharapkan bisa belajar mengembangkan diri untuk menguasai teknologi, jangan sampai terjadi gagap teknologi, jangan sampai murid yang yang mengajari guru guru membuka internet.

B. Penguasaan Pemakaian Dalam Pemanfaatan TIK Bagi Guru
Dalam berbagai hasil penelitian dan tulisan mensinyalir ada sekitar 70 s/d 90% guru dalam pemanfaatan kemajuan TIK dalam proses pembelajaran dan kegiatan lain dianggap masih gagap teknologi. Jika kondisi ini benar demikian, alangkah menyedihkan dan bahkan menyakitkan, betapa tidak, sebab di tengah didengungkannya pembelajaran interaktif (e-learning) yang juga harus melibatkan guru-gurunya dalam bidang studi apapun, alangkah ironis kalau gurunya sendiri tidak pernah sedikitpun menjamah teknologi informasi yang kini telah merambah kesemua sisi kehidupan manusia atau dengan kata lain sudah mendunia.

Berbagai pernyataan para pejabat yang berwenang dalam dunia pendidikan menyatakan kondisi guru yang masih memprihatinkan dalam hal menggunakan komputer, apalagi internet. Seperpti yang dinyatakan oleh Manuntun Sagala dari Dinas Pendidikan Kabupaten Toba Samosir, guru kini banyak yang tidak fasih menggunakan komputer, apalagi internet. Para guru menggunakan komputer sekedar untuk mengetik dengan MS Word itupun tidak paham semua fasilitas di program itu, apalagi mendengar Email, Browsing web, dan lainnya guru merasa asing.
Kondisi guru yang gagap TIK tidak hanya didominasi oleh para guru di luar pulau Jawa, seperti yang ditemukan di kasus Jawa Timur, di sana sebagian besar guru-guru yang mengajar di madrasah sangat sedikit yang memanfaakan komputer apalagi internet. Pada umumnya guru baru mampu menggunakan komputer hanya sebatas keperluan administrasi baik kepentingan kantor maupun kepentingan penyusunan PAK (Penetapan Angka Kredit) dalam kaitannya dengan kenaikan pangkat jabatan fungsional guru. Di Jatim ebagian besar guru belum terbiasa menggunaan internet baik untuk proses pembelajaran maupun kegiatan sosial lainnya.

Beberapa pakar TIK menyatakan bahwa sebenarnya manusia, termasuk guru mempunyai potensi kecakapan dalam hal penggunaan komputer dan internet dalam pemanfaatan TIK dalam proses pembelajaran dan kegiatan lainnya. Salah pakar tersebut menyatakan tersebut adalah Ersis Wirmansyah Abbas dari UNLAM, Banjarmasin, mengatakan bahwa kita oleh Alloh SWT batok kepala manusia berisi satu milyar sel saraf (neuron), setiap neuron aktif bisa berkoneksi dua puluh ribu, jadi orang (termasuk guru) jangan lagi self-image bodoh, karena pada hakekatnya kita semua adalah born to be a genius. Ini yang menggambarkan betapa guru-guru merasa kurang pede dalam penggunaan dan pemanfaatan TIK dalam proses pembelajaran maupun dalan kehidupan sosialnya. Ini dapat dimaklumi banyak guru masih gagap TIK dimungkinankan karena sudah tua, dan merasa sudah tidak perlu lagi belajar yang canggih, kadang bahkan menyerahkan hal ini kepada pada guru yang masih yunior. Ini mengingatkan kepada para instruktur pelatihan komputer dan TIK bagi para guru dalam penyampaiannya harus lebih pada praktek daripad teori.

PR IV UNNES Semarang, Prof. Fathur Rohkman mengatakan sekitar 60 % guru SD, SMP dan SMA belum familiar dengan komputer, terutama pendidika yang ada di pelosok dan pedesaan. Menurutnya dari pelatihan guru yang pernah diselenggarakan di UNNES, masih banyak guru yang belum tahu menggunakan mouse, padahal hampir semua kegiatan saat ini tidak bisa lepas dari komputer termasuk di bidang pendidikan. Dalam kesempatan yang sama Dr. Supriadi Rustad, PR I UNNES mengatakan, Indonesia baru sampai level applying menuju transforming, karena ICT masih dijadikan sebagai mata pelajaran dengan dimasukkannya ke dalam kurikulum sekolah. Masyarakat dikatakan pada levev integrating bila ICT untuk proses pembelajaran, sementara level transforming biada ICT untuk transformasi pendidikan.

Bagian yang sedikit dalam prosentase yang sudah maju dalam pemanfaatan TIK dalam proses pembelajaran memang telah ada di kota-kota besar, seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Yogyakarta, Medan dan lainnya. Seperti yang ada pada salah satu di SD di Jakarta yaitu tepatnya di SDN Menteng 3, dimana setiap hari Rabu, murid 4A mendapat jatah untuk belajar di ruang laptop. Selama murid belajar dengan menggunakan laptop, proses belajar menjadi sangat efektif, tidak perlu mencatat materi pelajaran dari papan tulis, karena sudah tersistem pada laptop masing-masing. Murid tidak bosan, dan merasa senang karena banyak gambar menarik khususnya pelajaran sains. Setelah belajar Metematika dan IPA, boleh main game, buka internet dan kirim email. Game di sini masih ada hubungannnya dengan pelajaran.

Menurut pengakuan adari salah satu guru di SDN Menteng 3, Harry Pujianto mengaku mengajar dengan menggunakan laptop sangat menantang, menimbulkan rasa ingin tahu, dapat membedakan keberhasilan pembelajaran menggunakan laptop dibandingkan dengan pembelajaran menggunakan cara konvesional. Murid lebih menyukai pelajaran Matematika dan IPA. Kondisi ini sangat berlainan pada kondisi umumnya dimana siswa biasanya merasa takut dan tidak pede terhadap mata pelajaran yang berbau eksakta, atau pelajaran yang melibatkan hitung-menghitung, dan juga mata pelajaran yang menggunakan praktek dalam laboratorium seperti pembelajaran sains.

C. Kebijakan dan Upaya Pimpinan dalam Mendukung Pemanfaatan TIK
Kadang sebuah penghargaan maupun sertifikai bukan merupakan tujuan yang akan dicapai oleh sebuah lembaga sekolahan, tetapi penghargaan maupun sertifikai yang diterima dapat menjadi pendorong atau motivasi dalam pemanfaatan TIK oleh para guru, disamping sebagai kebanggaan akan identitas sebuah sekolah yang mempunyai keunggulan dalam berkompetitif dalam dunia pendidikan. Beberapa institusi atau lembaga baik provit maupun nonprovit dirasa perlu memberikan berbagai penghargaan stratafikasi untuk mendorong dan memacu sekolah untuk terus mengembangkan potensinya, khususnya dalam hal pemanfaatan TIK dalam proses pembelajaran yang melibatkan para guru yang terlibat langsung. Dilapangan ditemukan perusaan bisnis BUMN telah memberikan berbagai sertifikai yaitu PT Telkom, seperti yang terjadi pada sekolah yang telah berhasil dalam prestasi khusus, sekolah tersebut telah mendapatkan sertifikai, seperti SMP Negeri 8 Palembang sebagai sekolah bebas buta internet.

Peran pimpinan atau kepala sekolah sangat penting dalam memajukan sekolah, khususnya penguasaan para guru dalam pemanfaatan TIK. Pimpinan yang tidak sigap dalam adaptasi dengan perkembangan teknologi dapat mengakibatkan kebijakan yang menjadikan guru gagap teknologi, padahal ini bisa jadi mengakibatkan hilangnya daya tarik dalam proses belajar. Terlebih dalam era informasi ini, tanpa adanya kemauan untuk mengerti, menggunakan, dan mengakses bidang yang relevan dengan keilmuannya maka fungsi guru sebagai fasilitator perkembangan ilmu akan tereduksi yang lama-lama bisa jadi hilang, sehingga yang ada hanyalah guru yang miskin informasi.

Para kepala sekolah yang mempunyai komitmen terhadap kemajuan sekolahnya pasti melakukan langkah-langkah konkrit dalam memajukan guru dalam pemanfaatan TIK dalam pembelajaran. Di sekolah-sekolah yang berada di wilayah perkotaan lebih mudah dikembangkan daripada di pedesaan yang saran dan prasaranya kadang belum lengkap atau tersedia. Di SMAN 11 Kota Jambi misalnya, kepala sekolah dalam menerapkan dan menyambut serbuan beragam teknologi informasi, adalah dengan membekali para guru dengan kursus komputer dan internet, tidak hanya guru yang mengajar di labaratorium komputer saja yang harus mengerti perangakat tersebut, tetapi guru-guru bidang lain harus mengikuti. Kondisi ini diyakini berlaku pada sekolah-sekolah lain di tanah air ini.

Kebijakan yang kita acungi jempol adalah kepada Depdiknas, dimana departemen ini akan mempercepat pengadaan sarana TIK pada berbagai jenjang sekolah dengan akan meluncurkan anggaran 1 triliun pada tahun 2008 ini, gebrakan ini dilakukan dengan membangun berbagai pusat sumber atau resource center di sekolah-sekolah. Kebijakan Depdiknas ini seperti yang diungkap oleh Lilik Gani dari staff Depdiknas. Kita akan menunggu realisasi dari kebijakan ini, jika benar adanya harapan akan tanda-tanda keseriusan pemerintah memajukan dunia pendidikan akan terwujud, khususnya bidang TIK di dalam dunia pendidikan.

Beberapa sekolah sebenarnya telah proaktif dalam menyiapkan sarana, dengan kebijakan tertentu, sekolah dapat meluncurkan program maupun memulai aksi nyata. Seperti kini beberapa sekolah di kota Solo, mulai dan telah melaunching sarana laboratorium komputer multimedia untuk menyongsong era TIK dalam pendidikan dan telah menyiapan guru-gurunya dalam penggunaan atau pemanfaatannya pada pembelajaran, dan pada akhirnya akan menentukan program ini akan berjalan baik atau tidak.

Gebrakan kebijakan tidak cukup hanya pada tingkat dinas pendidikan, tetapi para kepala daerah baik itu gubernur ataupun bupati atau walikota harus mau dan sanggup mengeluarkan kebijakan yang signifikan dalam mamajukan dunia pendidikan khususnya dalam pemanfaatan TIK ini. Seperti pada pemda Tanah Datar, Sumbar, telah meluncurukan programnya yaitu untuk melengkapi fasilitas komputer di sekolah-sekolah, maka dilaksanakan program One School One Computer Laboratorium (OSOL) satu sekolah satu laboratorium komputer. Melalui progam ini diharapkan guru maupun siswa tidak gagap teknologi, khususnya dalam penguasaan ketrampilan komputer sebagai ciri kemajuan suatu masyarakat.
Kebijakan pemerintah juga dipertegas oleh Menko kesra, beliau mengatakan bahwa pemerintah pada tahuan ini akan mengalokasikan dana dari APBN sebesar 2 triliun untuk program satu komputer bagi 20 siswa di tingkat SMP dan SMA di seluruh Indonesia. Menurutnya sampai saat ini untuk murid SMA baru 1 banding 1000, ini belum komputer yang dapat dimanfaatkan oleh para guru.

Menurut Ari Kristianawati (Sinarharapan, 29 April 2008), para guru tidak hanya gagap dalam beradaptasi denagan kemajuan ilmu pengetahuan, mereka juga terjebak dalam kebiasaan menjadi robot kurikulum pendidikan, sehingga prakarsa dan inisiatif para guru untuk belajar menggali metode, bahanajar dan pola relasi belajar mengajar yang baru sangat minimalis. Rendahnya mutu atau kapabilitas guru di Indonesia, disebabkan pertama, faktor strutural, selama orba guru dijadikan bemper politik Golkar, agen pemenangan melalui Korpri dan PGRI. Kedua, kuatnya politik pendidikan, mengontrol arah dan sistem pendidikan membaut apara guru seperti root yang dipenjara melalui tugas-tugas kedinasan yang stagnan. Ketiga, rendahnya tingkat kesejahteraan guru, ini membuat mereka tidak bisa optimal dalam menjalankan fungsi dan tugasnya, dan selalu mengurusi keluarga.

Dra. Rosmawati, MPd, Kepala SMPN 2 Dumai, menyatakan di institusinya telah dikembangkan rintisan sekolah bertaraf interasional (SBI) dengan menerapkan program bilingual dalam praktek belajar mengajar di sekolah. Khusus untuk guru mata pelajaran sains dan matematika, pemberian materi dengan menggunakan bahasa inggris, disamping itu guru diwajibkan menguasai pemanfaatan ITC.

D. Pendidikan, Pelatihan, Praktek Pemanfaatan TIK
Kebutuhan akan kemampuan para guru dalam pemanfaatan TIK dalam proses pembelajaran telah direspon sangat positi oleh beberapa ekolah. Kenyataan dilapangan ditemukan bahwa beberapa sekolah telah memberikan pelatihan dan atau mengirikan para guru menginkuti pelatihan komputer dan internet. Ini dilakukan oleh pimpinan sekolah dengan maksud agar para guru tidak gagap terhadap pemakaian komputer dalam pemanfaatan TIK. Seperti yang telah terjadi dan dilakukan oleh SMP Negeri 8 Palembang, tidak hanya guru pemegang mata pelajaran TIK yang dikirim mengikuti pendidikan pemanfaatan TIK, tetapi semua guru mata pelajaran juga dikirim untuk mengikuti pendidikan maupun pelatihan atau kursus.

Walaupun fasilitas internet sudah ada, guru-guru telah dikirim untuk mengikuti pelatihan dan kursus komputer dan internet, namun dilapangan ditemukan adanya kendala. Misalnya saja di beberapa sekolah di Kabupaten Toba Samosir, guru tidak dapat mengoptimalkan pemakaiannya, mengingat tidak adanya staf TI khusus yang ahli, sehingga berbagai kelemahan dalam penggunaan sarana TI oleh guru tidak ada sumber untuk bertanya. Ada kasus yang dirasa lucu, dimana guru menyuruh siswa ke warnet untuk belajar email, dan setelah siswa tersebut dapat menggunakannya, guru belajar pada muridnya.

Peran lembaga atau institusi dilura sekolah juga sangat diperlukan dalam andilnya dalam memajukan dunia pendikan dasar dan menengah. Mereka yang peduli telah turut aktif memberikan kemampuan para guru dalam menggunakan komputer maupun internet, seperti pada Jurusan Teknik Informatika FTI-ITS Surabaya telah mengadakan workshop pemrograman bagi 53 guru dari 12 madrasah dari 3 kota di Jatim. Menurut pemrakarsa kegiatan ini, ke depan para guru madrasah di Jatim tidak gagap teknologi lagi, karena mereka telah dilatih untuk mengaplikasikan piranti lunak (software) pembelajaran berbasis multimedia yang diharapkan dapat membantu mengembangkan pola pembelajaran bagi siswanya.

Tidak ketinggalan apa yang dilakukan oleh Pemda Kabupaten Merauke Papua, daerah paling timur wilayah Indoneisa ini telah mengadakan petihan komputer bagi guru-guru dan PNS walaupun materi masih dalam taraf tingakat dasar. Materi yang disajikan adalah mengenai aplikasi perkantorlan (word, excel, powerpoint, dan internet). Ini menunjukkan bahwa sebenarnya greget dari berbagai penentuk kebijakan di daerah dalam memajukan pendidikan dengan cara memajukan guru dalam kemampuan pemanfaatanTIK cukup baik.

Tidak hanya pelatihan praktis dan teknis dalam menndorong guru mau memanfaakan TIK yang ada dalam pembelajaran, tetapi kegiatan yang sifatnya mendorong dan memotivasi guru juga perlu diadakan secara terus menerus. Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Jatim misalnya, lembaga ini telah mengadakan workshop Penelitian Tindakan Kelas bagi 150 guru di kabupaten Pasuruan, Jatim. Workshop ini dimaksudkan agar semangat para guru untuk menulis dan membaca lebih terpacu, semangat itulah yang akan otomatis mendorong guru bersinggungan dengan pemanfaatan TI, tukasnya.

Peran perguruan tinggi sebagai gudangnya para pakar dan ahli sudah selayaknya peduli atas usaha kemajua diinginkan oleh para guru. Seperti yang dilakukan UNILA Lampung, Drs. Rudi Ruswandi, Msi, Ketua Jurusan Matematika UNILA, Lampung menyatakan, institusinya telah menyelenggarkan pelatihan jejaring pendidikan nasional (jardiknas) se kota Bandar Lampung yang diikuti oleh 78 kepala sekolah. Para peserta diharapkan dapat mengambil manfaat dan kedepannya dapat melaksanakan program sekolah yang sinergis dengan jardiknas, juga dimaksudkan agar para guru dan kepala sekolah jangan sampai gagap teknologi dan tidak mampu memanfaatkan TIK.

E. Kendala Guru Dalam Penggunaan dan Pemanfaatan TIK
Beberapa kendala yang dihadapi guru dalam pemanfaatan TIK adalah adanya kendala internal, seperti kesibukan jam mengajar di berbagai tempat, maupun kendala eksternal seperti ketersediaan akses internet dan waktu pelatihan sendiri.

Kendala internal dan eksternal tersebut sebenarnya hanyalah sebuah ”pembenaran” untuk tidak melakukan hal-hal yang dibutuhkan. Artinya, berpatokan pada peribahasa ”dimana ada kemauan disitu ada jalan” kita memang harus mempersiapkan diri menyongsong era baru dalam berkomunikasi dengan berbagai informasi yang ada.

Menurut Bona Simanjuntak, Aktivis Jaringan Informasi Sekolah (JIS), di salah satu kecataman di Deli Serdang, internet dan komputer menjadi barang yang terlalu mahal dan langka. Ia dan rekannya telah menggelar training on trainers (TOT) bagi guru-guru di kawasan sekolah kejuruan (SMK), dimana rasio komputer dengan siswa di daerah tersebut mencapai 1:100, artinya satu komputer untuk melayani kebutuhan 100 guru.
Ada guru-guru di Deli Serdang terpaksa mengajar komputer dengan imajinasi dan penjelasan verbal saja, kendala ini disebabkan oleh tidak adanya fasilitas komputer sungguhan untuk digunakan siswa, padahal belajar komputer lebih efektif melalui praktek.

Menurut Drs. Isjoni Ishaq, dekan FKIP UNRI Riau, kendala para guru dalam penggunaan komputer dan TIK adalah ketidakmampuan guru dalam berbahasa inggris, dimana bahasa inggris sangat dominan dipakai dalam pengoperasional komputer dan TIK. Hal ini ditekankan mengingat guru punya andil besar dalam mencerdaskan anak bangsa.

Beberapa siswa di Surabaya mengaku merasa lebih lihai (pandai) dalam hal penggunaan telepon seluler, ini terbukti dalam berbagai rasia yang dilakukan oleh sekolah terhadap gambar porno maupun video porno yang ada di ponsel siswa, ternyata banyak yang lolos, tak terdeteksi, mengingat guru banyak yang tidak pengalaman dalam hal pemakaian ponsel yang canggih daripada siswanya. Mungkin ini disebabkan oleh daya beli guru terhadap model HP lebih rendah dari pada orang tua siswa dalam beberapa kasus. Ini sebenarnya kendala yang yang tidak kentara bagi guru dalam hal pemanfaatan TIK kaitannya dengan penggunaan ponsel oleh siswa.

Menurt Doni B.U., Msi., kini telah ada kesenjangan digital sebagai isu science fiction semata yang diciptkan oleh sekelompok ekslusif manusia pemuja teknologi informasi, atau ada menyebut sebagai digital divide. Menurutnya kesenjangan digital akhirnya hanya dipahami sebagai gap antara pemilik/ pengguna teknologi (the haves) dan mereka yang tidak memiliki atau mengunakan teknologi. Kaum the have diyakini sebagai pihak pertama yang mengada-ada adanya istilah kesenjangan teknologi yang mengkontraskan kelompok kedua. Hal ini bisa menimbulkan rasa pesimistik bagi para guru dalam penggunaan dan pemanfaatan TIK.

Baskoro, dari Lembaga Pendidikan Kolose Kanisius mengatakan bahwa guru kadang dituntut agar cepat beradaptasi dengan misi dan visi institusi yang menurut pemahamannya terlalu berat bagi guru, karena tidak memulai dari tahapan yang tepat dalam peningkatan penguasaan penggunaan TIK bagi guru, sementara tuntutan dan target sekolah ke jenjang nasional, bahkan internasional sebagai hal yang kontradiktif.

Agus Nasihin, pebisnis komputer, mengatakan bahwa sekarang guru dihadapkan peda bayangan bahwa mengunakan komputer dapat mempermudah keperluan hidup, sementara pada sisi lain dimunculkan isu bahwa penggunaan koomputer adalah sebagai apresiasi penghargaan terhadap para genius man yan membuat komputer itu sendiri. Ini kedengaran lucu memang, ada orang mengatakan menggunakan komputer itu identik sebagai bentuk menglarisi produk komputer. Ini gawat, guru bisa pasif dan apatis dalam pemanfaatan TIK.

Masih ada guru yang beranggapan tidak menggunakan komputer dan TIK dalam proses pembelajaran bukan hal mengganggu jalannnya pelajaran, karena guru merasa tidak mendapatkan fasilitas komputer saat mengajar, jadi inilah yang membuat mereka merasa tidak perlu untuk tahu cara menggunakan komputer. Kasus ini terjadi pada guru-guru yang sudah berusia tua, walaupun yang guru yang yunior pun masih ada yang gagap pada kemanjuan TIK.

Menurut Machfud dari Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan Jawa Timur (20 April 2008), dilema yang muncul di lapangan, dari berbagai upaya yang telah dilaksanakan untuk membantu para guru mengenala TIK, terganjal di tengah jalan, penyebabnya adalah; 1) takut akan kesalahan yang diperbuat, sehingga dapat mengakibatkan kerusakan media; 2) merasa usianya sudah tua, sehingga kurang bermanfaat bagi dirinya; 3) kurang memahami bahasa teknik TI (bahasa inggris); 4) banyaknya rutinitas di luar pelajaran TIK.

Menurut Gunawan (Jawa Pos, 26 Januari 2008), di lapangan tenaga pendidik hanya banyak disuguhi berbagai diklat, pelatihan dengan materi yang berkisar pada kurikulum, pakem (contextual learning), MBS (manajemen berbasis sekolah) dan materi lain yang berhubungan langsung dengan tugas guru di kelas. Jarang ada pelatihan guru yang bersifat pembekalan tentang suatu ketrampilan atau keahlian khusus, misalnya aplikasi TIK, padahal pelatihan seperti ini tidak kalah penting dan bermanfaat bagi guru, terutama guru yang masih gagap teknologi. Menurutnya ada beberapa faktor yang menjadikan para guru masih gagap TIK, pertama, Lokasi, bagi guru yang mengajar di daerah terpencil, teknologi canggih seperti komputer bukanlah sesuatu yang urgen untuk dikuasai karena kebutuhan untuk menggunakan sangat rendah. kedua, kesadaran yang asih rendah mengenai mengenari ati penting teknologi untuk menunjang profesi guru dalam menyelesaikan tugas, Ketiga, tidak adanya eksempatan dan peluang untuk bisa lebih dekat dengan teknologi canggih.

Menurut TH Aribowo, Guru SMKN 3 Banjarbaru, Kalsel (Radar Banjarmasin. 28 Maret 2008) faktor penghambat guru dalam memanfaatkan ICT adalah pertama, ketidakadanya komputer baik laptop maupun PC sehingga dirasa masih belum seimbang peralatan yang disediakan di sekolah sementara komputer pribadi belum punya. Kedua, adalah faktor penghampat yang ada hubungannya dengan rasa malas karena tidak adanya waktu untuk mempelajari. Ini terjadi karena guru yang baik dan benar harus menguasai 10 kompetensi guru, waktu 24 jam masih kurang karena banyaknya kewajiban yang hrus dipenuhi.

Sumber :http://www.sunarnomip.staff.ugm.ac.id/index.php?option=com_content&task=view&id=13&Itemid=26#CommentForm